Kategori
fashion materi belajar

MEMBUAT POLA BUSANA SECARA GRADING

Grading adalah kata yg berasal dari serapan bahasa Inggris “grade” yang artinya tingkatan. Grading dalam dunia  fashion dapat diterjemahkan sebagai teknik mencontoh desain pola baju yang sudah ada, kemudian menyesuaikannya kembali sesuai tingkat ukuran tertentu. Grading pola hanya diterapkan pada pola standar.

Teknik grading pola ini  lebih sering digunakan oleh pabrik konveksi atau garment yang memproduksi pakaian secara masal dengan berbagai ukuran sekaligus. Satu pola dan satu model baju bisa digunakan untuk banyak size sehingga memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Tingkatan ukuran pola busana yang telah melalui tahap grading baik secara manual ataupun dengan komputer  dinyatakan dalam ukuran S, M, L dan XL. Adapun jenis pakaian yang biasa dibuat dengan pola sistem grading ini diantaranya berupa rok, celana, blouse, blazer dan sebagainya.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://7pinedesign.com/

 

Grading Pola Pakaian

Grading Pola Pakaian

Sumber : https://starkfashionbd.blogspot.co.id/

Keterampilan menggrading pola jarang dimiliki kecuali oleh mereka yang berkecimpung di bidang pattern making untuk industry. Untuk menggrading sebuah pola blazer misalnya  sahabat blog mula-mula harus menjiplak pola blazer yang sudah ada, kemudian memperbesar atau memperkecil ukuran sesuai ukuran pemesan atau konsumen.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://www.vinabits.com.vn/

Selain  secara manual grading pola busana dapat dikerjakan pula melalui software komputer yang memang dirancang khusus untuk grading. Sebagai contoh software Optitex, Accumax Gerber, Lectra Kaledo, Pad System, Style CAD dan Gemini CAD.

Grading Pola Pakaian

Sumber : https://scorpio1239.wordpress.com/

Dengan menerapkan teknik grading kita bisa mendapatkan banyak keuntungan dalam satu kali pengerjaan. Adapun manfaat dari grading yang dilakukan pada industri busana sendiri diantaranya:

  • Untuk mempersingkat waktu pembuatan pola.
  • Mendapatkan ukuran yang tepat berdasarkan pola baku yang sudah ada.
  • Grading pola memungkinkan anda membuat baju dengan desain sama dengan ukuran berbeda, minimal tiga ukuran.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://fashion2apparel.blogspot.co.id/

Demikian sedikit informasi tentang grading pola busana dalam industri. Semoga informasi mengenai grading yang kami bagikan ini bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi tersendiri bagi sahabat blog  yang masih belajar fashion ataupun sahabat blog yg sedang menekuni bidang fashion.

Semoga bermanfaat.

Kategori
materi belajar

Mengikat Potongan Potongan Pakaian

  • Pengertian dan Tujuan

Dalam industri  pakaian jadi proses pembuatannya dilakukan secara masal dan berantai, yang dimulai dari pembuatan pola, meletakkan bahan (Marker Layout), memotong (Cutting), mengikat potongan kain (Bundling), penomeran dan pelabelan (Tiketing and Labeling) sampai dengan proses penjahitan (sewing)

Salah satu proses setelah dilakukannya pemotongan bahan adalah  proses  pengikatan/bundling hal ini sangat penting karena pekerjaan ini sangat riskan dan membutuhkan ketelitian. Pekerjaan ini tidak boleh dianggap sepele karena kesalahan kecil yang dilakukan seperti salah meletakkan satu komponen/bagian pakaian saja dapat berakibat fatal dalam suatu produksi.

Proses pengikatan/Bundling  dapat dikelompokkan menjadi 2 kegiatan yaitu :

  • Memilah potongan potongan kain

Memilah  adalah pekerjaan mengelompokkan bagian bagian pakaian atau  komponen  yang telah dipotong berdasarkan ukuran dan warna kain, dengan tujuan  untuk memudahkan pekerjaan penomeran/pelabelan dan pengikatan/bundling. Di industri pakaian jadi pada umumnya pemotongan kain dilakukan dalam jumlah yang cukup besar dan berlapis lapis, terdiri dari berbagai ukuran, warna, aksesoris dengan beberapa komponen pakaian.

Salah satu contoh blus wanita  yang terdiri dari beberapa komponen seperti bagian  badan muka dan belakang, lengan kanan dan kiri, kerah, saku, termasuk lapisan. Setiap pakaian  memiliki bagian/komponen yang berbeda tergantung dari desainnya, sehingga hal ini sangat beresiko akan terjadi kesalahan dalam proses  penjahitan disebabkan salah mengelompokkan komponen pakaian tersebut.

Produksi pakaian jadi pada umumnya menggunakan ukuran standar seperti S – M – L – Xl L – XXL atau  27 sd 46 untuk ukuran celana, sedangkan untuk kemeja biasa menggunakan ukuran 6 sd 16. ukuran standar pakaian jadi ini sangatlah  bervariasi.

Aksesoris dalam industri pakaian jadi adalah bahan tambahan atau  bahan pelengkap pakaian yang dapat berfungsi sebagai hiasan pakaian seperti,   kancing hias, kancing kait, ritsluiting/ziper, renda, bisband, elastic/karet, furing, vleselin, kainkeras/trubenys,  termasuk nomer ukuran, label dan tiket

  • Memberi nomer dan mengikat potongan potongan kain

Memberi nomer/nambering adalah sustu proses pekerjaan yang dilakukan   pada potongan potongan kain sebelum dilakukan pengikatan. Nambering dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kesalahan dalam pengelompokaan potongan kain pada saat pengikatan.

Mengikat/ bundling, adalah  suatu proses pekerjaan  menyatukan potongan potongan kain dalam satu model pakaian yang telah dikelompokkan sesuai dengan warna dan ukuran yang sejenis. Proses mengikat  dilakukan setelah selesai melakukan pekerjaan    memilah dan memberi nomer. Hasil dari pekerjaan ini disebut dengan bundel.

Mengikat/bundling dilakukan dengan tujuan antara lain untuk :

  • Memperlancar proses pengiriman  kebagian divisi penjahitan
  • Memudahkan penjahit untuk melakukan pekerjaannya
  • Mengurangi kesalahan dalam proses penjahitan
  • Menghemat waktu dan tenaga karena penjahit tidak perlu lagi memilah milah potongan pakaian.

Kegagalan atau kesalahan proses mengikat dapat terjadi apabila,

  • Dalam satu ikatan/bundelan komponen tidak lengkap
  • Aksesoris tidak sesuai atau tidak lengkap
  • Salah satu komponen dalam ikatan cacat atau rusak
  • Tidak ada label atau tiket sehingga informasi proses kerja tidak jelas
  • Salah satu komponen tertukar dengan komponen ikatan yang lain
  • Persiapan bahan/alat
  • Kain yang sudah terpotong berupa komponen dari suatu pakaian dengan berbagai ukuran dan warna
  • Tali, dipakai untuk mengikat potongan potongan kain yang telah dikelompokkan sesuai ukuran atau warna. Untuk menghemat biaya sebaiknya gunakan sisa-sisa kain seperti potongan tepi kain
  • Label/Tiket yang sudah dicetak dan diisi dengan informasi jumlah potongan dan ukuran pakaian yang akan diproduksi
  • Langkah kerja

      1. Memilah potongan potongan kain

Menyiapkan area kerja

  • Siapkan meja  dan area kerja dengan memperhatikan Kesehatan dan keselamatan kerja, ruangan harus bersih dan cukup ventilasi. Meja yang akan digunakan harus bersih, lebarnya cukup untuk melakukan kegiatan, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek atau kurang lebih setinggi pinggang
  • Siapkan potongan potongan kain yang berlapis lapis, terdiri dari bagian/komponen  pakaian dengan berbagai warna dan ukuran dengan asesori yang diperlukan
  • Memilah potongan  kain berdasarkan  komponen seperti bagian badan muka dan belakang, lengan kanan dan kiri, kerah, saku, lapisan dan lainnya berdasarkan  ukuran pakaian yang akan dibuat seperti ukuran S,M,L, atau sesuai keterangan yang tertera pada pola yang masih menempel pada potongan kain.

 

  • Siapkan meja untuk mengikat potongan potongan kain sesuai standar dengan tinggi sebatas pingang dan bersihkan area kerja.emilah asesoris/pelengkap pakaian seperti, kain keras, vleselin berdasarkan ukuran 
     2. Memberi nomer dan mengikat potongan potongan kain
  • Siapkan meja untuk mengikat potongan potongan kain sesuai standar dengan tinggi sebatas pingang dan bersihkan area kerja.
  • Kumpulkan dan letakkan  potongan potongan kain diatas meja  dengan perlengkapan/asesori yang sesuai.
  • Periksa potongan potongan kain dan perlengkapannya sesuai dengan informasi yang tertera pada lembar kerja/Jobsheet
  • Periksa potongan kain, untuk mengetahui bila terjadi kerusakan pada potongan kain sehingga dapat melakukan tindakan  bila diperlukan
  • Kumpulkan tiket atau  label  yang diperlukan untuk melengkapi ikatan, dan memeriksa apakah tiket/label telah sesuai
  • Menyusun  jumlah lembaran yang diperlukan, dan disusun

    Berdasarkan  lembaran yang paling besar  selanjutnya  lembaran yang terkecil dengan perlengkapan/ aksesori yang dibutuhkan seperti, kancing, tutup tarik, pita atau bisband  yang diletakkan di bagian atas potongan kain.

  • Menggulung potongan potongan kain sebelum diikat

  • mengikatnya menjadi satu agar tidak ada potongan/lembaran kain yang jatuh atau terlepas dari ikatan
  • Menghitung jumlah ikatan untuk menyakinkan semua potongan telah disatukan
  • Menambahkan tiket yang berisi informasi untuk melakukan pekerjaan berikutnya yang diletakkan dibagian luar ikatan
  • Setelah dilakukan pencatatan,  simpan ditempat yang aman Sebelum diserahkan kebagian yang lain
  • Menyerahkan ikatan potongan kain  pada bagian penjahitan dengan menggunakan troli (Trolley)
  • Sahabat blog…..demikianlah beberapa proses atau kegiatan yang dilakukan setelah proses pemototngan bahan atau Cutting, sebelum dilanjutkan ke bagian penjahitan.

Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita dalam proses pembuatan    busana industri.

Mohon bagi pengunjung tuk memberikan saran ataupun kritik untuk menyempurnakan isi blog ini. Terimakasih.

 

 

Kategori
materi belajar

PEMOTONGAN BAHAN SECARA INDUSTRI

Menyiapkan Meja Pemotongan.

 Menyiapkan meja pemotongan meliputi:

  • Instruksi cara meletakkan bahan diterjemahkan dengan tepat.
  • Meja untuk memotong dipilih yang sesuai dan diatur sesuai dengan standar ergonomic bengkel.
  • Keamanan peralatan diperiksa agar berfungsi dengan benar sesuai dengan instruksi pabrik dan prosedur bengkel.
  • Kapur untuk bekerja dipilih yang sesuai.
  • Meja tempat memotong disiapkan sesuai dengan panjang yang benar dan sesuai dengan prosedur kerja.

Meletakkan Kain

Meletakkan kain meliputi:

  • Lebar dan kualitas kain diperiksa sesuai dengan instruksi cara meletakkan kain dan mengambil tindakan sesuai prosedur kerja.
  • Kain direntangkan dan tarikannya disesuaikan untuk mencocokan tampilan kain agar sesuai dengan prosedur kerja.
  • Kain diperiksa, bila ada yang salah segera melakukan tindakan pemotongan pada bahan yang salah dengan cara menyambungkan (tumpang tindih) atau teknik lain yang cocok dan sesuai dengan prosedur kerja.
  • Tinggi letak dan posisi kain diperiksa, dan dilakukan tindakan yang sesuai spesifikasi kerja dan prosedur bengkel.
  • Tanda diletakkan sesuai prosedur kerja

Kain diperiksa, bila ada yang salah  segera melakukan tindakan pemotongan pada bahan yang salah dengan cara menyambungkan (tumpang tindih) atau teknik lain yang cocok dan sesuai dengan prosedur kerja.

 

Merancang Bahan

 Merancang bahan yaitu membuat rancangan/ rencana mengenai bahan/ kain yang akan dipergunakan  untuk memproduksi  suatu  model busana, dengan cara meletakan pola  yang telah diberi kampuh  di atas bahan  dan  diatur sedemikian rupa sehingga mengetahui berapa banyak bahan yang diperlukan untuk memproduksi busana.  Tujuan dari merancang bahan yaitu  untuk mengetahui kebutuhan kain yang diperlukan dengan order yang diproduksi serta bahan yang dipergunakan benar-benar efektif dan efisien .

Tahapan didalam merancang bahan  yaitu  berikut ini:

  1. Patern making

Patern  making adalah  pembuatan pola oleh tukang pola, pola yang dibuat sesuai dengan permintaan buyers.

Di dalam pembuatan pola  kadang- kadang cara pembuatan polanya ditentukan oleh buyer dengan  melampirkan cara pembuatan pola  dalam pesanannya. Tetapi apabila tidak ada lampiran cara pembuatan pola, maka perusahaan yang menentukan pola yang akan digunakan.

  1. Sample making

Sample making yaitu pembuatan contoh busana yang akan diproduksi. Sebelum busana  diprodusi secara besar-besaran/ massal , perusahaan terlebih dahulu membuat sample/ contoh sesuai dengan pesanan , apabila tidak sesuai dengan yang diminta, maka perusahaan akan memperbaiki pola yang telah dibuat disesuaikan dengan keinginan  buyer.

Grading

Grading  berasal dari kata grade yaitu memperingkatkan. Grading pola adalah memperingkatkan pola ke dalam satu atau beberapa size/ ukuran di atasnya atau dibawahnya.

Pola yang telah sesuai dengan sample akan digrade dengan berbagai macam ukuran  sesuai dengan pesanan buyer. Proses grading pada perusahaan skala kecil dan menengah biasanya dikerjakan secara manual, tetapi pada perusahaan besar  biasanya dibantu dengan menggunakan komputer, dengan tujuan untuk diperbanyak  , untuk merancang bahan serta sebagai arsip perusahaan.

Pola manual yang sudah lengkap dengan asesorisnya (misalnya saku), diletakkan di atas sebuah papan putih  (lecra system), kemudian dengan menggunakan remote control pola tersebut dimasukan  dalam komputer, sehingga teknisi grading hanya membentuk bagian-bagian yang dirasa kurang sempurna. Di dalam sistem komputer sudah terdapat  patokan/ standar ukuran besar kecil pola yang dibuat, teknisi grading  hanya mengisi  berapa selisihnya setiap ukuran, sehingga sekali clik, pola tersebut membentuk layer-layer sendiri (grading) lengkap dengan ukurannya. Setelah pola digrading pembuat marker  tinggal menentukan/ mengambil ukuran/size  yang dipesan oleh buyer, kemudian membuat rancangan bahan. Membuat rancangan bahan dengan sistem komputer  lebih mudah karena di dalamnya tersedia  fasilitas bentuk panjang kain yang digunakan, sehingga pola terkesan diletakan di atas kain/ bahan, pada menu size dalam komputer bisa diatur panjang pendeknya bahan yang diperlukan.

 

 

Kategori
materi belajar

TEKNIK MEMOTONG BAHAN

Memotong bahan adalah termasuk pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan teliti dan seksama. Hasil potongan bahan yang kurang baik akan mempengaruhi hasil akhir dari proses pembuatan busana.

  1. Syarat Ruang Kerja dalam memotong bahan :
    1. Memiliki penerangan yang baik, tidak terhadang oleh furnitur atau barang lainnya
    2. Sirkulasi udara yang cukup nyaman
    3. Ukuran meja potong sesuai standart, permukaan meja rata dan datar
    4. Gambar tanda bahaya/peringatan diletakkan pada tempat yang terlihat
  2. Alat-alat / Perlengkapan memotong
    1. Pita ukur, digunakan dalam setiap langkah proses pembuatan suatu busana mulai dari mengambil ukuran hingga
    2. Jarum pentul, digunakan untuk menyematkan pola diatas bahan. Ada beberapa jenis jarum pentul:
      1. Kecil, seluruhnya dari logam baik kepala maupun ujung jarum. Biasanya digunakan untuk pekerjaan mendisplay busana di etalase
      2. Sedang, badan sampai ujung jarum dibuat dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk hiasan display busana.
      3. Panjang, lebih panjang, kecil dan runcing. Badan sampai ujung jarum dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk menyemat pola ke bahan pada proses memotong bahan atau menyemat bahan ke bahan pada proses menjahit.
      4. Panjang dan besar, badan dan ujung jarum dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk hiasan.
    3. Pemberat untuk membantu menahan kedudukan bahan pada waktu memotong agar tidak bergeser. Biasanya dipakai untuk bahan yang licin atau memotong bahan dalam jumlah banyak.
    4. Gunting, digunakan untuk memotong bahan, menggunting benang, pada waktu proses pembuatan busana. Macam-macam gunting adalah:
      • Gunting Bahan
      • Gunting Kertas
      • Gunting Benang/gunting tiras
      • Gunting zig-zag
      1. Alat pemberi tanda
        • Kapur Jahit
        • Rader dan Karbon Jahit
        • Jarum jahit dan benang jahit
  3. Menyiapkan bahanBahan yang akan dipotong harus disiapkan dengan cermat untuk mencegah terjadinya kegagalan produksi (pembuatan busana).
    1. Kualitas bahan harus bagus, baik struktur tenunannya maupun penyempurnaan akhirnya.
      • Jika bahan dipotong tidak lurus pada saat membeli bahan, maka bahan harus diluruskan dengan cara memotong lurus menurut arah benang pakan yang ditarik.
        • Jika bahan yang akan dipotong diperkirakan menyusut maka bahan tersebut harus dicuci terlebih dahulu.
        • Jika bahan yang akan dipotong kusut, maka harus disetrika terlebih dahulu.
        • Bahan ditarik keempat arah agar lurus
        • Bahan dilipat dua pada lebar bahan
        • Bagian buruk kain berada disebelah luar
          1. Kuantitas bahan harus sesuai dengan jumlah kebutuhan atau benda yang akan dibuat (berdasarkan rancangan bahan yang telah dibuat) sehingga kemungkinan kekurangan atau kelebihan bahan tidak terjadi.
  4. Menyiapkan pola:
    1. Memeriksa kelengkapan jumlah pola.
    2. Memeriksa kelengkapan tanda-tanda pola, agar tidak terjadi kesalahan pada waktu meletakkan pola yang berakibat kesalahan pada waktu memotong bahan.
    3. Sudahkah pola diberi kampuh

5. Memeriksa bahan

Motif bahan

  1. Arah motif bahan:
    • Satu arah, pola diletakkan searah dengan motif
    • Dua arah, pola dapat diletakkan bersilang (menghadap 2 arah yang berlawanan)
  2. Motif garis/kotak

Motif bahan harus ditemukan kemudian disemat dengan jarum pentul pada beberapa tempat agar bahan (motif) tidak bergeser. Pola diletakkan pada bahan dan disemat dengan jarum pentul dijahit motif garis dan kotak terus bersambung.

Tekstur bahan

Bahan tekstil mempunyai tekstur yang berbeda-beda, karena proses pembuatan dan penyempurnaan yang berbeda-beda pula.

  1. Pada bahan yang berbulu, tenunan lepas dan berkilau pola diletakkan denagn posisi satu arah.
  2. Pada bahan yang bertekstur kusam, kasar, dan ditenun dengan silang polos, maka pola dapat diletakkan dengan dua arah.
  3. Pada bahan yang tipis (tembus pandang) penambahan kampuh cukup 1 cm dan untuk kelim dibuat dua kali lebar kelim.

6. Meletakkan pola di atas bahan

  1. Pola-pola yang besar diletakkan terlebih dahulu, biasanya pola besar diletakkan disudut bahan setelah dilipat dua. Baru kemudian pola-pola yang kecil (tata letak pola sesuai dengan rancangan bahan yang sudah dibuat).
  2. Setelah yakin tidak akan ada perubahan, pola disemat dengan jarum pentul. Arah kepala jarum pentul kedalam sedangkan ujungnya menghadap keluar.

7. Memotong bahan

Setelah semua pola disemat diatas bahan dengan benar, bahan dipotong dengan menggunakan gunting bahan. Pada waktu memotong bahan:

  1. Lubang kecil pada gunting berada diposisi atas ditahan oleh ibu jari sedangkan lubang yang lebih besar berada dibawah, ditahan oleh empat jari lainnya.
  2. Posisi tangan kiri berada diatas bahan, menekan agar bahan tidak terangkat, tangan kanan memegang gunting dengan banar
  3. Gunting dibuka lebar-lebar pada tiap kali memotong, agar tepi bahan yang digunting rata.
  4. Bahan tidak boleh diangkat atau diputar posisinya pada waktu dipotong
  5. Yang harus diperhatikan adalah hasil potongan bahan tidak boleh terputus-putus.

Demikian beberapa hal yang dilakukan dalam proses pemotongan bahan, semoga bermanfaat. aamiin.

Kategori
materi belajar

Teknik Pengepresan Busana Dalam Industri Garmen

Produk pakaian yang berkualitas, ditentukan oleh tahapan dan tehnik yang dilakukan dalam proses pembuatan pakaian tersebut.  Tahap pengepresan merupakan salah satu tahapan yang menentukan bagus tidaknya kualitas pakaian tersebut. Proses pengepresan pada pakaian sendiri pada umumnya dapat dibagi kedalam dua tipe, yaitu pengepresan antara (under pressing) dan pengepresan akhir (toppressing).

1-press

Pengepresan Awal

Proses pengepressan awal yaitu proses pengepressan yang dilakukan setelah proses cutting dan sudah di beri nomor perkomponen istilah garmen disebut numbering. Kenapa disini di berikan nomor perkomponen ( part ) karena di garmen proses pemotonganya adalah secara masal sekali potong minimal 1 pcs dan maksimal sampai 600 pcs tergantung jenis  kain yang di potongnya.

5-press

Apa saja yang yang perlu dipres awal

  • Pembuatan celana yang perlu dipres awal adalah : Lapisan Zipper, lapisan kantong, lapisan ban pinggang,dan lain-lain sesuai dengan ketentuan permintaan pelanggan.
  • Pembuatan kemeja yang perlu di pres awal adalah: Lapisan daun kerah, lapisan kaki kerah dan plaket depan apabila perlu
  • Blazer (jas pria) itu hampir semua komponen perlu diadakan pengepresan awal
  • Dan masih banyak lagi garmen yang perlu dilakukan pres awal

Pengepresan Antara

Pengepresan antara (under pressing) merupakan tahap pengepresan yang dilakukan disela-sela proses menjahit baju, dikerjakan dengan tujuan untuk mempermudah proses jahit dan adapun alat pres yang digunakan adalah strika uap dan meja fakum.

Cara kerja setrika uap ini adalah dialiri uap dari sentral ( Boiler ) untuk mendapatkan uap panas sedangkan Cara keja meja fakum ini adalah dialiri angin dari kompresor untuk memfakum (menyedot ) atau meniup meja tersebul.

Dibawah ini adalah gambar meja fakum dan seterika uap.

6-meja-fakum 7-setrikauap

Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses pengepresan antara diantaranya berupa:

  • Pengepressan kampuh yaitu kampuh bahu dan kampuh sisi (setelah bahu dan sisi disambungkan).
  • Pengepressan lipit seperti lipit pantas dan lipit-lipit pakaian yang lainnya bila ada.
  • Pengepressan lapisan (interlining) pada bagian tengah muka, depun, kerah dan sebagainya.
  • Pengepressan komponen pakaian seperti tutup saku atau bagian-bagian lainnya sebelum dipasangkan pada pakaian.

2-press

Pengepresan Akhir

Pengepresan akhir (toppressing) merupakan tahap pengepresan yang dilakukan setelah pakaian selesai dibuat. Pengepresan akhir dapat dikerjakan dengan alat setrika press dan untuk garmen yang memproduksi pakaian skala besar bisa menggunakan “stream doily atau stream tunnel”.

3-press 4-press
Demikian sahabat sekalian beberapa tahapan pengepressan yang ada di industri busana, semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan amda. Terimakasih atas kunjungan Anda.

Kategori
materi belajar

BUSANA SEMI TAILORING

  1. PENGERTIAN SEMI TAILORING

Tailoring adalah tehnik atau metode menjahit busana tingkat tinggi, dikenal pada abad ke 14 yang dipakai oleh kaum pria berupa jacket atau mantel ( jacket atau coat ), vest (waist coat ) dan celana ( trouser ). Pada awalnya jaket berkembang sebagai pakaian pria, teteapi mulai pertengahan abad ke 19 wanitapun mulai mengenakannya. Tailoring lebih identik dengan gaya mode kaum pria ( man tailored ) dengan detail detail yang kaku, bahan/material yang maskulin, seperti setelan jas pria (man-suit).  Sedangkan untuk kaum wanita seperti jas (jacket), celana, rok (skirt), maupun gaun(dress), dapat dibuat dengan tehnik tingkat tinggi ( tailored made ) atau dikenal dengan semi tailoring, dengan proses pembuatan sbb :

  1. tehnik penjahitan sderhana, tidak banyak menggunakan tangan.
  2. bahan pelapis tidak penuh atau sebagaian saja yang dilapis
  3. bahan yang digunakan sederhana seperti polyester atau bahan wool campuran.
  4. tehnik-tehnik penanganan yang halus
  5. gaya atau desain lebih luwes atau feminin.

Busana semi tailoring seperti jas (jackets) biasa dipakai bersama celana atau rok berupa pasangan atau setelan satu jenis (suit). Model (styles) dan detil-detil untuk jas (jackets) selalu berubah/berkembang sesuai dengan trend mode (fashion0 yang sedang berlaku, antara lain :

  • bentuk boxy ( kotak )
  • bentuk longgar
  • bentuk baggy ( kantong )
  • bentuk lurus
  • pas badan.

2. KLASIFIKASI BUSANA SEMI TAILORING BENTUK JAS ( JACKETS )

Bentuk atau gaya busana semi tailoring dapat dibuat dengan sangat variatif berupa jas ( jacket ), gaun (dress), atau setelan (suit). Bahan yang digunakan dapat dipilih sesuai dengan fungsi, kesempatan dan trend busana, demikian juga dengan metode pembuatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang mungkin dapat membantu mengurangi waktu, fasilitas maupun dana yang dipergunakan menjadi lebih sederhana atau lebih murah dan mudah pembuatan pakaian tersebut.

Cardigan jacket

yaitu jacket tanpa kerah dengan model garis leher V atau bulat dengan bukaan di depan dan berlubang kancing. kata “Cardigan” diambil dr Eael of CArdigan dipakai semasa perang crimean.

cardigan-2 cardigan-1

Safari Jacket

Yaitu jacket yang desainnya banyak memakai saku, pada dada kiri, kanan dan dibawah garis pinggang kiri, kanan dan pada garis bahu ada ipolet dan memakai ban pinggang, biasanya dipakai sebagai busana untuk berburu atau disemak belukar.

jaket-safari safari-2

Batled Jacket

Jacket sepanjang pinggang, banyak saku mirip battle dress dan double – breasted bagian depan overlap, kancing dengan ritsluiting, pada masa perang dunia II dipakai oleh Angkatan darat Amerika. Model ini lebih banyak dikenakan oleh wanita muda sebagai casual jacket.

batled-jacket

Peplum Jacket

Peplum merupakan pototngan kain yang terpisah dalam bentuk rok melekat dengan dasar jacket atau badan bagian atas jacket dengan kerutan atau lipit peplum dating dari Greek Word peplos, dipakai oleh wanita greece kuno.

navy-peplum pepl peplum-chic pretty-peplum

Demikian sedikit pengetahuan tentang blazer atau busana semi tailoring, untuk materi tentang pola dan tehnik menjahitnya akan penulis poskan pada posting berikutnya. Inshaa Allah. Semoga bermanfaat. Terimakasih banyak atas kunjungan sahabat semua.

 

Kategori
materi belajar

Pemilihan Bahan Pelapis

1. Kriteria Pemilihan Bahan Pelapis Sesuai Jenisnya:
a) Underlining
1) Bahan yang stabil dan ringan.
2) Warna dan pemeliharaan bahan sesuai dengan bahan utama.
3) Pemilihan bahan lembut atau kasar disesuaikan dengan efek yang diinginkan

kain utuk gaunGbr.1. Gaun pesta dengan bahan utama renda atau brokat lining berwarna kontras sehingga memberi efek baru

b) Interfacing

  1. Sebaiknya dipilih bahan yang dapat memberi sokongan terhadap bentuk pakaian   tanpa merusak bahan utama (kain) atau mempengaruhi jatuhnya pakaian.
  2. Warna dan perawatan harus sesuai dengan bahan utama.
  3. Bahan yang bukan tenunan biasanya lebih keras daripada bahan yang berasal dari tenunan.
  4. Bahan kempaan biasanya memberikan efek yang lebih kaku pada bahan utama.
  5. Bahan interfacing yang ringan sampai sedang relatif lebih mudah untuk diterapkan pada semua jenis kain sedang yang tebal dan kaku sebaiknya dipilih untuk jenis kain dan bagian busana tertentu saja.

c) Interlining

  1. Pilih bahan yang memberi rasa hangat.
  2. Pilih bahan yang ringan.
  3. Pilih bahan yang flexible (bisa jatuh/tegak mengikuti bahan utama) dan tidak terkesan kebesaran.
  4. Cara perawatan harus sesuai dengan jenis bahan lain yang juga digunakan.

Jenis interlining yang paling banyak dipilih adalah wol biri-biri serta bulu domba polister non woven. Meskipun ada beberapa jenis kain lain yang bisa digunakan contohnya jenis-jenis flanel atau jenis kain selimut yang tipis. Ada beberapa jenis kain yang bisa digunakan sebagai lining ataupun interlining misalkan lining fleece boched.

d) Lining

  1. Pilih bahan yang lembut, kuat, tahan lama.
  2. Pilih bahan yang halus, tipis.
  3. Pilih bahan yang higroskopis/menghisap keringat.
  4. Sesuaikan dengan warna bahan utama, bila sulit mencari warna yang sama persis pilihlah warna yang setingkat lebih tua/muda.
  5. Cara perawatan harus sesuai dengan jenis bahan lain yang juga dipakai.
  6. Anti statis finishing lebih diutamakan

2. Pemilihan Bahan Pelapis (Lining) Sesuai Bahan Utama.

Lining digunakan pada bagian dalam pakaian untuk proses finishing serta untuk menyembunyikan bentuk/ kontruksi bagian dalam pakaian. Tak perduli jenis pakaian macam apapun seperti: gaun, jas, jaket, celana lining adalah bagian serta finishing yang paling mewah. Sebagian besar, lining dibuat dari jenis-jenis kain yang licin, warna lining bisa dipilih yang sesuai atau yang kontras dengan warna pakaian (kain utama yang akan digunakan). Bahkan juga bisa menggunakan kain cetakan yang tidak terlalu bagus sejauh liningnya rapi dan tak terlihat dari luar. Lining akan membuat pakain terasa hangat, selain itu juga akan memudahkan si pemakai untuk melepaskan dan memakai pakaiannya. Meskipun kain-kain untuk lining terbuat dari berbagai macam kain dasar, pilihan-pilihan tertentu harus dibatasi, selain itu lining juga haruslah kokoh sehingga dapat menopang konstruksi/ bentuk dalam pakaian.
Kualitasnya juga harus sesuai dengan jenis pakaian yang akan dibuat. Contohnya, lining mantel salju harus dipilih yang lebih hangat/tebal, seperti terlihat pada gambar.

gaun pest ling mantel

3. Memeriksa Kelayakan Bahan Pelapis

Pemilihan bahan lining sangat tergantung pada pemilihan bahan utama, pemilihan bahan utama tergantung pada pemilihan desain. Salah satu unsur pemilihan desain adalah disesuaikan dengan kesempatan pemakaian antara lain kesempatan dirumah, bekerja, rekreasi, oleh raga dan pesta. Untuk kesempatan kerja diperlukan kenyamanan selama beraktivitas dimana aktivitas itu banyak sekali pergerakan anggota badan dan banyak sekali mengeluarkan keringat oleh karena itu diperlukan bahan pelapis yang kuat, higroskopis, tidak mudah kusut dan mudah perawatannya agar pakaian menjadi nyaman saat dikenakan perlu diperhatikan pemakaian bahan pelapis baik interfacing maupun lining yang tepat. Contoh pemilihan bahan pelapis untuk kesempatan kerja yang dibuat dari bahan kartun dengan kelengkapan interfacingnya, bisa dilihat pada gambar 2.16. Pemilihan bahan yang tepat adalah yang terbuat dari katun dan satin.
Sedangkan pemilihan lining untuk kesempatan pesta juga harus disesuaikan dengan bahan utama yang berkesan mewah biasanya melangsai, lembut, tipis, dan berkilau. Untuk itu diperlukan lining yang bisa menopang bahan tersebut pemilihan lining yang tepat untuk kesempatan ini adalah yang bersifat lembut, halus warna dan cara perawatannya disesuaikan dengan bahan utamanya. Bahan lining yang tepat untuk busana pesta antara lain: satin, tricot, dan silky. Sedangkan interfacing yang tepat adalah tipis, lembut, dan elastis contoh cufner dari rajutan (welf).
Gambar dibawah menunjukkan busana pesta setengah resmi dengan bahan pelapis silky atau satin.

bus. kerja

bupest

Bahan pelapis dikatakan layak digunakan apabila:

  1. tidak terdapat caat atau kerusakan
  2. bahan pelapis interfacing sudah di tes apakah ada penyusutan sebelum dipasang pada bahan utama
  3. bahan pelapis sudah sesuai dengan bahan utama di tinjau dari kesesuaian warna dan warna tidak luntur, tekstur dan cara perawatan

4. Memerika Kerusakan Bahan Pelapis
Untuk mendapatkan hasil yang bagus diperlukan pengetahuan tentang perlakukan terhadap bahan sebelum meletakkan pola diatas bahan baik bahan utama maupun bahan pelapis (lining)
Salah satu fungsi lining adalah menyembunyikan sisi dalam jahitan pada pakaian, maka sebelum menggunting bahan pelapis (lining) harus dicermati secara seksama.
Pada lining terkadang terdapat cacat kain yang harus dihindari dalam pembuatan pakaian. Bila ditemukan cacat pada bahan segera diberi tanda dengan kapur jahit warna kontras dengan bahan dan memberi isolasi pada tempat yang cacat.

Cacat yang terdapat pada bahan lining diantaranya:

  1. warna yang tidak rata
  2. kerusakan serat bahan, seperti tenunan tidak rata sehingga ada bagian yang tebal atau tipis
  3. terdapat lubang atau kerusakan pada bahan
  4. terdapat benang yang lepas
  5. terdapat debu yang permanent pada lipatan atau tepi kain.Pada saat meletakkan pola diatas bahan lining diketahui ada bagian yang cacat atau rusak maka pada bagian tersebut harus dilewati (tidak boleh diberi pola) supaya ketika menjadi pakaian bagian bahan lining yang cacat tersebut tidak terpakai.
Kategori
materi belajar

Memberikan Bantuan untuk Pelanggan Internal dan Eksternal

Dalam dunia usaha kita tidak pernah terlepas dari konsumen atau pelanggan. Untuk mendapatkan banyak pelanggan dan mempertahankkan pelanggan yang sudah ada kita harus dapat memberikan pelayanan yang maksimal sesuai yang diharapkan oleh pelanggan atau konsumen.

1. Jenis-jenis Pelayanan
    a) Pelayanan yang ramah
Ramah adalah sikap yang menunjukkan keakraban, kesopanan kelemah-lembutan.      Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, seorang karyawan selain harus berpenampilan menarik juga dituntut harus memiliki sikap ramah. Pelanggan yang dilayani terdiri dari berbagai jenis manusia, berbagai tingkat social, suku bangsa, dan berbagai agama serta kepercayaan, maka harus bisa menyesuaikan diri dengan pelanggan.
Pelayanan yang Ramah dapat ditunjukkan antara lain:
1) Biasakan diri tersenyum dalam menghadapi siapapun
2) Melakukan tegur sapa dengan pelanggan secara akrab
3) Menanyakan kabar sebagai basa-basi adap Timur
4) Jika sedang sibuk, utarakan ungkapan yang dapat digunakan
5) Membantu membawakan barangnya dengan ikhlas jika ada pelanggan yang membawa bawaan
6) Biasakan menggunakan kata-kata yang baik, dan tidak melukai hati pelanggan

b) Pelayanan yang profesional
Karyawan yang professional adalah karyawan yang tahu dan menguasai bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya dengan bijaksana
Karyawan yang professional memiliki sikap mandiri dalam menjalankan tugasnya. Ia mampu memberikan kepastian mengenai pelaksanaan tugasnya dan mampu memutuskan hal-hal yang perlu mendapatkan respon secara cepat dan tepat.
Dengan demikian Karyawan yang professional dituntut memiliki kepribadian yang mantap, mampu bertanggung jawab, dan berdedikasi tinggi. Dengan kualitas demikian, diharapkan ia akan mampu memberikan Pelayanan Prima (maksimal) bagi perusahaan dan pelanggannya, memberikan keyakinan kepada pelangan dan pada akhirnya memuaskan semua pihak yang berkepentingan.

2. Karakter pelanggan
Pelanggan adalah pembeli atau pemakai produk/jasa. Dengan demikian pelanggan dapat diibaratkan sebagai jantung perusahaan. Bila jantung berhenti berdenyut, perusahaan akan mati. Sebaliknya, banyaknya pelanggan yang melakukan transaksi ibarat jantung yang sehat yang mengalirkan darah kehidupan kesekujur bagian tubuh. Karena pentingnya pelanggan bagi perusahaan, maka penjual atau penyedia jasa harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para pelanggan.
Berkaitan dengan perusahaan dan pelayanan prima, ada beberapa pengertian mengenai pelanggan, yaitu :
a) Pelanggan adalah orang yang paling penting dalam setiap kegiatan usaha (bisnis)
b) Pelanggan adalah orang yang tidak tergantung pada diri kita, tetapi kitalah yang tergantung padanya
c) Pelanggan tidak menginterupsi (mengganggu) pekerjaan kita, tetapi memberikan usulan bagi perbaikan usaha kita
d) Pelanggan datang sebagai sahabat, maka jangan menyuruhnya menunggu sampai kita tidak sibuk lagi
e) Pelanggan adalah bagian terpenting dalam usaha kita, bukan orang di luar perusahaan
f) Pelanggan adalah orang/lembaga yang melakukan pembelian produk/jasa kita secara berulang-ulang (Kontinue)
g) Pelanggan adalah orang yang memberikan perhatian penuh terhadap produk/jasa yang kita tawarkan
h) Pelanggan bukanlah sekedar uang dalam Cash Register kita, melainkan manusia dengan perasaan dan kemauan yang harus kita hormati
i) Pelanggan adalah seseorang yang membina hubungan baik dengan orang lain khusus dalam bidang usaha

3. Penggolongan Pelanggan
a) Pelanggan Internal (Internal Customer)
Pelanggan Internal adalah pelanggan yang berasal dari dalam perusahaan yang menjadi pelanggan dari produk yang di hasilkan oleh mereka sendiri
b) Pelanggan Eksternal (External Customer)
Pelanggan Eksternal adalah pelanggan yang berasal dari luar perusahaan yang memberi atau menerima barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan

4. Tipe-tipe Pelanggan
Secara garis besar ada beberapa tipe pelanggan. Pengelompokan ini tidak mempunyai dasar ilmiah (psikologi, sosiologi), namun sering dianut oleh para penyedia jasa.
a) Pelanggan pria
1) Tidak bertele-tele dalam mencari barang yang diinginkan
2) Kurang sabar dalam memilih barang yang diinginkan
3) Mudah dipengaruhi bujukan petugas pelayan
4) Mudah terpengaruh oleh penjelasan dan argumentasi yang obyektif
b) Pelanggan wanita
1) Sangat bertele-tele dalam memilih barang
2) Tidak mudah terpengaruh penjelasan/bujukan petugas pelayanan
3) Dalam memilih barang, biasanya lebih tertarik pada motif, bentuk atau warna, bukan manfaat barang tersebut, karena wanita cenderung menggunakan perasaan
4) Lebih mempunyai sesuatu yang bersifat modis, terutama dalam memilih produk pakaian, tas, sepatu,
5) Mudah meminta pandangan dan pendapat orang lain
6) Menyukai hal-hal yang bersifat teknis
7) Kurang menyukai hal-hal yang bersifat non teknis
c) Pelanggan remaja
1) Mudah terpengaruh bujukan petugas
2) Mudah terpengaruh tayangan iklan yang menarik
3) Seleranya sangat modis dalam memilih barang
4) Agak boros dalam berbelanja
d) Pelanggan usia lanjut
1) Sangat sulit terpengaruh bujuk rayu petugas
2) Sudah mantap dalam memilih barang yang diinginkan
3) Acapkali menanyakan barang-barang yang sudah ke tinggalan jaman
4) Biasanya bersikap ramah dan ngemong pada petugas yang masih muda-muda
5) Cenderung ingin berlama-lama dan ngobrol dulu dengan petugas

e) Pelanggan anak-anak
1) Umumnya masih suka bermain-main
2) Keinginannya terkadang tidak konsisten (suka berubah- ubah)
3) Tidak pernah diam, selalu bergerak kesana-kemari
4) Mudah dipengaruhi dengan bujuk rayu
f) Pelanggan pasangan
1) Suasana hati sedang diliputi kebahagiaan
2) Seia-sekata dan jarang terjadi perselisihan
g) Pelanggan pendiam
1) Kurang berani menyatakan kebutuhannya, karena malu
2) Enggan untuk bicara, karena sedang memikirkan mutu barang atau harga
3) Tidak mudah untuk dilayani karena tidak diketahui kebutuhannya
4) Tidak memusatkan pikirannya pada suatu barang, karena merasa gugup atau bingung
5) Kemampuan berbicaranya kurang, yang mungkin disebabkan oleh adanya kerusakan organis atau psikis
h) Pelanggan yang suka berbicara
Biasanya pelanggan ini pandai mengarahkan topik pembicaraan. Bahkan sering berbicara tentang berbagai persoalan tanpa menyinggung kebutuhannya untuk membeli sesuatu.
Dalam menghadapi pelanggan tipe ini kita hendaknya bersikap sabar dan bijaksana. Apabila pelanggan terus berbicara dan ketika mendadak berhenti, maka harus segera dialihkan pembicaraannya pada barang yang akan dibutuhkan.
i) Pelanggan yang gugup
Dalam menghadapi pelanggan yang gugup, hendaknya kita memperhatikan hal-hal yang berikut:
1) Tidak menawarkan barang secara berlebihan, supaya tidak membingungkan
2) Memusatkan perhatian pada barang-barang yang dibutuhkan
3) Menghindari sikap yang seolah-olah merendahkan pelanggan
4) Bersikap sabar dan tidak mudah kesal
j) Pelanggan yang ragu-ragu
Dalam menghadapi pelanggan yang ragu-ragu, hendaknya kita memperhatikan hal-hal yang berikut:
1) Berusaha untuk meyakinkan pelanggan tentang barang-barang yang dibutuhkannya
2) Mencoba menawarkan barang-barang yang mungkin diperlukannya
3) Menjelaskan segala jenis barang yang tersedia sampai mendetail, agar tertarik
4) Apabila pilihan pertama kurang menarik, tawarkan yang lainnya sebagai pilihan alternatif
5) Dengan sabar mengikuti selera pelanggan dan tidak memaksakan pendapat
6) Memberi jaminan kepada pelanggan.
k) Pelanggan Pembantah
Orang yang bertipe pembantah basanya akan menganggap dirinya paling pandai atau paling banyak tahu, sehingga tidak mau mendengarkan pendapat atau saran orang lain. Pelanggan seperti ini senang sekali berdebat kusir, sehingga membuat gaduh suasana, mengganggu perasaan, dll.
Dalam hal ini kita hendaknya menjaga agar hal tersebut tidak berlarut-larut.
l) Pelanggan yang Sadar
Pelanggan yang sadar biasanya mempunyai kepercayaan diri yang cukup tinggi karena sudah mengetahui dan merencanakan segala sesuatu yang akan dibelinya. Pelanggan yang sadar dalam melakukan transaksi hanya mengatakan keperluannya dengan ringkas dan jelas, sehingga tidak banyak membuang waktu dalam menentukan barang apa yang akan di belinya
m) Pelanggan yang Curiga
Pelanggan yang Curiga selalu berhati-hati dalam berbelanja. Dia tidak mudah dipengaruhi oleh penjual. Pelanggan tipe ini umumnya bersikap tidak tenang dan selalau merasa curiga akan ditipu. Kecurigaan tersebut muncul dikarenakan mungkin dia pernah mengalami salah beli atau tertipu.
n) Pelanggan yang Angkuh
Pelanggan yang Angkuh adalah pelanggan yang selalu ingin berkuasa dan menjadi pusat perhatian. Pelanggan ini mudah dikenal, karena segala sesuatu yang dilakukannya serba berlebihan, sombong, menawar barang di bawah harga standar.

5. Harapan Pelanggan
Seperti tercermin pada falsafah bisnis jasa pelayanan yaitu “pelanggan membeli pelayanan, bukan membeli produk”. Pelanggan itu tidak membeli produk yang kita tawarkan, tetapi membeli pelayanan yang kita berikan. Kalau pelayanan kita baik, ramah, penuh perhatian dan memenuhi kebutuhan pelanggan saat mereka datang, melihat, maka dari melihat, kemudian mencoba, meneliti, sampai akhirnya memutuskan untuk membeli.
Harapan-harapan Pelanggan antara lain:
a) Pelayanan yang baik
b) Informasi yang jujur dan benar tentang produk yang akan dibelinya
c) Pelayanan purna jual (after sales service) atau pelayanan setelah penjualan
d) Potongan harga atas barang yang dibelinya
e) Kelayakan harga atas barang yang dibelinya

6. Jenis-jenis Kebutuhan Pelanggan

Kebutuhan Pelanggan terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh perusahaan bisnis tentu selalu meningkat. Apabila perusahaan bisnis tidak memberikan pelayanan baik, maka akan menimbulkan kekecewaan bagi pelanggannya. Hal itu berarti pula bahwa perusahaan bisnis belum menerapkan pelayanan prima. Dalam hal ini mereka belum memberikan kepuasan kepada para kolega dan pelanggannya. Akibatnya mereka akan ditinggalkan para kolega dan pelanggannya.
Sebenarnya salah satu tujuan perusahaan bisnis adalah memberikan kepuasan kepada kolega dan pelanggannya, namun dalam praktiknya tidak mudah, salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya pelayan dalam memahami dan melaksanakan prinsip-prinsip Pelayanan Prima.
Pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kepuasan pelanggan. Sebab tujuan penerapan Pelayanan Prima untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

Ada beberapa pengertian kepuasan pelanggan, antara lain :
a) Kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap ketidak sesuaian yang dirasakan antara harapan dan kebutuhan dengan produk yang dirasakan setelah mereka menggunakannya.
b) Kepuasan Pelanggan adalah suatu tanggapan emosional pelanggan terhadap pengalaman setelah mengkonsumsi suatu produk atau jasa.
c) Kepuasan pelanggan adalah evaluasi purna beli terhadap alternatif produk yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidak puasan timbul jika hasil (out-come) tidak sesuai dengan harapan
d) Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan produk dan kinerja yang ia rasakan dengan kebutuhan dan harapannya.

Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan, perusahaan bisnis perlu melakukan beberapa tindakan, antara lain:
a) Mengidentifikasi harapan dan kebutuhan para pelanggannya.
b) Memenuhi harapan dan kebutuhan para kolega dan pelanggan terhadap kualitas produk barang dan jasa
c) Mempelajari dan menguasai prinsip-prinsip Pelayanan Prima
d) Memahami teknik pengukuran umpan balik tentang kepuasan pelanggan

Agar kita dapat melakukan tindakan konkret dalam menyelesaikan permasalahan dengan pelanggan, kita perlu memiliki catatan-catatan administrasi lengkap mengenai transaksi yang telah kita lakukan dengan pelanggan.

Berikut ini beberapa penjelasan mengenai sejumlah catatan administrasi yang kita perlukan:
1) Terjadinya pesanan dari para pelanggan
Pesanan dari para konsumen, dapat terjadi karena adanya jasa serta usaha-usaha dari:
(a) Pemasaran oleh wiraniaga/petugas penjualan/sales
(b) Pengiklanan di media massa (koran, majalah, radio, televisi)
(c) Pengedaran brosur, pamphlet, ktalogus, prospectus kepada masyarakat calon pembeli/konsumen
(d) Pameran/ekspo/fair dan demonstrasi yang dilakukan perusahaan beserta perusahaan lain
(e) Pengiriman penawaran secara langsung

2) Cara-cara pemesanan barang
Pemesanan barang dari konsumen yang dapat diperoleh perusahaan dapat melalui:
(a) Tenaga penjual
(b) Konsumen langsung datang sendiri
(c) Perantara (pihak ketiga)
(d) Media

3) Mencatat pesanan pelanggan
Setiap pesanan yang datang ke Perusahaan, baik langsung atau tidak langsung harus dicatat dengan cermat. Pesanan itu kemudian di cek kembali untuk mengetahui kekurangan dan kelengkapannya. Hal ini memerlukan komunikasi yang baik dengan konsumen atau pelanggan yang bersangkutan.

4) Mencatat kebutuhan dan identitas pelanggan
Untuk memudahkan pelayanan kepada pelanggan, kita perlu membuat catatan secara cpesifik tentang berbagai hal menyangkut pelanggan kita. Hal ini penting sebagai alat control ketika mulai mengadakan penjualan atau sewaktu melakukan pengiriman pesanan.
Salah satu yang perlu dicatat adalah kebutuhan pelanggan. Untuk mengetahui tentang kebutuhan pelanggan, kita perlu mencatat, misalnya identitas pelanggan. Maksudnya untuk mengenali selera pelanggan, produk yang digemari, kemampuan membeli berkaitan dengan tingkat penghasilan, harapan akan pelayanan yang selayaknya kita berikan, dsb.
Minimal kita dapat mengatakan bahwa pelanggan adalah aset yang perlu kita pupuk dan kita bina untuk memajukan usaha kita. Identitas pelanggan yang ada pada kita bisa digunakan untuk menghubungi pelanggan. Misalnya kita memmberitahu akan segera mengirimkan barang-barang pesanan pelanggan, dsb.

5) Menegaskan kembali kebutuhan pelanggan
Produsen bukan hanya mampu menyediakan barang atau jasa kepada orang yang membutuhkannya, tetapi juga kepada orang yang mungkin mau membeli barang atau jasanya. Untuk itu produsen harus mampu mengadakan pendekatan-pendekatan kepada calon konsumennya dengan jalan menarik perhatian mereka, dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang memadai mengenai produk atau jasa kita, sehingga mereka memutuskan untuk membeli.
Caranya adalah dengan meneliti kembali kebutuhan pelanggan menyangkut hal-hal sebagai berikut:
(a) Perinci kembali kebutuhan pelanggan berdasarkan pesanan yang kita terima
(b) Menganalisis kembali system pembayaran yang selama ini kita berlakukan, khususnya bagi pelanggan
(c) Menganalisis kembali system pengiriman barang
(d) Perlu tidaknya garansi untuk barang-barang yang kita jual
(e) Bagaimana ketentuan barang yang rusak yang sudah terlanjur dibeli

6) Mewujudkan kebutuhan pelanggan
Setiap pesanan ke Perusahaan merupakan awal terjadinya transaksi penjualan. Oleh karena itu, setiap pesanan perlu dan harus mendapat perhatian secara maksimal. Setiap pesanan yang diajukan pembeli harus dapat kita tangkap dengan cermat, kita catat, dan kita cek kebenarannya.

Untuk barang-barang yang sudah tersedia, maka penyerahan atau pengiriman dapat dilakukan segera atau dalam waktu yang pendek. Barang yang tidak tersedia biasanya membutuh kan waltu sampai bisa dikirimkan. Hal yang harus diingat penyerahan barang dari penjual kepada pembeli, harus dicatat kapan terjadinya, tanggal, bulan, dan tahun.

Mengenai waktu pembayaran dapat dipilih salah satu ketentuan sebagai berikut:
(a) Prepaid (dibayar di muka) artinya pembeli membayar lebih dahulu sebelum barang diterima
(b) Rembours (cash on delivery) artinya barang yang dibeli hanya akan dikirim dan diterima pembeli jika barang sudah dibayar
(c) Cash (tunai/kontan) artinya harus dibayar secara tunai
(d) Credit (kredit) artinya pembayaran dapat dilakukan beberapa waktu setelah barang diterima
(e) Installment (cicilan/angsuran) artinya dapat dibayar dengan mengangsur/mencicil
(f) Discount (potongan) artinya ada sejumlah uang yang harus dibayar penjual kepada pembeli
(g) Pembayaran dengan menggunakan mata uang asing
7) Menyatakan Terima Kasih
Setiap pembeli mengharapkan memperoleh pelayanan yang baik, pelayanan yang cepat, dan menyenangkan. Dari sudut penjual (produsen), pelayanan dapat dianggap sebagai investasi, karena pelayanan yang baik akan menimbulkan hubungan yang baik dengan pelanggan dan akhirnya penjualan akan meningkat.
Salah satu bentuk pelayanan yang baik adalah dengan mengucapkan terima kasih. Meskipun mungkin hanya sebuah ucapan, namun ucapan terima kasih akan memberikan dampak positif pada hubungan antara produsen dan konsumen. Ucapan terima kasih kepada pembeli meninggalkan kesan yang baik di hati para pembeli atau pelanggan.

7. Mengatasi Keluhan Pelanggan
Sekecil apapun kekecewaan Pelanggan adalah merupakan keluhan yang harus segera ditangani. Disinilah para petugas pelayanan harus mampu mengatasi keluhan tersebut agar tidak semakin membesar dan berdampak kurang baik bagi perusahaan.
Ada beberapa kiat dalam menangani keluhan pelanggan, yaitu :
a) Hadapilah keluhan pelanggan dengan bijaksana, jangan terbawa emosi pelanggan, petugas tidak boleh marah, walau hati sakit mendengar omelan pelanggan
b) Dengarkanlah dengan penuh perhatian semua keluhan pelanggan, sedapat mungkin hidupkan suasana penuh keakraban
c) Petugas pelayanan tidak dibenarkan membuat janji-janji hanya untuk menyenangkan pelanggan, padahal janji tersebut diluar kewenangannya
d) Berikanlah rasa simpatik dan ikut merasakan kesulitan yang menimpa pelanggan
e) Tanggapilah keluhan tersebut dengan baik, sertakan ucapan maaf yang tulus dan berjanji akan memperbaiki kekurangan atas pelayanan yang diberikan

Pada dasarnya keluhan pelanggan dapat dikategorikan ke dalam 4 bagian utama, yaitu:
a) Keluhan mekanikal
Biasanya keluhan ini disampaikan oleh pelanggan karena barang yang dibelinya mengalami kerusakan pada sebagian atau salah satu peralatan atau barang yang dibeli tersebut.
Keluhan mekanikal ini biasanya sering terjadi pada pembelian barang-barang mekanikal dan elektrikal (seperti TV, tape, radio, AC, laser disc, mobil, motor, dll)
b) Keluhan akibat sikap petugas
Biasanya keluhan ini disampaikan oleh pelanggan, karena sikap petugas yang kurang baik atau egative pada saat melayani pelanggan
Yang lebih berbahaya lagi bila petugas pelayanan tersebut memposisikan dirinya ingin menjadi “pusat perhatian” dengan pakaian dan aksesoris keren, make-up yang wah.
c).Keluhan akibat pelayanan buruk
Biasanya keluhan pelanggan karena hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan itu sendiri yang buruk.
Misalnya:
(1) Di restoran, penyajian hidangan yang terlalu lama membuat tamu bosan dan jengkel, sehingga selera makan menjadi hilang
d) Keluhan Yang Aneh
Keluhan yang aneh adalah keluhan pelanggan yang di mata petugas merupakan keluhan yang tidak wajar. Pelanggan yang mengeluh seperti ini secara psikologis mungkin hidupnya tidak bahagia, kesepian, atau stress. Keluhan yang disampaikan kadangkala tidak perlu dicarikan jalan keluarnya, cukup di dengarkan dengan penuh perhatian, karena biasanya orang seperti ini hanya menginginkan hubungan yang hangat antar manusia
Dalam menghadapi keluhan pelanggan, kita harus menyadari bahwa keluhan tersebut adalah salah satu langkah untuk menuju perbaikan kinerja perusahaan. Keluhan tidak berarti penghinaan terhadap produk perusahaan, melainkan merupakan koreksi yang efektif yang akan membuat perusahaan semakin matang. Dengan adanya keluhan, para petugas pelayanan akan menjadi lebih professional dalam bekerja.

8. Pelayanan Prima
Pelayanan Prima pada hakekatnya adalah pelayanan ditujukan kepada pembeli potensial (calon pembeli) dan kepada pelanggan tetap. Pelayanan Prima juga berarti apa yang kita peroleh pada hari ini untuk menunjang pada masa yang akan datang yang sangat dibutuhkan oleh semua anggota perusahaan
Untuk tercapainya keberhasilan itu, semua anggota perusahaan tanpa terkecuali harus terlibat di dalamnya. Apakah mereka berhubungan langsung dengan pelanggan atau tidak, semuanya terkait dengan pelayanan prima.

Beberapa pengertian Pelayanan Prima dapat disebutkan antara lain sebagai berikut:
a. Upaya membuat pelanggan merasa penting
b. Upaya membuat rekan sekerja merasa nyaman bekerja sama dengan kita
c. Upaya melayani pelanggan dengan yang ramah, cepat, dan tepat
d. Upaya mengutamakan kepuasan pelanggan
e. Upaya menepati janji yang telah disepakati, khususnya kepada pelanggan
f. Upaya mendatangkan pelanggan baru
g. Upaya melayani dengan etika dan sopan santun
h. Upaya menekan rasa marah, jengkel, dan kesal ketika melayani pelanggan
i. Upaya mengerti/memahami kebutuhan pelanggan
j. Upaya menangani keluhan kebutuhan

Untuk menuju sasaran yang dimaksud, kita dapat menggunakan konsep A3 (Attitude, Attention, Action), sebagai dasar melakukan pelayanan secara prima, yaitu:
a) Konsep Sikap (Attitude)
Sikap adalah suatu pernyataan yang bersifat menilai berupa suka atau tidak suka terhadap barang atau jasa tertentu. Sedangkan perilaku adalah perwujudan dari sikap yang dimiliki seseorang yang dapat diamati, dilihat, dan dirasakan. Sikap dan perilaku yang diharapkan pada pelayanan prima adalah sikap yang baik dan simpatik sehingga proses pelayanan dapat berlangsung dengan baik.
Bentuk-bentuk pelayanan berdasarkan konsep sikap (attitude) adalah:
1) Pelayanan berpenampilan serasi, yaitu berhias, berbusana serasi, dan ekspresi wajah yang cerah
2) Pelayanan dengan berpikir positif, yaitu tidak bersikap apriori, tidak memanfaatkan kelemahan calon pembeli/pelanggan
3) Pelayanan dengan sikap menghargai, yaitu sikap hormat, dan ramah, tutur bahasa yang disertai dengan senyum

b) Konsep Perhatian (Attention)
Seorang penjual yang baik akan senantiasa menunjukkan penampilan dan pembicaraan yang mampu menarik perhatian pelanggan atau calon pembelinya.
Untuk dapat berperilaku demikian seorang penjual perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Mendengarkan dan memahami kebutuhan pembeli atau pelanggan (menjadi pendengar yang baik)
2) Menaruh perhatian pada pembeli dan keluarganya
3) Menjaga penampilan sebaik mungkin
4) Mengamati perilaku pembeli atau pelanggan

c) Konsep Tindakan (Action)
Action yang dimaksud di sini adalah suatu perilaku melayani untuk memenuhi kebutuhan pembeli/pelanggan. Pelayanan ini adalah bentuk pelayanan yang mengarah pada transaksi jual beli.
Bentuk-bentuk pelayanan berdasarkan konsep Tindakan (Action) adalah:
1) Mencatat pesanan pembeli/pelanggan
2) Mencatat kebutuhan pembeli/pelanggan
3) Menegaskan kembali kebutuhan pembeli/pelanggan
4) Mewujudkan kebutuhan pembeli/pelanggan
5) Menyatakan terima kasih dengan harapan pembeli/pelanggan akan datang kembali

9. Pentingnya Pelayanan Prima kepada Pelanggan.
Pelanggan merupakan jiwa Perusahaan. Maka selayaknya mereka diperlakukan sebagai raja. Seorang raja harus dihormati dan dipenuhi segala kebutuhannya. Itu berarti setiap pelanggan harus memperoleh pelayanan (service) yang baik. Hal yang ingin dicapai dengan pelayanan yang sebaik-baiknya adalah adanya kebebasan memilih, mempertimbangkan dalam suasana dan kesan yang menyenangkan bagi pelanggan sehingga mereka puas dan merasa senang berhubungan dengan kita.
Pokok-pokok pelayanan yang perlu diperhatikan agar pelanggan puas dan senang adalah :
a) Setiap pelanggan menginginkan pelayanan yang terbaik dan memuaskan.
b) Pelayanan prima dapat menghindarkan terjadinya tuntutan- tuntutan yang tidak perlu.
c) Pelayanan prima menghilangkan rasa kecewa pelanggan, misalnya sebagai akibat produk kurang memuaskan.
d) Pelayanan prima dapat menumbuhkan minat dan keputusan untuk membeli atau menggunakan jasa saat itu juga

Kategori
materi belajar

Terminologi bidang penggabungan garmen

Contouring
Menyatukan potongan-potongan komponen garmen yang mempunyai bentuk yang berbeda. Keliman dapat memiliki ukuran yang sama, namun dengan panjang atau derajat kurva yang berbeda. Sangat penting untuk menyesuaikan derajatnya dan menjaga tepi setiap bahan/kain menjadi satu.

Contoh-contoh contouring:

  • Menyatukan kerah dasar pada garis leher
    Menyatukan kerah dua bagian yang sederhana
    Menyatukan yoke berbentuk sederhana pada korset
    Menyatukan ikat pinggang yang sederhana pada rok
    Kemampuan menyatukan dua bagian yang berlainan, yaitu, kurva cembung dan cekung, mengharuskan pengguna mesin untuk untuk melepaskan secara bersamaan tanpa menggores atau mengerutkan bagian manapun juga. Sangatlah penting untuk menjaga agar tidak terdapat kerutan atau penyimpangan pada bagian yang telah selesai.

Perubahan arah (Directional change)
Perubahan ini dapat mencakup hal-hal berikut:
Mempertahankan ketajaman titik atau sudut, missal, ujung kerah.
Pemasukan ‘V’ pada yoke, garis leher, dll.

Jahitan atas dengan perubahan arah
Jika perubahan arah tidak pasti, tampilan akhir akan menjadi kurang bagus. Perubahan arah yang buruk dapat menyebabkan sudut-sudut melingkar, bentuk pinggiran kerah yang berbeda-beda, dan/atau pemasukan ‘V’ yang tidak tepat di tengah.

Titik-titik pemberhentian kritis (Critical stopping points)
Hal ini dapat termasuk:

Pada pinggir bibir saku

Menjahit keliman untuk pembuka (ritsleting)

Menjahit keliman untuk titik yang tepat sehingga dapat pemakaian, misal, ritsleting atau godet.

Titik pemberhentian kritis harus benar jika tidak maka akan sulit untuk menjahit bagian-bagian garmen yang tersisa. Misalnya, ritsleting tidak akan muat kedalam pembukaan keliman. Tampilan dan kualitas akhir garmen akan menjadi jelek. Ketika menjahit ritsleting kedalam keliman lurus, keakuratan dan petepatan perubahan arah dan titik pemberhentian kritis sangatlah penting.

Arah serat bahan (Fabric grain)
Serat-serat bahan mengarah ke arah yang sama seperti benang yang mengarah paralel ke pinggiran bahan.

Takik / torehan (Notch)
Merupakan potongan lurus kecil atau potongan berbentuk ‘V’ di bagian pinggir kain untuk menunjukkan dimana bagian-bagian garmen perlu digabungkan atau dimana keliman perlu dicocokkan.

Garis jahit (Sewing line)
Garis yang digambar pada kain oleh pembuat pola untuk menunjukkan bagian bahan mana yang perlu dipotong.

Gunting besar (Shears)
Serangkaian alat pemotong dengan dua buah pisau yang digabungkan dengan sebuah poros mur dan baut, didesain untuk memotong dengan tangan, satu demi satu lapis kain atau beberapa lapis kain secara bersamaan.

Label identifikasi kerja (Job identification tickets)
Label yang menyediakan informasi mengenai isi bagian-bagian komponen pra-pemotongan yang diikat.

Aksesoris dan hiasan dapat meliputi:
Banding
Serangkaian bahan yang digunakan dalam pembuatan ban celana panjang, dll.
Kancing
Segala jenis kancing dua-lubang, empat-lubang dan kancing shank.
Tali (Cord)
Digunakan dalam celana pendek, fleecy lined tops, kerudung, pakaian renang, pakaian olahraga, jaket, dll.

Elastik/karet (Elastic)
Bahan-bahan dengan keregangan tinggi yang digunakan pada ikat pinggang, shirring pada pakaian anak-anak, pakaian dalam pria dan wanita dan pakaian luar.
Viseline (fusing)
Digunakan untuk membuat kaku atau membentuk berbagai bagian garmen.
Ritsleting
Tersedia dalam serangkaian warna senada dan berbagai panjang yang sesuai dengan opening.
Label
Label bahan dapat menunjukkan nama pabrik, ukuran garmen, jenis bahan, negara asal, instruksi pencucian, dll.
Interlining
Lapisan tipis pada bahan yang digunakan untuk menopang bahan/kain utama.
Lining
Lapisan tipis pada bahan yang ditambahkan pada bagian dalam garmen.

 

Kategori
materi belajar

PENGIKATAN POTONGAN PAKAIAN

Terminologi bidang pengikatan potongan pakaian

Batch (dye lot)
Seluruh rol bahan tekstil yang dicelup pada waktu yang sama, pada tempat pencelupan yang sama, membuat bayangan yang sama pada semua bahan.

Bayangan (Shades)
Sedikit perbedaan warna bahan dari hasil pencelupan yang berbeda namun pada warna yang sama.

Meja pengikatan (Bundling table)
Meja setinggi pinggang untuk memilah komponen dan meletakkan aksesoris, lalu menyatukannya menjadi satu ikatan yang dibutuhkan.

Lembar spesifikasi (Specification sheet)
Lembaran berisi segala informasi yang diperlukan untuk membuat tiket dan label yang akurat dan lengkap.

Komponen (Component)
Bagian dari garmen yang telah dipotong.

Ikatan (Bundle)
Paket bagian-bagian garmen yang lengkap, termasuk aksesoris, potongan, label dan tiket yang siap untuk proses pembuatan.

Pita (Tie)
Secarik bahan (panjang) yang digunakan untuk mengikat semua bagian menjadi satu. Sering kali pita ini dipotong dari sisa bahan yang tak terpakai.

Troli (Trolley)
Keranjang atau rak kecil yang mempunyai roda untuk mengirimkan ikatan yang sudah selesai.

Bahan rajutan (Woven fabrics)
Bahan ini mempunyai pakan dan lungsin yang dirajut dengan alat. Dapat dibuat dari bahan alami, sintetis atau benang dan serat campuran. .

Bahan non-rajut (Non-woven fabrics)
Bahan yang tidak dirajut, seperti bahan yang dibuat dari bahan kimia, biasanya digunakan untuk interfacing atau interlining, misalnya viseline.

Kesalahan (Faults)
Kerusakan dapat berupa:
• lembaran komponen hilang
• komponen rusak
• aksesoris tidak tepat
• tiket dan label identitas tidak lengkap

Hiasan (Trims)
Komponen garmen tambahan yang terpisah dari komponen yang dipotong dari lembaran yang sama. Ini dapat berupa bahan pengisi, furing, lapisan, elastik, dsb.

Ban (Banding)
Berbagai bahan yang digunakan untuk membuat ban pada celana, dsb.

Kancing (Buttons)
Semua jenis kancing dengan dua lubang, empat lubang.

Tali (Cord)
Digunakan pada celana pendek, atasan yang longgar, hood (topi kerudung), baju renang, baju olah raga, jaket, dsb.

Elastik / karet (Elastic)
Bahan yang mempunyai daya mulur yang sangat besar digunakan untuk ban pinggang, manset, kerutan pada pakaian anak, pakaian dalam dan pakaian luar pria dan wanita. .

Visekine (Fusing)
Digunakan untuk membuat kaku dan membentuk berbagai bagian dari garmen.

Ritsleting (Zips)
Tersedia berbagai jenis warna dan ukuran sesuai untuk bagian penutup.

Label
Gantungan pada bahan yang menyebutkan nama pabrik, ukuran garmen, jenis bahan, asal negara, instruksi pencucian, dsb.

Tiket kerja (Work ticket)
Lembar informasi mengenai proses-proses yang harus dilalui oleh potongan bahan saat pembuatan.

Lapisan (Interlining)
Lembaran bahan tipis digunakan untuk mengeraskan bahan utama.

Lining
Lembaran bahan yang tipis direkatkan pada bagian dalam garmen.
2. Proses pengikatan potongan pakaian

Persiapan Pengikatan Potongan Pakaian

  • Periksa lembar spesifikasi kerja untuk jenis tiket yang akan dibuat
  • Periksa apakah tempat kerja termasuk lantai, bebas dari gangguan dan bersih serta siap digunakan untuk bekerja
  • Ikuti semua peraturan kesehatan dan keamanan area kerja
  • Periksa apakah mesin cetak yang akan digunakan mempunyai tinta yang cukup, menggunakan jenis kertas atau kartu yang benar yang bebas dari minyak dan bersih, siap untuk digunakan
  • Masukkan informasi kedalam mesin pencetak dari lembar spesifikasi kerja. Informasi tersebut meliputi: identifikasi pemotong, nomor pesanan, model, ukuran, jumlah lembaran, bayangan atau kelompok pencelupan, jumlah dalam ikatan, dll
  • Periksa informasi yang anda telah masukkan ke mesin, yakinkan bahwa itu sudah benar dan tidak ada yang tertinggal
  • Cetak beberapa tiket kerja dan periksalah untuk meyakinkan bahwa semua informasi yang tertera pada lembar spesifikasi terdapat juga pada tiket
  • Periksa hasil cetakan memiliki kualitas yang baik
  • Pada tahap akhir proses pemeriksaan, masukkan jumlah tiket yang akan dicetak
  • Cetak atau tulis tangan jumlah tiket yang diperlukan, sesuai dengan lembar kerja
  • Periksa kualitas tiket, yakinkan bahwa cetakannya mudah dibaca dan tidak terdapat coretan atau tempat kosong
  • Sematkan tiket kerja pada ikatan-ikatan

Demikian tentang terminologi dan persiapan proses pengikatan potongan pakaian, kelanjutan materi di atas dapat dilanjutkan ke posting berikutnya.