Kategori
Pengetahuan

Menghitung Harga Jual

Berwirausaha atau memulai usaha akan timbul pertanyaan dari mana Saya harus memulai? Bagi orang yang belum pernah melakukan usaha kemudian bergerak dalam dunia usaha pasti mengalami kebingungan. Membahas tentang usaha tentunya tidak lepas dengan istilah entrepreneur. Seorang entrepreneur adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru dan memasarkannya serta mengatur pemodalan operasinya . Memulai dalam berusaha harus siap berisiko kegagalan. tetapi harus yakin pada Tujuan untuk membangun mesin uang, meskipun mungkin  tidak memiliki keseluruhan bagian dari yang dibutuhkan. Bisa terjadi kalau ide Anda mungkin saja sebagian salah namun Anda tidak tahu pada bagian mana yang salah. Tidak perlu khawatir, hal ini normal adanya.

Persaingan usaha pakaian  semakin menjamur, bisa jadi Persaingan yang terjadi lebih pada persaingan kualitas produk namun tidak menutup kemungkinan terjadi persaingan harga lebih murah. Hal ini perlu dihindari, namun cobalah untuk membuat harga yang sesuai jangan hanya untuk merebut pasar. Tidak sedikit pelaku usaha masih bingung
dalam menentukan harga jual produknya. Harga jual sangat berkaitan dengan tingkat keuntungan dan tingkat penjualan.

Bagaimana menentukan harga jual? Asumsikan bahwa Anda memiliki usaha konveksi blus. Anda menginginkan laba sebesar 30%, sedangkan dalam satu minggu Anda ingin menjual blus 100 potong dengan rincian biaya bahan pokok dan pelengkap sebagai berikut:

Total Biaya
= Rp 4.780.000 + Rp 300.000
= Rp 5.570.000

Berapa harga jual satu buah blus ? Hal yang perlu diperhatikan saat menghitung total
biaya produksi. Hal ini dapat dihitung dengan cara di bawah ini
Total biaya Rp 5.570.000
Jumlah produksi blus 100 potong

Diketahui Biaya per produk Rp 55.700

Keuntungan yang di inginkan (30% X Rp 55.700)= Rp 16.710
Harga jual = Rp. 55.700,- + Rp. 16.710,- = Rp 72.410

Seandainya harga jual produk Anda terlalu tinggi, mungkin Anda dapat menurunkan besarnya keuntungan yang Anda tetapkan. Perlu Anda perhatikan pula bahwa jumlah produk yang rencananya Anda produksi tersebut, kemungkinan tidak semua blus akan laku terjual. Oleh karena itu Anda juga harus memiliki target minimal produk yang harus terjual. Jika melihat perhitungan di atas, untuk terhindar dari kerugian setidaknya Anda
harus menjual 77 potong blus dengan perhitungan Rp 5.570.000:Rp 72.410 = 77.
Jika anda bisa menjual lebih dari 77 potong maka Anda sudah memperoleh keuntungan sejumlah tertentu dari usaha produksi blus Anda.

Kategori
Pengetahuan

MEMILIH DAN MENGGUNAKAN KAIN MOTIF GARIS DAN KOTAK

Memilih dan menggunakan bahan atau kain bermotif garis dan kotak tidak semudah memilih dan menggunakan kain motif bebas,  motif serak atau motif lainnya. Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dalam penggunaan bahan ataupun kesesuaiannya dengan desain yang kita pilih.

Jenis-jenis bahan bergaris

Dalam penggunaan bahan bergaris terdapat tiga arah utama, misalnya, vertikal (ke arah lebar), horisontal (ke arah panjang) dan garis diagonal.  Arah dapat menghasilkan versi yang seimbang (balanced) atau tidak seimbang (unbalanced). Gambar 1

 

gambar. 1

 

 

 

 

Kotak adalah kombinasi garis yang mungkin dibuat dengan tekstur atau warna yang berbeda dari latar belakangnya.  Cara-cara menangani bahan kotak-kotak sama dengan bahan bergaris.  Gambar 2

Gambar.2.

Garis yang seimbang/sejajar dan garis yang tidak seimbang/sejajar

Pola garis pada bahan/kain merupakan faktor pertimbangan terpenting pada saat membeli dan meletakkan bahan. Garis-garis seperti halnya kotak-kotak dapat seimbang atau tidak seimbang.  Untuk menentukan jenis garis, lipat bahan sepanjang bagian tengah garis yang dominan.  Garis dominan ini biasanya garis yang paling lebar, garis pada bagian tengah rancangan atau garis berwarna paling cerah.  Jika anda mendapatkan kesulitan dalam melakukankannya, lipat bahannya.  Garis yang paling terlihat berarti garis yang dominan.  Lipatlah sudut kain ke belakang (seperti pada gambar). Jika garisnya cocok berarti garis tersebut seimbang. Jika garisnya tidak cocok, berarti garisnya tidak seimbang.  Gambar 3

 

 

                            gambar.3.

Memilih bahan bergaris

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih bahan bergaris.

  1. Pilih jenis bahan bergaris dengan memperhatikan bahwa,
  • garis horisontal cenderung membuat orang terlihat pendek dan
  • garis vertikal membuat orang terlihat tinggi.
  • Garis yang lebih tipis membuat anda terlihat lebih ramping dari pada garis yang tebal, dan
  • garis horisontal akan lebih menekankan pada bagian dada dan pinggul.

Jadi, periksalah dahulu bentuk busana yang ingin dibuat sebelum memilih garis yang tipis, tebal, vertikal dan horisontal.

2. Garis vertikal paralel dengan tepi bahan dan garis horisontal menghampar dari tepi ke tepi pada lebar bahan.  Akan lebih mudah bekerja dengan pola yang lembarannya sedikit karena sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk mencocokkan garis berpola rumit.  Diperlukan kain yang lebih banyak jika membuat busana/pakaian dari bahan bergaris.  Jumlah kain yang dibutuhkan tergantung pada:

  • ukuran pola
  • bentuk garmen
  • jumlah dan ukuran potongan
  • lebar garis (motif)
  • frekuensi pengulangan garis

Jumlah bahan tambahan yang dibutuhkan untuk bahan bergaris berkisar antara 30 – 50 cm.  Dan untuk bahan berkotak diperlukan lebih banyak lagi.

Memilih pola untuk bahan bergaris dan bahan berkotak

Pada saat memilih pola atau model untuk jenis bahan yang bergaris dan bahan berkotak, pilihlah

  • desain yang sederhana dengan jumlah sambungan yang sangat sedikit.
  • Busana berpotongan sedikit yang dibuat dengan garis yang tidak putus, lurus atau bias, akan memberikan hasil yang baik.
  • Hindari rancangan dengan garis princess, kupnat horisontal yang panjang, kerutan melingkar dan rancangan dengan kerutan yang banyak.

Bahan berkotak kecil dapat lebih mudah disesuaikan daripada kotak kotak yang lebar, karenanya dapat dibuat berbagai variasi model.

Bahan berkotak bisa lebih sulit dipotong daripada bahan bergaris, karena kotak terdiri dari garis horisontal dan vertikal.

Hasil akhir busana/pakaian akan dipengaruhi oleh cara pengaturan untuk memotong bahan bergaris dan bahan berkotak.

Mencocokkan garis dan kotak untuk pemotongan

Apabila potongan pola tidak akurat dari awal, maka bahan bergaris atau bahan berkotak tidak cocok/pas saat dilebarkan, sehingga pada saat dijahitpun tidak akan cocok/pas.

Peletakkan pola pada bahan bergaris dan bahan berkotak harus dicocokkan/dipaskan pada garis sambungan, BUKAN pada garis potong.  Pada saat meletakkan bahan, tunggal atau lapis dua, yakinkan bahwa garis dari kedua lapisan itu berada langsung di atasnya.  Untuk menghindari pergeseran, beri pemberat pada bahan atau gunakan jarum pentul.

Letakkan bagian kain yang baik menghadap keatas sehingga motifnya terlihat jelas untuk dapat dicocokkan/dipaskan garis atau kotaknya.

Gambar 4

Mencocokkan lebar belakang, bagian depan dan lengan

gambar.4

Meletakkan pola untuk garis horisontal yang sejajar (seimbang)

Cara meletakkan pola tergantung dari jenis garis yang dipilih.  Garis yang paling mudah untuk diletakkan adalah garis horisontal yang sejajar (balanced).  Perhatikan pada Gambar 5 dibawah ini.

  • Buatlah tanda arah serat di sudut yang tepat pada garis.
  • Mulailah dengan menentukan posisi keliman (gaun, rok atau blus/atasan) pada seluruh lembaran pola yang sesuai, dan beri tanda yang jelas pada pola.
  • Letakkan posisi garis kelim ini pada bagian bawah dari garis paling dominan sebagai langkah awal. Dengan meletakkan garis kelim pada garis dominan, maka berarti garis dominan akan jatuh pada bagian dada dan pinggul, sesuaikan garis kelim sehingga tidak berada pada garis dada dan pinggul.
  • Jika garis kelim mempunyai lengkungan yang jelas, letakkan garis dominan pada bagian tengah belakang atau tengah muka garmen untuk mendapatkan tampilan yang diinginkan.
  • Yakinkan semua pusat sambungan mempunyai garis yang cocok. Jika ada kupnat dada, sambungan samping akan dicocokkan dari garis keliman garmen ke atas hingga posisi kupnat dada. Hal ini akan meyakinkan bahwa hampir semua sambungan pinggir cocok.  Sambungan yang tidak cocok di atas kupnat dada tidak akan terlihat karena terletak pada bagian bawah lengan.  Gambar 6

Jika busana memiliki lengan yang tetap, cocokkan garis-garis pada takik kerung lengan depan dengan takik yang ada ditempat persambungan.  Garis pada bagian kerung lengan belakang tidak selalu cocok.

Cara-cara ini diterapkan pada bahan berkotak-kotak yang seimbang.

Meletakkan bahan pada bahan tekstil bergaris vertikal sejajar

Pada bahan bergaris vertikal yang sejajar,

  1. letakkanlah lembaran pola dengan tanda garis serat sejajar dengan garis.
  2. Letakkan pola tengah muka dan tengah belakang pada garis dominan. Jika pola belakang memiliki keliman tengah belakang, buatlah garis keliman, BUKAN garis potongan, di tengah garis dominan sehingga ketika telah dijahit akan terlihat garis yang tidak patah/menyambung.
  3. Jika ingin garis terlihat menyambung terus pada seluruh pakaian, letakkan garis dominan pada bagian tengah lengan dengan menggunakan puncak bahu sebagai posisi acuan. Gambar 7

Pada rok ‘A-line’, garis vertikal akan membentuk ‘chevron’ (sambungan sudut) pada bagian keliman samping.  Lebar rok akan menentukan sudut dari ‘chevron’.  Letakkan bagian tengah muka rok pada garis dominan lalu cocokkan dengan keliman tepi.  Garis yang dominan mungkin tidak tepat jatuh pada bagian tengah belakang, namun ini tidak terlalu penting dibandingkan dengan mendapatkan ‘chevron’ yang sempurna.  Jika tidak mungkin untuk mencocokkan seluruh bagian, pertimbangkanlah di bagian mana yang terlihat jelas sekali bila tidak cocok.

Prinsip-prinsip ini diterapkan pada bahan berkotak sejajar.

Meletakkan pola pada bahan tekstil bergaris horisontal tidak seimbang

Cara-cara menangani bahan bergaris horisontal tidak seimbang serupa dengan cara penanganan untuk bahan bergaris horisontal sejajar.

  1. Letakkan garis dominan di pinggir bawah garmen, kecuali jika penempatan ini menyebabkan garis dominan berada di posisi yang tidak diinginkan, seperti pada garis dada atau pinggul.
  2. beri tanda posisi keliman pada pola dengan jelas dan sejajarkan dengan garis kasar pada posisi tegak lurus pada garis yang ada pada bahan tekstil.
  3. Perbedaan yang paling penting antara garis sejajar dan tidak seimbang, adalah bahwa semua lembaran pola harus diletakkan pada arah yang sama untuk meyakinkan garis yang tidak seimbang tidak diulangi pada bagian garmen yang lain. Yaitu pada bagian bawah lengan, bagian depan garis keliman, bagian belakang garis keliman, dst, semuanya diletakkan pada arah bagian kanan atau semua diletakkan pada bagian arah kiri.
  4. Untuk pakaian dua-potong misalnya rok dan atasan dari bahan yang sama, semua lembaran pola harus diletakkan pada arah yang sama hingga garis akan terlihat menyambung dari atas sampai bawah. Gambar 8.

Cara-cara ini juga diterapkan pada bahan berkotak tidak seimbang.

Sahabat ontbpwjt.wordpress.com demikian beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam pemilihan dan penggunaan bahan bergaris atau berkotak. Untuk lebih lengkapnya akan penulis sambung pada pos berikutnya.

Semoga bermanfaat, dan terimakasih banyak atas kunjungannya.

 

 

Kategori
Pengetahuan

PENGEMASAN

Assakamu’alaikum……selamat malam sahabat blog http://www.ontbpwjt.wordpress.com, pada posting sebelumnya telah kita bahas mengenai Persiapan Pelabelan dan Pengemasan. Pada pos kali ini kita akan mempelajari tentang pengemasan. Yuk kita pelajari bersama…..

Langkah awal dalam proses pengemasan adalah mengidentifikasi produk yang akan dikemas dan jenis kemasan yang akan dipergunakan. Hal ini dimaksudkan agar kemasan dapat disesuaikan dengan produk, sehingga kemasan tidak merusak produk.

Identifikasi produk dilakukan berdasarkan:

  • ukuran,
  • model,
  • warna,
  • jenis bahan,
  • kualitas produk,
  • harga jual,
  • teknik pendistribusian, dan sebagainya.

Sedangkan identifikasi kemasan dilakukan untuk menyesuaikan ukuran lipatan produk dengan ukuran kemasan dan bahan kemasan. Produk sesuai dengan jenisnya dikemas dengan cara dilipat, atau digantung dan kemudian dimasukkan dalam kemasan. Gantungan dan lipatan produk disesuaikan dengan ukurannya dan ukuran kemasan yang akan digunakan sebagai pembungkusnya. Oleh karena itu dalam proses melipat dibuat pola atau
cetakan yang sesuai dengan ukuran kemasan agar produk dapat ditata dengan rapih dan sesuai kemasannya.

Kemasan produk busana baik bahan maupun ukurannya disesuaikan dengan jenis bahan, model, serta menunjukkan spesifikasi atau ke khasan produsennya. Proses pengemasan dimulai pada saat penyeterikaan atau proses pressing. Pada proses ini produk yang akan dikemas dengan cara digantung, diseterika secara menyeluruh dengan rata, licin, dan tidak membuat lipatan karena produk setelah diseterika langsung digantung.

1. Pengemasan Dengan Cara Digantung
Pada perusahaan atau industri busana besar, dan untuk jenis produk tertentu, penyeterikaan atau pressing untuk busana yang akan dikemas dilakukan dengan cara digantung dan tidak dilipat. Pressing atau penyetrikaan dilakukan dengan menggunakan alat yang menyerupai lemari pakaian (gambar 2.1), produk dimasukkan pada alat pressing tersebut kemudian tinggal mengatuir tombol dan dalam waktu tertentu produkl sudah licin.

00-kemasan-gantungKemudian produk digantung pada hanger, dipasang hang tag dan paper tag, atau atribut lainnya, kemudian dimasukkan dalam kemasan. Contoh hasil pengemasan produk dengan cara digantung dapat dilihat pada gambar 2.2. Setelah produk dikemas kemudian dipak atau dikemas dalam wadah berupa peti atau kotak terbuat dari kayu yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran gantungan, atau dimasukkan langsung ke dalam kontainer.
Langkah kerja pengemasan produk yang harus digantung adalah:

  1. Siapkan kemasan yang ukurannya telah disesuaikan dengan ukuran produk
  2. Masukkan produk pada alat pressing nyalakan tombol dan atur suhu sesuai petunjuk dan jenis bahan
  3. keluarkan produk dari alat pressing
  4. gantung dengan hanger yang sesuai ukurannya
  5. masukkan gantungan produk pada plastik kemasan
  6. gantung pada tempat (hanger) untuk dilanjutkan dengan pemasangan label
  7. masukkan dalam tempat kemasan (kotak besar atau kontainer) dalam posisi
    tetap tergantung.

000

2. Pengemasan Dengan Cara Dilipat
Produk yang dikemas dengan cara dilipat dilakukan pelipatan sesuai dengan ukuran kemasan.

a. Bahan Penunjang
Untuk mendapatkan hasil lipatan yang sama atau sesuai dengan ukuran dan jenis kemasan, digunakan bahan penunjang yang terbuat dari karton atau mika, sehingga hasil pengemasan atau lipatan produk rapih, seperti halnya dalam proses melipat menggunakan cetakan yang terbuat dari karton. Adapun bahan penunjang dalam proses pengepakan adalah:

  • penahan kerah bagian dalam, terbuat dari karton
  • cetakan ukuran lipatan terbuat dari karton (gambar 2.3.)
  • penahan lipatan atau crocodile dalam berbagai jenis dan ukuran (gambar 2.4.)
  • penahan lipatan pakaian terbuat dari karton (gambar 2.5.)
  • penahan kancing dan krah bagian tengah muka, terbuat dari karton atau mika (gambar 2.6.)
  • penahan krah bagian luar terbuat dari karton atau mika yang panjangnya dapat disesuaikan dengan ukuran lingkar leher produk (gambar 2.7)

001

002

003

b. Cara Melipat Pakaian Dalam Pengepakan
1) Strika bagian kerah, lengan, dan bagian muka busana.
2) Strika bagian belakang kemudian letakkan karton cetakan ukuran lipatan pada bagian punggung. Lipat pakaian sesuai dengan cetakan, dan pada saat melipat bagian lengan, gunakan crocodille sebagai penjepit agar letak lipatan lengan tidak berubah (gambar 2.7. a. dan 2.7.b.)

004

3) Lepas cetakan dan pasang karton penahan dengan cara menarik karton cetakan perlahan -lahan dan bersaman dengan itu masukkan perlahan -lahan karton penahan. Setelah karton cetakan terangkat, jepit lipatan bagian belakang dengan crocodille (gambar 3.8.)
4) Pada bagian muka jepitkan crocodille untuk menjepit bagian lipatan ujung lengan lihat gambar gambar 3.9.).

005

5) Kemudian pasang penahan krah, penahan kancing untuk model -model tertentu yang memerlukan penahan pada bagian krah dan kancing tengah muka atas.
6) Pilah dan kelompokkan produk yang telah dilipat dan tumpukkan sesuai dengan ukuran dan model (gambar 3.10).

006

7) pasang hang tag dan paper tag, serta atribut lain yang ingin ditempel pada produk, kemudian masukkan dalam kemasan sesuai dengan yang telah ditetapkan (plastik, kotak, atau kemasan lainnya) lihat gambar 3.11. Contoh hasil kemasan produk busana yang dilipat dapat dilihat pada gambar 3.12.

007

008

3. Pengepakan
Setelah produk dikemas, kemudian dipilah-pilah dan dikelompokan sesuai dengan ukuran, warna, dan jenis kemasannya. Setelah dikelompokkan, kemudian disusun dalam ukuran yang sama untuk satuan tertentu (lusin atau kodi) dengan memperhatikan seri warna. Sebagai contoh: produksi kemeja dibuat untuk ukuran S,M,L dari bahan katun dengan warna merah, biru, kuning, dan hijau. Maka kemasan disusun secara seri untuk satu kodi (20 buah) terdiri dari: warna merah, biru, kuning, dan hi jau masing-masing 5 buah dalam ukuran yang sama (S saja, M saja, dan sebagainya).
Setelah produk disusun dan dikelompokan secara seri, maka langkah selanjutnya adalah menyusun kemasan dengan rapih dalam satu wadah yakni dos karton tebal yang ukurannya tel ah disesuaikan dengan ukuran kemasan produk. Kemasan harus ditata rapih agar tidak terlipat atau terjepit yang dapat menjadikan produk tampak kusut. Untuk menyusun produk kemasan dimasukan dalam dos, kemudian kardus ditutup rapat (di lak).
Setelah produk disusun dalam kemasan satuan tertentu, maka selanjutnya adalah menyusun kardos-kardos tersebut dalam kotak atau kardus yang lebih besar lagi, untuk memudahkan dalam penyimpanan atau pendistribusian dan
kepentingan pemasaran.

Demikian …telah kita pelajari tentang pengemasan, semoga mudah dimengerti dan dipahami dan semoga bermanfaat sebagai penunjang belajar sahabat blog.

Terimakasih bagi Anda yang telah berkunjung di blog saya, mohon saran dan kritiknya untuk perbaikan blog saya yg masih dalam taraf belajar.

Kategori
Pengetahuan

PERSIAPAN PEMOTONGAN BAHAN

Pemotongan bahan adalah proses yang sangat menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan busana, apabila terdapat kesalahan pada saat pemotongan bahan bisa berakibat kegagalan dalam proses pembuatan busana sesuai pesanan atau desain. Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dipersiapkan sebelum melakukan pemotongan bahan busana. yuk kita simak penjelasan di bawah ini….

Informasi penting tentang bahan tekstil dan bahan lainnya

Bahan tekstil yang akan kita potong memiliki banyak perbedaan antara jenis bahan yang satu dengan jenis bahan yang lainnya, agar tidak terjadi kesalahan pada saat menggunting bahan kita harus mengetahui tentang bahan tekstil tersebut. Salah satunya adalah tentang arah serat bahan. Ada 3 golongan bahan menurut arah seratnya, yaitu :

  1. Dua arah, lain arah atau bahan tekstil yang simetris

Bahan tekstil ini dapat diletakkan berhadapan satu sama lain kearah mana saja tanpa mempengaruhi hasil akhir garmen.  Ini memungkinkan bahan tekstil diletakkan pada kedua arah di meja potong.

Harus diperhatikan juga perihal bagian bahan yang baik dan buruk.

  1. Satu arah atau bahan tekstil yang tidak simetris

Bahan tekstil ini harus diletakkan dengan tumpukan yang menghadap pada satu arah, apakah seluruhnya menghadap satu arah atau seluruhnya menghadap ke arah yang lain.  Pola hanya dapat diletakkan pada satu arah, tidak dapat pada kedua arah.

Bahan tekstil ini termasuk juga bahan yang berbulu, bahan yang dirajut dimana benang vertikalnya menghadap ke arah yang sama dan bahan tekstil yang mempunyai desain khusus.

  1. Hanya satu arah

Bahan tekstil ini harus diletakkan dengan seluruh lembarannya menghadap arah yang sama polanya juga harus menghadap ke arah yang sama.

Bahan tekstil yang termasuk kelompok ini yang mempunyai bulu lebat dan yang mempunyai desain khusus.

 Menyiapkan untuk peletakan bahan

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebelum melakukan peletakkan pola pada bahan, yaitu :

  1. Jenis dan lebar bahan tekstil yang akan digunakan harus diperiksa pada semua instruksi pada lembar kerja.
  2. Meja potong kira-kira harus setinggi pinggang dan mempunyai panjang yang cukup untuk menempatkan perkiraan panjang bahan tekstil yang akan diletakkan.
  3. Semua peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan harus dikumpulkan sebelum memulai dan diperiksa apakah layak untuk digunakan.
  4. Area kerja, termasuk lantai harus bebas gangguan, bersih dan siap untuk digunakan.

Meletakkan lembaran bahan

Pada saat meletakkan atau menggelar bahan lakukan dengan cara yang benar sebagai berikut :

  • Lebarkan/gelar bahan tekstil di atas meja potong sesuai panjang yang dikehendaki dan lakukan ini dua kali, dan jika perlu, dapat dilakukan berulang kali untuk beberapa potong busana.
  • Periksa tegangan bahan pada setiap lembaran untuk memastikan tidak ada panjang yang tidak sama, atau bahan berkerut dalam lembaran.
  • Bagian pinggir bahan tekstil harus lurus dan setiap lapisan pinggirannya harus tumpang tindih secara tepat dan paralel sampai pinggiran meja potong.
  • Identifikasi kerusakan pada bahan, lalu beri tanda sebagai pertimbangan dalam peletakkan pola pada kain

Demikian beberapa hal penting yang harus kita ketahui dan kita lakukan dalam persiapan pemotongan bahan, semoga bermanfaat.

 

Kategori
Pengetahuan Tak Berkategori

Terminologi yang digunakan pada Pemotongan Bahan ( Cutting )

  1. Serat, Alur serat kain mengarah ke arah yang sama seperti halnya benang yang paralel menuju ke pinggiran bahan.
  2. Interlock join, Jumlah lembaran yang diperlukan pada saat membuka gulungan yang baru atau membuang bagian yang rusak untuk meyakinkan kelengkapan lembaran telah dipotong.
  3. Meletakkan bahan atau melebarkan, Hal yang dilakukan untuk mendapatkan lembaran.
  4. Serat pendek di permukaan bahan, Serat-serat pendek pada bagian permukaan bahan tekstil seperti beludru.
  5. LembarSatu lembar bahan tekstil.
  6. Perkiraan sebelum penentuan, Panjang maksimum bahan tekstil yang dibutuhkan untuk garmen yang akan dibuat.
  7. Pinggiran bahan, Pinggiran bahan kecil yang dirajut rapat pada kedua sisi bagian lebar bahan tekstil.
  8. Shades, Variasi warna bahan tekstil dari hasil celupan yang jumlahnya berbeda namun dengan warna yang sama.
  9. Meja potong, Meja panjang dengan bagian atas meja setinggi pinggang untuk meletakkan dan memotong bahan menjadi bagian komponen yang siap untuk digabungkan.
  10. Penahan kain (End catcher or end guide rail), Balok berat, dirancang untuk menahan bagian ujung bahan tekstil dan menjaganya agar tidak bergerak pada saat lembaran berikutnya diletakkan.
  11. Lapisan      , Jumlah lembaran kain yang diletakkan berlapis-lapis sehingga dapat dipotong satu kali jalan.
  12. Penataan   , Pengaturan lembaran pola pada marker pemotong.
  13. Marker, Marker dapat berupa kertas marker atau lembaran pola yang digambar langsung pada bagian atas bahan tekstil.  Biasanya dilakukan dengan menggunakan kapur jahit.  Lembaran pola diatur agar penggunaan kain lebih hemat dan memudahkan pemotongan secara efisien.
  14. Torehan (Notch), Potongan berbentuk lurus atau ‘V’ di pinggir bahan tekstil untuk menandai lembaran-lembaran yang harus disambung atau pada bagian keliman yang perlu disesuaikan selama membuat garmen.
  15. Notching, Kegiatan memotong atau membuat cekris pada lembaran yang dipotong pada posisi yang sesuai.
  16. Bahan yang dipintal (Woven fabrics), Merupakan bahan tekstil yang mempunyai benang lungsin dan pakan dipintal menggunakan alat pemintal.  Dapat dibuat dari serat alami, sintetis atau serat campuran dan benang campuran.
  17. Bahan tekstil yang tidak dipintal (Non-woven fabrics), Bahan tekstil yang tidak dipintal seperti bahan tekstil yang dibuat dari bahan kimia, biasanya digunakan untuk lapisan atau pengeras, misalnya viselin.
  18. Kerusakan, Kerusakan yang ditemukan oleh tukang potong pada marker atau tumpukan bahan termasuk: – Tidak semua lembaran yang perlu dipotong diberi tanda pada marker, – Marker tidak sama lebar dengan bahan/kain. – Panjang tumpukan bahan tidak sama dengan panjang marker
  19. Pemotongan bahan tunggal, Memotong bahan sebagai contoh untuk komponen atau seluruh garmen, biasanya tidak lebih dari empat lembar bahan, dengan menggunakan gunting sebagai alat pemotong.
  20. Jepitan, Alat yang dirancang untuk menjepit lembaran kain sehingga dapat dipindahkan dan dipotong dengan mudah.
  21. Garis potongan, Garis yang digambar pada marker untuk memberi tanda bagian bahan tekstil yang akan dipotong.
  22. Gunting, Alat pemotong dengan tangan yang memiliki dua buah mata pisau yang digabungkan dengan mur dan baut, dirancang untuk memotong satu lembar atau beberapa lembar bahan tekstil sekaligus.
  23. Pemberat, Balok besi dengan atau tanpa pegangan, terdapat dalam beragam ukuran berguna untuk menahan bahan tekstil saat dipotong.

Peralatan dan perlengkapan lain yang dibutuhkan:

  • Kapur tulis atau pensil
  • Peniti
  • Pita meteran
  • Pelubang untuk posisi kupnat
  • Potongan pola atau marker
  • Tiket identifikasi kerja

Demikian terminologi dalam pemotongan bahan ( Cutting ), semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kalian. Terimakasih atas kunjungannya di blog http://www.0ntbpwjt.wordpress.com.

 


Kategori
Pengetahuan

KERUSAKAN KECIL PADA MESIN JAHIT

Sangat mengesalkan jika saat sedang asyik menjahit tiba-tiba hasil jahitan kita menjadi kurang bagus hanya dikarenakan mesin jahit kita yang mengalami masalah. Terlebih apabila kita baru belajar menjahit, hal-hal tersebut bisa menurunkan semangat menjahit kita yang tadinya berapi-api menjadi pudar.
Berikut beberapa informasi mengenai 6 kerusakan yang biasa terjadi pada mesin jahit dan bagaimana cara mempebaikinya.

Benang jahitan atas sering putus.

Penyebab gangguan : pertama karena benang jahit menyangkut akibat menjahit dengan arah yang salah (putaran kebalik).  Penyebab kedua memasang jarum terlalu kebawah menyebabkan ketegangan benang terlalu besar dan mudah putus. Penyebab ketiga benang terlalu kasar atau terlalu halus, tidak sesuai dengan jenis kain yang dijahit, serasikan antara benang dan kain yang dijahit, serta nomer jarumnya.

Solusi:
  1. Pastikan putaran roda mesin tidak terbalik meski hanya sebentar (beberapa putaran)
  2. Pastikan posisi jarum mesin jahit sudah tepat pada tempatnya, tidak terlalu tinggi tidak terlalu rendah.
  3. Sesuaikan nomor benang dan nomor jarum sesuai dengan kain yang dijahit.

Benang jahit bawah sering putus

Penyebab gangguan : benang bawah digulung pada spul/kumparan dengan tidak rapi, tegangan benang pada sekoci terlalu besar, atau putaran benang bawah kebalik (seharusnya putaran kumparan benang berlawanan arah jarum jam), atau sebab lain jalur benang tidak sempurna melewati rumah sekoci.
Solusi:
  1. Periksa pemasangan spul benang pada sekoci, bila benang ditarik pastikan arah putaran spul berlawanan arah jarum jam
  2. Pastikan jalur benang bawah sudah terpasang melewati rumah sekoci dengan benar

Hasil jahitan tidak kuat/ kendur.

Penyebab gangguan : karena benang atas dan bawah tidak seimbang (kencang sebelah).
Solusi:
  1. Sesuaikan tegangan benang atas menjadi seimbang dengan tegangan benang bawah
  2. Bila benang atas kendur, putar ke kanan pengatur tegangan benang atas, sampai hasil jahitan kuat dan kenceng rata.
  3. Bila benang atas terlalu kenceng, putar ke kiri pengatur tegangan benang atas, sampai hasil jahitan kuat dan kenceng rata.
  4. Hasil jahitan bisa kuat dan rata bila ketegangan benang atas dan ketegangan benang bawah seimbang, sama seretnya, pada tingkat keseretan yang pas.

Kain hasil jahitan mengerut secara merata

Penyebab gangguan : karena tegangan benang terlalu kuat.  Lazimnya disebabkan karena ada kesalahan memasang benang bawah, bisa spul terbalik atau benang tidak melewati jalan yang benar sehingga ketegangan benang bawah terlalu kuat, tetapi diimbangi dengan memutar pengatur ketegangan benang atas sampai seimbang ketegangan benangnya.  Akibatnya ketegangan benang atas dan bawah bisa seim-bang tetapi terlalu kuat ketegangan benangnya, hasil jahitan yang terlalu kuat bisa membuat kain hasil jahitan berkerut-kerut merata sepanjang jahitan.
Solusi:
  1. Periksa kembali sekoci mesin, pastikan posisi benang bawah sudah mapan tidak terlalu seret tarikannya
  2. Putar ke kiri pengatur ketegangan benang atas sampai keseimbangan ketegangan benang serasi dengan benang bawah.

Kain hasil jahitan mengerut tidak merata (kerutannya loncat-loncat)

Penyebab gangguan : karena jarum mesin jahit sudah tumpul, sudah tidak tajam lagi.  Ketika jarum jatuh disela kain yang dijahit, hasilnya jahitan normal. Tetapi ketika jarum yang tumpul tepat jatuh pada posisi benang anyaman kain, maka kain akan tertarik ikut benang tumpul, dan terjadi kerutan, karena itu kerutannya meloncat-loncat.

Solusi:
  1. Ganti jarum mesin jahit dengan yang masih tajam. Pilih jarum mesin yang berkualitas agar tajamnya lebih tahan lama.

Mesin tidak lancar dan berisik.

Penyebab gangguan : karena mesin jahit kering (kurang minyak pelumas) atau ada sisa benang-benang lepas yang tersangkut di mesin atau ada penumpukan debu dan sisa serat kain pada gigi mesin.
Solusi:
  1. Bersihkan mesin jahit dari serat-serat kain dan benang yang tertinggal diseputar gigi-gigi mesin menggunakan kuas.
  2. Beri minyak pelumas pada throat plate (penutup gigi) dengan pelumas yang berkualitas baik. (bila perlu, sebelum membersihkan mesin lepaskan dulu penutup gigi dengan melepaskan dua baut yang terpasang di penutup gigi).
  3. Beri minyak pelumas pada bagian-bagian mesin yang menimbulkan gesekan pada waktu mesin sedang berputar.

Demikianlah beberapa macam kerusakan pada mesin jahit dan cara memperbaikinya, semoga bermanfaat.

Kategori
Pengetahuan

ALUR PROSES GARMEN

Garment manufacture adalah sistem manufaktur atau sistem produksi massal terhadap produk garmen atau pakaian. Sedangkan teknologi garmen adalah ilmu yang mempelajari tentang teknologi atau teknik-teknik dalam proses pembuatan pakaian.
Bangsa Indonesia telah mulai menerapkan garment manufacturing system sejak pertengahan tahun 70-an terutama untuk produk pakaian olah raga (sport wear) dan pakaian dalam (under wear).

A. PERBEDAAN GARMEN DENGAN TAILOR

BEDA GARMEN DAN

BEDA GARKON

B. Beberapa tugas di garmen

a. Merchandise : menghitung seluruh biaya saat perencanaan produksi dengan tujuan agar biaya produksi rendah sehingga perusahaan untung.

b. Marketing : pemasaran hasil produksi

c. Bentuk organisasi Tergantung:
• Jumlah mesin  setiap unit mesin mampu memproduksi rata – rata 15 potong kemeja/shift kerja.
• Kapasitas produksi
• jenis produksi

d. Bagian perancangan/Designer
• Menggambar
• Melihat trend mode
• Mewujudkan rancangan menjadi pakaian

e. Advertising  untuk memperkenalkan dan mempengaruhi calon pembeli terhadap hasil produksi dengan cara fashion show dan promosi dalam bentuk lain.

 

alur garmen

add ketrg

Semua proses di atas dapat dijelaskan secara detail sebagai berikut :

1. Pattern Making process adalah membuat rencana / rancangan bentuk pakaian

2. Making sample adalah proses pembuatan pola sesuai dengan style/desain dan ukuran/work sheet dalam pembuatan top sample minimal 4 pieces per size, dan hasil sample tersebut di cek oleh merchandiser dan buyer. Sample yang telah disetujui/approved langsung diproduksi secara masal, tetapi kalau tidak disetujui harus membuat sample lagi sampai di setujui/approved.

3. Cutting adalah proses pemotongan kain, yang meliputi:
a. Marker : Proses meng copy pola sesuai dengan kebutuhannya
b. Spreading : proses penggelaran kain lembar demi lembar menjadi
tumpukan kain, sesuai dengan kebutuhan.
c. Bundling : proses pemberian tanda pada komponen–komponen pola marker yang siap akan di potong
Contoh bundling :
1) Style = Seragam
2) Size/ukuran = L
3) Tahap = I
4) Bendel = 2
5) No seri = 345 – 479
6) Jumlah = 135
7) Komponen = Kantong
8) Warna = blue (Biru)
d. Numbering : proses pemberian nomor pada bagian komponen–komponen pola sesuai dengan urutannya saat penggelaran kain lembar demi lembar menjadi tumpukan banyak, misal 125 lembar setiap tumpukan. Berarti pola kemeja body depan kiri sebanyak 125 lembar, maka harus di beri nomor dari lembar 1 s.d. 125. Ini dilakukan pada setiap komponen.

Contoh komponen hasil potong kemeja lengan pendek terdiri dari :
1) Body depan kanan dan kiri
2) Body belakang
3) Lengan kiri dan kanan
4) Kantong
5) Daun kerah dan kaki kerah

4. Sewing adalah proses menjahit atau mengabungkan komponen pakaian yang telah dipotong menjadi pakaian jadi yang meliputi:

a. Cek komponen : proses mengecek komponen pola yang diterima dari cutting, berapa jumlah komponen sebuah pakaian
b. Cek Bendel : proses mengecek komponen pakaian, komponen demi komponen.
c. Layout mesin : menata dan mengurutkan mesin sesuai dengan urutan proses penjahitan pakaian.
d. Trimming : proses pemotongan benang dari sisa–sisa jahitan
e. QC sewing : proses pengecekan/pengendalian mutu pakaian yang sedang proses dan sudah selesai diproses dan siap di transfer ke proses finishing

5. Finishing adalah proses penyempurnaan pakaian jadi, meliputi:

a. Ironing : proses untuk merapikan pakaian dengan penyeterikaan, dan selanjutnya di hand tack.
b. QC finishing : proses pengecekan pakaian sebelum ditransfer ke packing
c. Packing : proses mengemas pakaian dalam plastik atau dengan hanger, juga pemberian aksesoris, pita, bunga, solasi dll, kemudian dikelompokan sesuai dengan ukurannya dan siap untuk dipasarkan.

contoh tt ltk

Contoh untuk membuat kemeja membutuhkan mesin
a. Lock Stitch/Single Needle (SN)
b. Over Lock Stitch
c. Button Sewing Machine
d. Button Hole Sewing Machine
e. Chain Stitch
f. Double Needle (untuk pembuatan jeans)
E. Raw Material/Bahan baku

Bahan baku/raw material yang berada di dalam gudang sebelum masuk proses produksi, diperiksa kualitasnya untuk hal-hal sebagai berikut :
1. Bentuk gulungan kain
2. Shading/matching warna (kesamaan dan kerataan warna kain)
3. Lebar kain
4. Panjang kain
5. Corak/ Motif kain
6. Benang jahit / sewing thread (warna, nomor atau kehalusan)
7. Kancing (button)
8. Resluiting/zipper
9. Gulungan kain, semakin panjang gulungan kain semakin tinggi efisiensi
bentuk gulungan kain

Nomor 1 – 13 bisa saja terdapat dalam satu pabrik, yang penting diperhatikan adalah : jenis mesin, bahan/fabric, untuk proses masing-masing akan berbeda.
F. BEBERAPA JENIS PRODUK DARI INDUSTRI GARMEN (Clothing Industries) :

1. Water proof outwear (pakaian anti air) : jas hujan/mantel
2. Men’s tailor outwear (pakaian luar pria) : jaket
3. Women’s tailor(pakaian wanita) : jas/blazer
4. Casual clothing and sportswear (pakaian santai & olahraga) : T- shirt, Polo shirt, pants, shorts dll
5. Shirt : kemeja
6. Blouse : blous
7. Dresses : pakaian wanita
8. Underwear : pakaian dalam
9. Foundation Garment (terdapat dalam jas/blazer) : Kemeja, blouse, skirt
10. Lingerie (Pakaian tidur wanita) & Pajamas (pakaian tidur pria)
11. Children wear (pakaian anak-anak)
12. Work Clothes & Uniform (pakaian kerja dan seragam)
13. Knit wear (clothing yang berasal dari knitted fabric/rajutan), baik untuk dewasa/adults maupun anak-anak/children.
G. PEMBUATAN KERTAS MARKA

kertas marka/“marker paper“ adalah kertas yang sangat panjang dan lebarnya sama dengan lebar kain, untuk menjiplak pola dan disusun ke arah lusi (panjang kain) dan ke arah pakan (lebar kain).

alur singkat

Keterangan :

Spreading = proses menggelar kain lembar demi lembar menjadi tumpukan kain
Cutting = proses pemotongan kain mengikuti garis-garis pola pada kertas
marka
Sewing = proses menjahit komponen dan merakitnya hingga menjadi pakaian lengkap
finishing = proses penyempurnaan; trimming, ironing, folding, tickets, label, dll.
Packaging = proses pembungkusan dengan plastik dan masukkan ke carton box
Shipping = pengapalan/pengiriman barang kepada konsumen.

Kategori
Pengetahuan

Penggunaan dan Penempatan Bahan Pelapis

Bahan pelapis apabila dipergunakan sesuai dengan penempatannya maka akan menghasilkan busana yang indah dan berkualitas. Berikut ini akan dipaparkan beberapa macam bahan pelapis dan penggunannya, semoga bermanfaat.

A. Underlining

  1. Dipasang pada bagian-bagian tertentu pada busana misalnya bahan organdi/ organza    bisa digunakan sebagai bahan penegak kerah, pada kebaya tanpa harus merusak motif bahan utama.
  2. Untuk menyelesaikan lapisan menurut bentuk dan belahan tengah muka juga untuk memperkuat badan yang akan dihias (dibordir, dipayet).
  3. Di pasang diseluruh bagian busana.

anderliningGb.1.Kebaya dengan penegak krah dan lapisan tengah muka dari bahan underlining organdi

B. Interfacing
Penggunaan bahan pelapis interfacing

  1. Bagian-bagian tertentu pada busana seperti pada kerah, lapisan saku, belahan tengah     muka, belahan lengan (placket), manset dan sebagainya.

a) Lapisan Leher dan lengan

cufner

trubinais

manset

Gbr.2. Contoh pemasangan interfacing pada bagian busana

2. Dipasang pada seluruh bagian busana misalnya pada pembuatan jas atau blazer

gb.3

Gb.3. Pemasangan interfacing pada badan muka jas

kamisol

Gbr. 4. Torso dengan menggunakan interfacing hair canvas/bubat

C. Interlining
Pemakaian pelapis dalam, pada pembuatan busana, antara lain:
1) Pada bagian badan jaket, jas atau mantel
2) Pada bagian tertentu pada busana, misalnya bagian badan atas, kerah & sebagainya

D. Lining
Pemakaian pelapis luar/terakhir (lining) ini pada pembuatan busana pada umumnya dipasang pada:
1) Seluruh bagian dalam dari busana seperti jas, jaket, mantel, bebe, rok, blus
2) Pada bagian busana tertentu, misalnya pada bagian badan atas pada kebaya, lapisan dalam ban pinggang celana. Gb. 5. Pemasangan lining pada gaun

interlining

lining blaser

                   Gbr. 6. Pemasangan lining pada Jas

Rangkuman
1. Pengertian bahan pelapis (underlying)
Adalah bahan yang ditambahkan pada pakaian untuk membentuk struktur pakain menjadi lebih baik

2. Penggolongan bahan Pelapis: ada empat yaitu: 1) Lapisan bawah (Underlining) adalah lapisan yang terletak persis dibawah bahan utama biasa juga disebut lapisan pertama, 2) Lapisan dalam (Interfacing) bahan pelapis dalam sebagai pembentuk, penegak dan pengeras, 3) Lapisan antara (Interlining) adalah bahan pelapis pengisi dan penghangat, 4) Bahan pelapis (Lining) adalah bahan pelapis terakhir yang langsung bersentuhan dengan kulit.

3. Konstruksi Bahan Pelapis:
a. Pada umumnya seperti bahan utama, yang dibuat dari bahan tenunan, bukan tenunan dan rajutan .
b. Pada konstruksi bahan yang ditenun, memiliki arah serat sehingga waktu menggunakan / menggunting juga harus sesuai dengan arah seratnya.

c. Pada bahan yang tidak ditenun, tidak memiliki arah serat tertentu sehingga tidak perlu mencari arah serat kain sebelum menggunting.
d. Konstruksi bahan yang dirajut umumnya memiliki elastisitas kemuluran yang lebih tinggi daripada bahan tenunan dan bukan tenunan.
e. Fusing: jenis interfacing terbaru yang dikembangkan secara modern dalam proses pemasangan perekat pada serat-serat pendek secara bersamaan

 

 

Kategori
Pengetahuan

Berkomunikasi dalam Karakteristik Budaya dan Sosial yang berbeda

Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang hidupnya selalu bahagia dan sempurna. Kehidupan manusia selalu diwarnai masalah silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, muncul masalah baru. Namun semua itu sifatnya hanyalah sementara dan jika berupaya mengatasinya secara rasional dan positif, pasti ditemukan jalan keluarnya.
Demikian pula ditempat kerja, ada saja yang membuat kita tidak nyaman dalam bekerja. Teman sekerja itu bermacam-macam sifat kepribadiannya, ada yang senang mengkritik, menyalahkan, meremehkan, atau merasa ingin menang sendiri. Apabila tidak segera diatasi, maka ketidak nyamanan tersebut akan berdampak negative terhadap pekerjaan kita.
Kita menjadi malas bekerja, sehingga penyelesaian pekerjaan akan terhambat, bahkan sama sekali tidak terselesaikan. Bila semua ini terjadi, maka konsumen atau pelanggan akan meninggalkan kita dan bisnis kita akan hancur. Oleh karena itu kita harus menghindari terjadinya konflik di tempat kerja. Bahkan indikasi konflik hendaknya diubah menjadi kerja sama.

a) Indikator Konflik

Konflik di tempat kerja sering tidak bisa dielakkan, banyak penyebab yang bisa menyulut terjadinya konflik. Untuk mengatasi atau menghindari konflik, kita perlu melakukan identifikasi terhadap factor-faktor penyebabnya.
1) Perbedaan kepribadian
Rekan sekerja yang senang memperhatikan detail,akan menghadapi kesulitanbila  menghadapi rekan lainnya yang memiliki kepribadian berlawanan.Tipe”detail”ini cenderung mencari-cari kesalahan,dan memaksakan kehendaknya pada orang lain.Ia merasa caranyalah yang terbaik untuk dilakukan.Orang-orang seperti ini menurut Caviola dan Lavender termasuk dalam kategori kepribadian obsessive-compulsive.
2) Perbedaan cara pandang
Seringkali konflik terjadi karena adanya perbedaan cara pandang.Seorang anggota tim yang berpandangan bahwa suatu pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal selamat. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan untuk bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian. Rekan lain yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting daripada prestasi tim, akan melakukan berbagai cara untuk menunjukkan keunggulannyya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim.
3) Perbedaan tujuan dan kepentingan
Konflik dapat juga terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan, seperti perbedaan antara tujuan individu dalam tim dengan tujuan tim atau perusahaan. Seseorang yang bertujuan memenuhi target jangka pendek dengan melakukan berbagai cara untuk mencapainyya, misalnya mengurangi biaya dengan mengurangi kualitas, menawarkan diskon besar, walaupun harus mengorbankan image dan profit perusahaan untuk mengejar volue penjualan yang besar.
Orang seperti ini akan mendapat masalah jika bekerja-sama dengan rekan yang lebih mendahulukan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
4) Perbedaan pemahaman
Konflik dapat pula terjadi karena miskomunikasi yang menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal ini terjadi karena penjelasan yang didengar atau fakta yang dikumpulkan kurang lengkap atau kurang akurat. Pemahaman yang setengah-setengah, tidak tuntas, berpotensi menimbulkan konflik.
Misalnya kita menawarkan bantuan kepada rekan sekerja yang terlihat terlalu banyak dibebani pekerjaan, hal ini dapat saja disalah artikan sebagai penghinaan.

b) Solusi Mengatasi Konflik

Sebenarnya banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi di tempat kerja.
Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik.
1) Hindari Konflik
Jika kita dapat melakukan pekerjaan tanpa harus berinteraksi dengan orang yang “dapat menimbulkan konflik”, maka kita tidak perlu menguras tenaga, pikiran, dan waktu untuk mencoba mengubah mereka atau mengubah diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, marah yang muncul karena berurusan dengan mereka. Dengan demikian, kita dan orang tersebut dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan untuk menghadapi ketidak cocokan atau perbedaan-perbedaan yang berindikasi menjadi penyebab timbulnya konflik.

2) Netralisasi Sikap
Cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisir sikap kita terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Kalaupun kita tidak bisa menghindari , maka caranya adalah dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya kita memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi ampuh untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan kita.
Sebagai contoh: bila orang-orang tersebut sering mengkritik pekerjaan kita dan merasa dapat melakukan dengan lebih baik, maka serahkan saja pekerjaan tersebut kepada mereka, dan kita memfokuskan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengerjakan yang lain.

3) Ubah Sikap Kita
Dalam menghadapi orang-orang yang merongrong pekerjaan, maka kita harus mengendalikan reaksi kita.
Mungkin kita tidak dapat mengubah, tetapi yang kita lakukan adalah mengubah sikap kita pada pengaruh negative yang mereka timbulkan. Bila mereka berbuat ulah, kita tidak perlu merasa terusik.
Hal yang perlu dilakukan adalah menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa emosi) dan berkata dengan tenang, dengan demikian menunjukkan bahwa perbedaan memang ada, kita saling menghormati perbedaan tersebut.

4) Blending
Cara lain untuk mengurangi perbedaan adalah dengan mencari persamaan, dan berangkat dari persamaan tersebut. Sedangkan cara lain lagi adalah bila kita memiliki perbedaan cara pandang, tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dengan mencari titik persamaan dari sekian perbedaan yang ada. Dalam hal ini kita dapat memfokuskan pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya kita dapat menggalang koordinasi dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar dapat diarahkan untuk mencapai tujuan.

5) Understanding
Untuk mengatasi konflik dapat kita lakukan dengan mencari sumber masalahnya, kemudian untuk memecahkan masalah bersama-sama. Apabila kita dapat menemukan atau mencari tahu egativ dari suatu sikap atau tindakan, tentu kita akan meahami mangapa seseorang melakukan sikap/tindakan tersebut.

Jadi jika kita menghadapi konflik, yang dapat kita lakukan adalah:
(a) Mengidentifikasi sumber penyebab konflik
(b) Memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflk

Dengan kerjasama diharapkan kita dapat lebih berprestasi, dan dengan memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflik, kita dapat mengubah konflik menjadi kerja-sama yang harmonis, dengan demikian kita dapat memperoleh banyak dukungan untuk berprestasi.

Kategori
Pengetahuan

Bagian – bagian Kemeja Pria

Salah satu pakaian yang paling penting untuk pria adalah kemeja. Terlepas apakah kemeja itu lengan panjang atau pendek, benda yang satu ini saya yakin jumlahnya yang paling banyak ditemukan di lemari pakaian pria. Untuk ke kantor atau acara resmi sudah pasti kita kenakan kemeja, bahkan untuk acara casual pun kita dapat mengenakan kemeja.

Karena hal itulah, jadi tidak ada salahnya jika kita mengetahui beberapa hal tentang kemeja. Dulu saya juga tidak begitu peduli dengan kemeja, asalkan terlihat bagus di badan saya ketika mencobanya di departemen store, maka saya akan membelinya. Tetapi ternyata kemeja ada berbagai jenis, bagian dan fungsinya.

Jenis Kemeja

A. Kemeja Formal/Dress Shirt
Sesuai dengan namanya, kemeja ini di kenakan untuk acara-acara resmi atau formal. Kemeja formal di desain untuk di kenakan dengan jacket/blazer dan dasi, tetapi bisa juga di kenakan tanpa keduanya. Kemeja ini memiliki potongan yang berbeda jika di bandingkan dengan kemeja kasual.

B. Kemeja Kasual/Casual Shirt
Sebagus apapun bahan atau coraknya, jika kemeja memiliki lengan pendek berarti termasuk jenis kemeja kasual. Kemeja ini di desain untuk di kenakan dengan leher tak di kancingkan, dan terlihat aneh jika memakai dasi.

Bagian Kemeja
Secara garis besar, bagian-bagian dari kemeja yang perlu di ketahui adalah seperti yang dapat Anda lihat pada gambar di bawah, walaupun masih ada bagian detail lain.

bagian-bagian kemeja

1. Kerah / Collar

Bagian yang satu ini merupakan yang paling penting dari kemeja, ada berbagai jenis tipe kerah/collar seperti button down collar, pointed collar, spread collar, pin & tab collar serta lainnya. Masing-masing tipe kerah/collar menentukan level formalitas dari suatu acara dan juga di sesuaikan dengan bentuk wajah.

aneka kerah kemeja

2. Lengan

Seperti yang sudah saya bilang di atas, jika kemeja berlengan pendek itu berarti di kenakan untuk acara casual. Walaupun setiap kemeja lengan panjang belum tentu untuk acara formal. Dalam memilih kemeja, lumayan sulit untuk mencari kemeja dengan lengan yang pas dengan ukuran kita, terutama kemeja lengan panjang.

3. Cuff

Walaupun bentuknya kecil, bagian yang satu ini sangat penting. Selain kerah, cuff adalah salah satu bagian yang terlihat ketika kita mengenakan jas/jacket untuk ke acara resmi atau formal. Ukuran cuff harus lebih panjang sekitar 1-1,5 inchi dari jas/jacket Anda. Ada beberapa model cuff yang bisa Anda coba, mulai dari yang standar ataupun variasi lainnya.

4. Placket

Sebagian besar kemeja formal maupun casual memiliki bagian yang satu ini. Seperti yang bisa dilihat pada gambar,placket terletak di bagian kiri depan dengan terdapat beberapa lubang kancing yang berbaris vertikal.

5. Yoke

Yoke adalah bagian kemeja berupa bahan yang menghubungkan kemeja bagian depan dan belakang, selain itu juga untuk menutupi tulang bahu kita. Ada dua model yoke, yaitu one-piece yoke dan two-piece yoke. Kemeja formal biasanya menggunakan one-piece yoke.

dua yoke

6. Pleat

Seperti kita ketahui, punggung seorang pria tidaklah rata. Oleh karena itu banyak bagian belakang kemeja yang di desain dengan pleat yang berfungsi untuk menyesuaikan postur punggung kita.

Ada 2 macam pleat yang bisa Anda temui, yaitu box pleat dan side pleat. Namun banyak juga kemeja yang di desain tanpa pleat.

box pleat

Demikian tentang bagian-bagian kemeja pria. Semoga bermanfaat.

sumber :

fashion pro