Kategori
Pengetahuan

PENGEMASAN

Assakamu’alaikum……selamat malam sahabat blog http://www.ontbpwjt.wordpress.com, pada posting sebelumnya telah kita bahas mengenai Persiapan Pelabelan dan Pengemasan. Pada pos kali ini kita akan mempelajari tentang pengemasan. Yuk kita pelajari bersama…..

Langkah awal dalam proses pengemasan adalah mengidentifikasi produk yang akan dikemas dan jenis kemasan yang akan dipergunakan. Hal ini dimaksudkan agar kemasan dapat disesuaikan dengan produk, sehingga kemasan tidak merusak produk.

Identifikasi produk dilakukan berdasarkan:

  • ukuran,
  • model,
  • warna,
  • jenis bahan,
  • kualitas produk,
  • harga jual,
  • teknik pendistribusian, dan sebagainya.

Sedangkan identifikasi kemasan dilakukan untuk menyesuaikan ukuran lipatan produk dengan ukuran kemasan dan bahan kemasan. Produk sesuai dengan jenisnya dikemas dengan cara dilipat, atau digantung dan kemudian dimasukkan dalam kemasan. Gantungan dan lipatan produk disesuaikan dengan ukurannya dan ukuran kemasan yang akan digunakan sebagai pembungkusnya. Oleh karena itu dalam proses melipat dibuat pola atau
cetakan yang sesuai dengan ukuran kemasan agar produk dapat ditata dengan rapih dan sesuai kemasannya.

Kemasan produk busana baik bahan maupun ukurannya disesuaikan dengan jenis bahan, model, serta menunjukkan spesifikasi atau ke khasan produsennya. Proses pengemasan dimulai pada saat penyeterikaan atau proses pressing. Pada proses ini produk yang akan dikemas dengan cara digantung, diseterika secara menyeluruh dengan rata, licin, dan tidak membuat lipatan karena produk setelah diseterika langsung digantung.

1. Pengemasan Dengan Cara Digantung
Pada perusahaan atau industri busana besar, dan untuk jenis produk tertentu, penyeterikaan atau pressing untuk busana yang akan dikemas dilakukan dengan cara digantung dan tidak dilipat. Pressing atau penyetrikaan dilakukan dengan menggunakan alat yang menyerupai lemari pakaian (gambar 2.1), produk dimasukkan pada alat pressing tersebut kemudian tinggal mengatuir tombol dan dalam waktu tertentu produkl sudah licin.

00-kemasan-gantungKemudian produk digantung pada hanger, dipasang hang tag dan paper tag, atau atribut lainnya, kemudian dimasukkan dalam kemasan. Contoh hasil pengemasan produk dengan cara digantung dapat dilihat pada gambar 2.2. Setelah produk dikemas kemudian dipak atau dikemas dalam wadah berupa peti atau kotak terbuat dari kayu yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran gantungan, atau dimasukkan langsung ke dalam kontainer.
Langkah kerja pengemasan produk yang harus digantung adalah:

  1. Siapkan kemasan yang ukurannya telah disesuaikan dengan ukuran produk
  2. Masukkan produk pada alat pressing nyalakan tombol dan atur suhu sesuai petunjuk dan jenis bahan
  3. keluarkan produk dari alat pressing
  4. gantung dengan hanger yang sesuai ukurannya
  5. masukkan gantungan produk pada plastik kemasan
  6. gantung pada tempat (hanger) untuk dilanjutkan dengan pemasangan label
  7. masukkan dalam tempat kemasan (kotak besar atau kontainer) dalam posisi
    tetap tergantung.

000

2. Pengemasan Dengan Cara Dilipat
Produk yang dikemas dengan cara dilipat dilakukan pelipatan sesuai dengan ukuran kemasan.

a. Bahan Penunjang
Untuk mendapatkan hasil lipatan yang sama atau sesuai dengan ukuran dan jenis kemasan, digunakan bahan penunjang yang terbuat dari karton atau mika, sehingga hasil pengemasan atau lipatan produk rapih, seperti halnya dalam proses melipat menggunakan cetakan yang terbuat dari karton. Adapun bahan penunjang dalam proses pengepakan adalah:

  • penahan kerah bagian dalam, terbuat dari karton
  • cetakan ukuran lipatan terbuat dari karton (gambar 2.3.)
  • penahan lipatan atau crocodile dalam berbagai jenis dan ukuran (gambar 2.4.)
  • penahan lipatan pakaian terbuat dari karton (gambar 2.5.)
  • penahan kancing dan krah bagian tengah muka, terbuat dari karton atau mika (gambar 2.6.)
  • penahan krah bagian luar terbuat dari karton atau mika yang panjangnya dapat disesuaikan dengan ukuran lingkar leher produk (gambar 2.7)

001

002

003

b. Cara Melipat Pakaian Dalam Pengepakan
1) Strika bagian kerah, lengan, dan bagian muka busana.
2) Strika bagian belakang kemudian letakkan karton cetakan ukuran lipatan pada bagian punggung. Lipat pakaian sesuai dengan cetakan, dan pada saat melipat bagian lengan, gunakan crocodille sebagai penjepit agar letak lipatan lengan tidak berubah (gambar 2.7. a. dan 2.7.b.)

004

3) Lepas cetakan dan pasang karton penahan dengan cara menarik karton cetakan perlahan -lahan dan bersaman dengan itu masukkan perlahan -lahan karton penahan. Setelah karton cetakan terangkat, jepit lipatan bagian belakang dengan crocodille (gambar 3.8.)
4) Pada bagian muka jepitkan crocodille untuk menjepit bagian lipatan ujung lengan lihat gambar gambar 3.9.).

005

5) Kemudian pasang penahan krah, penahan kancing untuk model -model tertentu yang memerlukan penahan pada bagian krah dan kancing tengah muka atas.
6) Pilah dan kelompokkan produk yang telah dilipat dan tumpukkan sesuai dengan ukuran dan model (gambar 3.10).

006

7) pasang hang tag dan paper tag, serta atribut lain yang ingin ditempel pada produk, kemudian masukkan dalam kemasan sesuai dengan yang telah ditetapkan (plastik, kotak, atau kemasan lainnya) lihat gambar 3.11. Contoh hasil kemasan produk busana yang dilipat dapat dilihat pada gambar 3.12.

007

008

3. Pengepakan
Setelah produk dikemas, kemudian dipilah-pilah dan dikelompokan sesuai dengan ukuran, warna, dan jenis kemasannya. Setelah dikelompokkan, kemudian disusun dalam ukuran yang sama untuk satuan tertentu (lusin atau kodi) dengan memperhatikan seri warna. Sebagai contoh: produksi kemeja dibuat untuk ukuran S,M,L dari bahan katun dengan warna merah, biru, kuning, dan hijau. Maka kemasan disusun secara seri untuk satu kodi (20 buah) terdiri dari: warna merah, biru, kuning, dan hi jau masing-masing 5 buah dalam ukuran yang sama (S saja, M saja, dan sebagainya).
Setelah produk disusun dan dikelompokan secara seri, maka langkah selanjutnya adalah menyusun kemasan dengan rapih dalam satu wadah yakni dos karton tebal yang ukurannya tel ah disesuaikan dengan ukuran kemasan produk. Kemasan harus ditata rapih agar tidak terlipat atau terjepit yang dapat menjadikan produk tampak kusut. Untuk menyusun produk kemasan dimasukan dalam dos, kemudian kardus ditutup rapat (di lak).
Setelah produk disusun dalam kemasan satuan tertentu, maka selanjutnya adalah menyusun kardos-kardos tersebut dalam kotak atau kardus yang lebih besar lagi, untuk memudahkan dalam penyimpanan atau pendistribusian dan
kepentingan pemasaran.

Demikian …telah kita pelajari tentang pengemasan, semoga mudah dimengerti dan dipahami dan semoga bermanfaat sebagai penunjang belajar sahabat blog.

Terimakasih bagi Anda yang telah berkunjung di blog saya, mohon saran dan kritiknya untuk perbaikan blog saya yg masih dalam taraf belajar.

Kategori
Tak Berkategori

PERSIAPAN PELABELAN DAN PENGEMASAN

Untuk dapat melakukan  pelabelan dan pengemasan, kita harus mempelajari terlebih dahulu tentang:

  1. Pengertian Label dan Kemasan,
  2. Fungsi Kemasan
  3. Alat Pengemasan
  4. Bahan untuk Label dan Kemasan, serta

1. Pengertian Label Dan Kemasan
Label adalah tanda-tanda berupa gambar atau tulisan yang menunjukkan identitas suatu produk. Label dapat pula berarti nama dagang, atau merk produk. Label memuat keterangan -keterangan tentang produk yang ingin disampaikan produsen terhadap konsumen.
Label busana dapat berupa cetakan yang digantung atau ditempel terbuat dari kertas atau plastik, label yang dibordir langsung pada bagian tertentu seperti pada bagian lengan dan saku, dan label yang dibuat dengan cara disablon/printing langsung pada bahan produk seperti yang biasa diletakkan pada bagian punggung bagian buruk atau bahkan dicetak langsung pada bagian luar dan dijadikan sebagai aksesoris, atau yang peletakkannya dengan cara dipasang. Selain berupa barang cetakan atau bordiran, label juga seringkali dimuat pada aksesoris atau pada pelengkap yang dipasang pada busana seperti halnya pada kancing, kancing hak, pada bagian ujung atau pegangan ritsluiting, pada karet, atau pada tali. Bahkan yang terakhir seringkali ditujukan produsen untuk menyatakan atau untuk dijadikan bukti bahwa produk memang asli (original). Letak atau posisi label disesuaikan dengan sample product yang dikehendaki pemesan.

Contoh-contoh letak atau posisi label dapat dilihat pada  gambar berikut :

0-contoh-pemasangan-labelKemasan merupakan striker dalam memperoleh pangsa pasar. Daya tarik kemasan merupakan inti dalam merebut perhatian konsumen, yang akan mempengaruhi tindakan konsumen baik secara sadar maupun tidak. Daya tarik produk tidak dapat dipisahkan dari kemasannya. Bahkan kemasan dapat dijadikan sebagai sarana promosi untuk merebut daya saing produk lain terhadap konsumen.

2. Fungsi Kemasan
Kemasan selain berfungsi untuk melindungi barang terhadap cuaca atau proses alam lainnya yang dianggap merusak barang. Kemasan juga digunakan sebagai wadah agar barang mudah dibawa kemana saja selama dalam perjala nan. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan semakin kompleks, dimana persaingan dalam dunia usaha semakin tajam dan kalangan produsen saling berlomba merebut perhatian calon konsumen, kini konsep fungsional pengemasan telah menjadi bagian penting yang harus mencakup seluruh proses pemasaran dari produk sehingga akhirnya sampai pada konsumen.

Merencanakan label dan kemasan harus didasarkan pada: karakteristik produk, proses produksi, harga produk, jalur distribusi, produk pesaing, sasaran pasar, promosi, dan kecenderungan atau trend mode. Disamping itu harus diperhatikan daya tarik kemasan dari segi praktisnya bahwa:
a. Kemasan yang menjamin dapat melindungi produk
b. Kemasan yang mudah dibuka atau ditutup kembali untuk disimpan
c. Kemasan dengan porsi yang sesuai untuk produk
d. Kemasan dapat digunakan kembali/daur ulang
e. Kemasan yang mudah dibawa, dijinjing, atau dipegang
f. Dan lain-lain berdasarkan pertimbangan kebutuhan dan sifat produk itu sendiri.

3. Alat Pengemasan
Pengemasan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah proses finishing produk sebelum produk didistribusikan dan dipasarkan. Pengemasan harus dilakukan dengan baik dan benar karena kemasan akan berpengaruh terhadap tampilan suatu produk. Dalam pelaksanaannya pengemasan dan pengepakan harus disesuaikan dengan jenis produk (bahan, model, dan sebagainya) yang akan dikemas dan jenis kemasan yang akan dipergunakan baik ditinjau dari segi jenis bahan kemasan, bentuk kemasan, maupun ukuran kemasan yang digunakan. Pengepakan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah proses pengemasan produk selesai. Pengepakan terdiri dari dua tahap yaitu pengepakan produk atas satuan produk yakni kemasan yang dilakukan pada setiap produk, dan pengepakan akhir yang terdiri dari beberapa kemasan atau dalam satuan tertentu seperti dozin (lusin), atau kodi menjadi satu dalam satu tempat (kardos). Alat-alat yang dipergunakan untuk proses pengepakan dan pengemasan:
a. Seterika: dipergunakan pada proses melipat busana yang akan dikemas dan diberi label. Seterika yang dipergunakan adalah seterika uap dengan energi LPG atau listrik yang dilengkapi tabung yang diisi air untuk menghasilkan uap. Selain diperoleh hasil yang lebih rapih, penggunaan strika uap ini menjadikan waktu penyeterikaan lebih cepat. Contoh seterika uap yang banyak dipergunakan pada industri busana kecil sampai menengah dapat dilihat pada gambar 1.6

00-sterikauapb. Cetakan: yaitu lembaran yang dibuat untuk menentukan besar kecilnya lipatan, ukurannya disesuaikan dengan ukuran lipatan busana dan ukuran kemasan yang akan dipergunakan. Cetakan yang pada umumnya terbuat dari karton duplex ini digunakan pada saat melipat, diletakkan pada bagian punggung atau bagian belakang busana yang akan dilipat. Melipat dilakukan dengan bantuan seterika uap.
c. Sealer: adal ah alat untuk merekat/menutup kemasan atau untuk membuat kantong dari bahan plastik. Sealer pacik seringkali sudah terdapat pada kemasan plastik, dilapisi dengan plastik atau bahan lain yang dapat dilepas ketika kemasan akan ditutup.
d. Alat penunjang, yakni alat-alat penunjang dalam proses pengemasan dan pengepakan adalah seperti: gunting, pisau, alat untuk menyegel atau menutup kemasan besar, alat pemasang tali dan penguncinya, yang dipergunakan setelah kemasan kecil masuk dalam kemasan besar (pengepakan), agar produk tidak mengalami gangguan baik dari alam seperti angin, hujan, panas, dan sebagainya, atau gangguan lain yang mungkin terjadi pada saat pendistribusian produk (benturan, himpitan, dan sebagainya).
Sedangkan alat-alat yang dipergunakan dalam proses Labelling atau pemasangan label diperlukan alat -alat sebagai berikut:
a. Pemasang label ( erotag tape dan stringping gun)
b. Aspitok
c. Stapler
d. Gunting
e. Jarum

4. Bahan Kemasan dan Label
Selain jenis dan karakteristik produk yang akan dikemas, harus diperhatikan pula bahan yang dipergunakan untuk label dan kemasan yang akan dipergunakan. Bahan kemasan seharusnya disesuaikan dengan sifat produk yang meliputi: jenis bahan/tekstil, model, dan aksesoris. Pemilihan bahan kemasan yang tepat akan menghindarkan kerusakan terhadap produk. Bahan kemasan tidak boleh menimbulkan reaksi kimiawi terhadap produk yang pada akhirnya dapat merusak kualitas produk. Bahan kemasan yang dipilih harus aman, jangan sampai menimbulkan bahaya (keracunan atau kecelakaan lain) terhadap produk, aman bagi orang yang terlibat dalam proses produksi (tenaga kerja), serta bagi konsumen.
Kemasan dan label dapat terbuat dari bahan:
a. plastik
b. karton
c. kertas
d. kain
e. stereo foam
f. bahan lainnya seperti cat/bahan sablon.

Demikian sekilas informasi dalam persiapan Pelabelan dan pengemasan, semoga bermanfaat.

Kategori
Pengetahuan

PERSIAPAN PEMOTONGAN BAHAN

Pemotongan bahan adalah proses yang sangat menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan busana, apabila terdapat kesalahan pada saat pemotongan bahan bisa berakibat kegagalan dalam proses pembuatan busana sesuai pesanan atau desain. Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dipersiapkan sebelum melakukan pemotongan bahan busana. yuk kita simak penjelasan di bawah ini….

Informasi penting tentang bahan tekstil dan bahan lainnya

Bahan tekstil yang akan kita potong memiliki banyak perbedaan antara jenis bahan yang satu dengan jenis bahan yang lainnya, agar tidak terjadi kesalahan pada saat menggunting bahan kita harus mengetahui tentang bahan tekstil tersebut. Salah satunya adalah tentang arah serat bahan. Ada 3 golongan bahan menurut arah seratnya, yaitu :

  1. Dua arah, lain arah atau bahan tekstil yang simetris

Bahan tekstil ini dapat diletakkan berhadapan satu sama lain kearah mana saja tanpa mempengaruhi hasil akhir garmen.  Ini memungkinkan bahan tekstil diletakkan pada kedua arah di meja potong.

Harus diperhatikan juga perihal bagian bahan yang baik dan buruk.

  1. Satu arah atau bahan tekstil yang tidak simetris

Bahan tekstil ini harus diletakkan dengan tumpukan yang menghadap pada satu arah, apakah seluruhnya menghadap satu arah atau seluruhnya menghadap ke arah yang lain.  Pola hanya dapat diletakkan pada satu arah, tidak dapat pada kedua arah.

Bahan tekstil ini termasuk juga bahan yang berbulu, bahan yang dirajut dimana benang vertikalnya menghadap ke arah yang sama dan bahan tekstil yang mempunyai desain khusus.

  1. Hanya satu arah

Bahan tekstil ini harus diletakkan dengan seluruh lembarannya menghadap arah yang sama polanya juga harus menghadap ke arah yang sama.

Bahan tekstil yang termasuk kelompok ini yang mempunyai bulu lebat dan yang mempunyai desain khusus.

 Menyiapkan untuk peletakan bahan

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebelum melakukan peletakkan pola pada bahan, yaitu :

  1. Jenis dan lebar bahan tekstil yang akan digunakan harus diperiksa pada semua instruksi pada lembar kerja.
  2. Meja potong kira-kira harus setinggi pinggang dan mempunyai panjang yang cukup untuk menempatkan perkiraan panjang bahan tekstil yang akan diletakkan.
  3. Semua peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan harus dikumpulkan sebelum memulai dan diperiksa apakah layak untuk digunakan.
  4. Area kerja, termasuk lantai harus bebas gangguan, bersih dan siap untuk digunakan.

Meletakkan lembaran bahan

Pada saat meletakkan atau menggelar bahan lakukan dengan cara yang benar sebagai berikut :

  • Lebarkan/gelar bahan tekstil di atas meja potong sesuai panjang yang dikehendaki dan lakukan ini dua kali, dan jika perlu, dapat dilakukan berulang kali untuk beberapa potong busana.
  • Periksa tegangan bahan pada setiap lembaran untuk memastikan tidak ada panjang yang tidak sama, atau bahan berkerut dalam lembaran.
  • Bagian pinggir bahan tekstil harus lurus dan setiap lapisan pinggirannya harus tumpang tindih secara tepat dan paralel sampai pinggiran meja potong.
  • Identifikasi kerusakan pada bahan, lalu beri tanda sebagai pertimbangan dalam peletakkan pola pada kain

Demikian beberapa hal penting yang harus kita ketahui dan kita lakukan dalam persiapan pemotongan bahan, semoga bermanfaat.

 

Kategori
Pengetahuan Tak Berkategori

Terminologi yang digunakan pada Pemotongan Bahan ( Cutting )

  1. Serat, Alur serat kain mengarah ke arah yang sama seperti halnya benang yang paralel menuju ke pinggiran bahan.
  2. Interlock join, Jumlah lembaran yang diperlukan pada saat membuka gulungan yang baru atau membuang bagian yang rusak untuk meyakinkan kelengkapan lembaran telah dipotong.
  3. Meletakkan bahan atau melebarkan, Hal yang dilakukan untuk mendapatkan lembaran.
  4. Serat pendek di permukaan bahan, Serat-serat pendek pada bagian permukaan bahan tekstil seperti beludru.
  5. LembarSatu lembar bahan tekstil.
  6. Perkiraan sebelum penentuan, Panjang maksimum bahan tekstil yang dibutuhkan untuk garmen yang akan dibuat.
  7. Pinggiran bahan, Pinggiran bahan kecil yang dirajut rapat pada kedua sisi bagian lebar bahan tekstil.
  8. Shades, Variasi warna bahan tekstil dari hasil celupan yang jumlahnya berbeda namun dengan warna yang sama.
  9. Meja potong, Meja panjang dengan bagian atas meja setinggi pinggang untuk meletakkan dan memotong bahan menjadi bagian komponen yang siap untuk digabungkan.
  10. Penahan kain (End catcher or end guide rail), Balok berat, dirancang untuk menahan bagian ujung bahan tekstil dan menjaganya agar tidak bergerak pada saat lembaran berikutnya diletakkan.
  11. Lapisan      , Jumlah lembaran kain yang diletakkan berlapis-lapis sehingga dapat dipotong satu kali jalan.
  12. Penataan   , Pengaturan lembaran pola pada marker pemotong.
  13. Marker, Marker dapat berupa kertas marker atau lembaran pola yang digambar langsung pada bagian atas bahan tekstil.  Biasanya dilakukan dengan menggunakan kapur jahit.  Lembaran pola diatur agar penggunaan kain lebih hemat dan memudahkan pemotongan secara efisien.
  14. Torehan (Notch), Potongan berbentuk lurus atau ‘V’ di pinggir bahan tekstil untuk menandai lembaran-lembaran yang harus disambung atau pada bagian keliman yang perlu disesuaikan selama membuat garmen.
  15. Notching, Kegiatan memotong atau membuat cekris pada lembaran yang dipotong pada posisi yang sesuai.
  16. Bahan yang dipintal (Woven fabrics), Merupakan bahan tekstil yang mempunyai benang lungsin dan pakan dipintal menggunakan alat pemintal.  Dapat dibuat dari serat alami, sintetis atau serat campuran dan benang campuran.
  17. Bahan tekstil yang tidak dipintal (Non-woven fabrics), Bahan tekstil yang tidak dipintal seperti bahan tekstil yang dibuat dari bahan kimia, biasanya digunakan untuk lapisan atau pengeras, misalnya viselin.
  18. Kerusakan, Kerusakan yang ditemukan oleh tukang potong pada marker atau tumpukan bahan termasuk: – Tidak semua lembaran yang perlu dipotong diberi tanda pada marker, – Marker tidak sama lebar dengan bahan/kain. – Panjang tumpukan bahan tidak sama dengan panjang marker
  19. Pemotongan bahan tunggal, Memotong bahan sebagai contoh untuk komponen atau seluruh garmen, biasanya tidak lebih dari empat lembar bahan, dengan menggunakan gunting sebagai alat pemotong.
  20. Jepitan, Alat yang dirancang untuk menjepit lembaran kain sehingga dapat dipindahkan dan dipotong dengan mudah.
  21. Garis potongan, Garis yang digambar pada marker untuk memberi tanda bagian bahan tekstil yang akan dipotong.
  22. Gunting, Alat pemotong dengan tangan yang memiliki dua buah mata pisau yang digabungkan dengan mur dan baut, dirancang untuk memotong satu lembar atau beberapa lembar bahan tekstil sekaligus.
  23. Pemberat, Balok besi dengan atau tanpa pegangan, terdapat dalam beragam ukuran berguna untuk menahan bahan tekstil saat dipotong.

Peralatan dan perlengkapan lain yang dibutuhkan:

  • Kapur tulis atau pensil
  • Peniti
  • Pita meteran
  • Pelubang untuk posisi kupnat
  • Potongan pola atau marker
  • Tiket identifikasi kerja

Demikian terminologi dalam pemotongan bahan ( Cutting ), semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kalian. Terimakasih atas kunjungannya di blog http://www.0ntbpwjt.wordpress.com.

 


Kategori
Tak Berkategori

Membuat Belahan Sembunyi Pada Kemeja

Belahan tersembunyi disebut juga belahan buta adalah belahan yang  berfungsi sebagai bukaan dan penutup dari suatu pakaian yang sekilas tidak kelihatan bentuknya.

Pada perkembangan decían busana, belahan tersembunyi tersebut dahulu diterapkan untuk jenis busana wanita dan anak, namun kemudian pada saat ini karena dipengaruhi oleh maraknya perkembangan busana muslim untuk pria, model belahan tersebut dipakai untuk busana pria jenis kemeja dengan tidak mengurangi kepantasan atau kemaskulinan seorang pria.

Belahan tersembunyi pada kemeja pria terletak pada bagian kiri sebagai pembuka dan penutup pakaian yang panjangnya menyesuaikan dari panjang kemeja tersebut (Proporsional) lewat garisnya yang lurus, bagian berlapis (dua lapis) yang  terletak tepat di bagian tengah depan kemeja dan digunaan untuk menjahit kancing/buah baju ini memberi kesan rapi, lebih berwibawa dan resmi.

Penggunaan bahan yang dipakai untuk belahan tersembunyi yaitu bahan pokok (bahan yang sama dengan bahan yang digunakan untuk bagian badan). Itu jika jenis bahan pokok halus dan tipis,  tetapi jika bahan pokok yang digunakan jenis bahan berbody/tebal, untuk menghindari penambahan ketebalan di bagian depan sebaiknya menggunakan bahan yang tipis, contohnya bahan furing dan usahakan warna yang sama agar serasi penampilannya.

Jenis kancing yang dipakai untuk belahan ini adalah jenis kancing pipih yang mempunyai lubang dua atau empat yang biasa dikenal dengan nama kancing kemeja namun ukurannya kecil, dengan lubang kancing dibuat arah memanjang sesuai dengan bentuk belahan tersebut.

Berikut ini akan kita pelajari tentang cara membuat belahan sembunyi, kita pelajari bersama langkah demi langkah.

Belahan Sembunyi

Sumber : https://www.alibaba.com/

Membuat Penutup Belahan Kemeja

Siapkan gambar pola kemeja bagian kiri depan. Pola yang dimaksud yaitu berupa pola kemeja yang belum ditambahkan kelebihan bagian untuk kancing.

Belahan Sembunyi

Untuk membuat penutup belahan kemeja tambahkan satu buah garis lurus sebagai penanda jahitan penutup belahan kemeja, tepatnya dibagian dalam pola kemeja bagian kiri dengan jarak 1 cm dari garis tengah pola kemeja.

Belahan Sembunyi

Buat pula satu buah garis lurus di luar pola kemeja dengan jarak 2 cm dari garis yang telah dibuat dari langkah sebelumnya.

Belahan Sembunyi

Buat beberapa buah titik penanda diluar garis yang telah dibuat sebelumnya dengan jarak 2 cm kemudian hubungkan menjadi garis lurus. Bagian ini nantinya akan menjadi lapis kedua dari penutup belahan.

Belahan Sembunyi

Untuk membuat rumah kancing yang tersembunyi dibalik penutup belahan kemeja buat satu buah garis lurus dengan jarak 1.8 cm dari garis yang dibuat dari langkah sebelumnya.

Belahan Sembunyi

Kemudian tambahkan satu buah garis lurus diluar garis pola yang dibuat dari langkah sebelumnya dengan jarak 1.8 cm.

Belahan Sembunyi

Tambahkan kampuh sebesar 1 cm sebagai ruang untuk menjahit belahan.

Belahan Sembunyi

Lipat pola kemeja sesuai garis penanda yang telah dibuat.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Pertama lipat kampuh belahan kemeja ke arah belakang pola. Lipat pula bagian pola yang difungsikan sebagai rumah kancing menjadi dua bagian.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Kemudian selesaikan penutup belahan kemeja dengan cara melipatnya seperti gambar berikut.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Terakhir sisipkan kampuh belahan kemeja diantara lipatan rumah kancing dan penutup belahan kemeja.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Membuat Bagian Kancing Kemeja

Siapkan gambar pola kemeja bagian kanan depan. Pola yang dimaksud yaitu berupa pola kemeja yang belum ditambahkan kelebihan bagian untuk kancing.

Tempat Kancing

Untuk membuat tempat kancing tambahkan satu buah garis lurus sebagai penanda jahitan belahan, tepatnya dibagian dalam pola kemeja bagian kanan dengan jarak 0.9 cm dari garis tengah pola kemeja.

Tempat Kancing

Buat pula satu buah garis lurus di luar pola kemeja dengan jarak 1.8 cm dari garis yang telah dibuat dari langkah sebelumnya.

Tempat Kancing

Buat beberapa buah titik penanda diluar garis yang telah dibuat sebelumnya dengan jarak 1.8 cm kemudian hubungkan titik-titik tersebut menjadi garis lurus.

Tempat Kancing

Tambahkan kampuh sebesar 1 cm sebagai ruang untuk menjahit belahan.

Tempat Kancing

 

Selanjutnya lipat pola bagian kanan kemeja sesuai garis penanda yang telah dibuat seperti gambar berikut.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Untuk memastikan kesesuaian penutup belahan kemeja bagian kiri dengan kancing kemeja bagian kanan, sahabat Fitinline bisa mencoba untuk menempatkan penutup belahan kemeja di atas pola kemeja bagian kanan.

Belahan Sembunyi

Buat beberapa garis penanda untuk membuat lubang kancing pada bagian dalam lapisan tersembunyi. Sesuaikan jumlah lubang kancing dengan banyaknya kancing yang akan dipasang pada kemeja.

Belahan Sembunyi

Belahan Sembunyi

Lebih jelasnya sahabat sekalian bisa menyimak video tutorial berikut.

Sumber: Fitinline.com: Membuat Belahan Sembunyi Pada Kemeja

Kategori
Tak Berkategori

Pengertian Ukuran All size

All size dapat didefinisikan sebagai standar ukuran dari sebuah produk pakaian yang dibuat di daerah khusus Asia (China, Korea, dan Jepang), jenis ukuran ini kemudian diadaptasi di Indonesia. Kata all size ini biasa digunakan oleh para pedagang untuk menjawab pertanyaan dari pembeli tentang ukuran suatu produk. Simak yuk…

 

All Size

Sumber : http://tallsnob.com/

Misalnya ada ukuran M dan L, maka diantara ke dua ukuran tersebut ada sebuah ukuran yang biasa di sebut all size. M adalah singkatan dari medium (ukuran baju sedang) sedangkan L adalah singkatan dari large (ukuran baju yang cukup besar).

All Size

Sumber : http://londonmumsmagazine.com/

Bahasa lainnya dari ukuran all size adalah M fit L atau M fit to L. Kalau fit to L berarti ada 2 kemungkinan :

  • Pertama baju tersebut memang tersedia dalam ukuran XS, S, M, L.
  • Baju tersebuat didesain dalam satu ukuran (tidak ada ukuran-ukuran S, M, L tapi baik org bertubuh XS sampai L bisa memakainya dengan pas).

All Size

Sumber : http://makeupandbeauty.com/

Seperti kebanyakan tubuh orang Asia yang mayoritas berperawakan sedang, ukuran rata-ratanya berada di antara ukuran M dan L kemungkinan fit di size M atau L kecil. Ada kalanya all size bisa melebihi ukuran L dan bisa kurang dari ukuran M. Itu menunjukan bahwa ukuran all size adalah ukuran yang tidak secara pasti panjang dan lebarnya.

All Size

Sumber : http://www.dailymail.co.uk/

Meski istilah ini lebih sering digunakan untuk menyatakan ukuran rata-rata antara M dan L, tapi nyatanya ukuran all size bisa juga dipakai untuk menyebutkan ukuran rata-rata antara S dan M, L dan  XL, atau XL dan XXL.

All Size

Sumber : http://www.venusbuzz.com/

Semoga ulasan tentang ukuran baju tersebut dapat membantu anda dalam memilih pakaian yang pas sesuai dengan kebutuhan.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Fitinline.com: Pengertian Ukuran All size

Kategori
Tak Berkategori

Jahitan BARTACK

Sebagian dari kalian pasti sudah sering melihat jahitan berbentuk zig-zag yang terdapat pada ujung saku belakang, resleting, jahitan selangkangan, lubang kancing, serta lubang sabuk celana jeans. Namun sudahkan anda tahu apa nama dari jahitan tersebut?. Simak yuk…

Bartack

Sumber : https://www.heddels.com/

Jahitan yang biasa digunakan untuk memperkuat bagian-bagian yang dianggap sebagai stress point tersebut dinamakan bartack. Berbeda dengan jahitan pakaian pada umumnya, jahitan bartack sebenarnya termasuk kedalam salah satu teknik dan prosedur jahit yang dibuat dengan mesin jahit khusus yang dikenal dengan nama mesin bartack.

Bartack

Sumber : http://thesewingloftblog.com/

Bartack yang menggunakan mesin bartack terdiri dari jahitan zig-zag dengan kerapatan yang tinggi. Fungsi utama dari mesin jahit bartack adalah untuk mengunci jahitan pada bagian tertentu seperti saku atau daerah zipper.

Bartack

Sumber : http://www.artisticmilliners.com/

Berdasarkan teknologi yang tertanam didalamnya, mesin bartack yang biasa digunakan untuk mengunci jahitan akhir dari produk garment dan konveksi pada dasarnya dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori.

Bartack

Sumber : http://www.iigm.in/

Computer Controlled

Patren dan kecepatan bartack yang diinginkan dapat diatur dengan mudah oleh control panel.

1. Active Tension

Teknologi ini memungkinkan kita mengatur kekencangan jahitan yang berbeda didalam dua model jahitan yang berbeda pada bahan yang berbeda yang dilakukan sekaligus.

2. Direct Drive

Motor penggerak dengan kualitas tinggi ditanamkan langsung didalam body mesin.

Bartack

Sumber : http://berryservices.fr/

Bartack

Sumber : http://www.texi.info/

Semoga bermanfaat.

Sumber: Fitinline.com: Jahitan Bartack