Berkomunikasi dalam Karakteristik Budaya dan Sosial yang berbeda

Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang hidupnya selalu bahagia dan sempurna. Kehidupan manusia selalu diwarnai masalah silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, muncul masalah baru. Namun semua itu sifatnya hanyalah sementara dan jika berupaya mengatasinya secara rasional dan positif, pasti ditemukan jalan keluarnya.
Demikian pula ditempat kerja, ada saja yang membuat kita tidak nyaman dalam bekerja. Teman sekerja itu bermacam-macam sifat kepribadiannya, ada yang senang mengkritik, menyalahkan, meremehkan, atau merasa ingin menang sendiri. Apabila tidak segera diatasi, maka ketidak nyamanan tersebut akan berdampak negative terhadap pekerjaan kita.
Kita menjadi malas bekerja, sehingga penyelesaian pekerjaan akan terhambat, bahkan sama sekali tidak terselesaikan. Bila semua ini terjadi, maka konsumen atau pelanggan akan meninggalkan kita dan bisnis kita akan hancur. Oleh karena itu kita harus menghindari terjadinya konflik di tempat kerja. Bahkan indikasi konflik hendaknya diubah menjadi kerja sama.

a) Indikator Konflik

Konflik di tempat kerja sering tidak bisa dielakkan, banyak penyebab yang bisa menyulut terjadinya konflik. Untuk mengatasi atau menghindari konflik, kita perlu melakukan identifikasi terhadap factor-faktor penyebabnya.
1) Perbedaan kepribadian
Rekan sekerja yang senang memperhatikan detail,akan menghadapi kesulitanbila  menghadapi rekan lainnya yang memiliki kepribadian berlawanan.Tipe”detail”ini cenderung mencari-cari kesalahan,dan memaksakan kehendaknya pada orang lain.Ia merasa caranyalah yang terbaik untuk dilakukan.Orang-orang seperti ini menurut Caviola dan Lavender termasuk dalam kategori kepribadian obsessive-compulsive.
2) Perbedaan cara pandang
Seringkali konflik terjadi karena adanya perbedaan cara pandang.Seorang anggota tim yang berpandangan bahwa suatu pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip biar lambat asal selamat. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan untuk bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian. Rekan lain yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting daripada prestasi tim, akan melakukan berbagai cara untuk menunjukkan keunggulannyya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim.
3) Perbedaan tujuan dan kepentingan
Konflik dapat juga terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan, seperti perbedaan antara tujuan individu dalam tim dengan tujuan tim atau perusahaan. Seseorang yang bertujuan memenuhi target jangka pendek dengan melakukan berbagai cara untuk mencapainyya, misalnya mengurangi biaya dengan mengurangi kualitas, menawarkan diskon besar, walaupun harus mengorbankan image dan profit perusahaan untuk mengejar volue penjualan yang besar.
Orang seperti ini akan mendapat masalah jika bekerja-sama dengan rekan yang lebih mendahulukan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
4) Perbedaan pemahaman
Konflik dapat pula terjadi karena miskomunikasi yang menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal ini terjadi karena penjelasan yang didengar atau fakta yang dikumpulkan kurang lengkap atau kurang akurat. Pemahaman yang setengah-setengah, tidak tuntas, berpotensi menimbulkan konflik.
Misalnya kita menawarkan bantuan kepada rekan sekerja yang terlihat terlalu banyak dibebani pekerjaan, hal ini dapat saja disalah artikan sebagai penghinaan.

b) Solusi Mengatasi Konflik

Sebenarnya banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi di tempat kerja.
Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik.
1) Hindari Konflik
Jika kita dapat melakukan pekerjaan tanpa harus berinteraksi dengan orang yang “dapat menimbulkan konflik”, maka kita tidak perlu menguras tenaga, pikiran, dan waktu untuk mencoba mengubah mereka atau mengubah diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, marah yang muncul karena berurusan dengan mereka. Dengan demikian, kita dan orang tersebut dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan untuk menghadapi ketidak cocokan atau perbedaan-perbedaan yang berindikasi menjadi penyebab timbulnya konflik.

2) Netralisasi Sikap
Cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisir sikap kita terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Kalaupun kita tidak bisa menghindari , maka caranya adalah dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya kita memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi ampuh untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan kita.
Sebagai contoh: bila orang-orang tersebut sering mengkritik pekerjaan kita dan merasa dapat melakukan dengan lebih baik, maka serahkan saja pekerjaan tersebut kepada mereka, dan kita memfokuskan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengerjakan yang lain.

3) Ubah Sikap Kita
Dalam menghadapi orang-orang yang merongrong pekerjaan, maka kita harus mengendalikan reaksi kita.
Mungkin kita tidak dapat mengubah, tetapi yang kita lakukan adalah mengubah sikap kita pada pengaruh negative yang mereka timbulkan. Bila mereka berbuat ulah, kita tidak perlu merasa terusik.
Hal yang perlu dilakukan adalah menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa emosi) dan berkata dengan tenang, dengan demikian menunjukkan bahwa perbedaan memang ada, kita saling menghormati perbedaan tersebut.

4) Blending
Cara lain untuk mengurangi perbedaan adalah dengan mencari persamaan, dan berangkat dari persamaan tersebut. Sedangkan cara lain lagi adalah bila kita memiliki perbedaan cara pandang, tetapi memiliki tujuan akhir yang sama, maka dengan mencari titik persamaan dari sekian perbedaan yang ada. Dalam hal ini kita dapat memfokuskan pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya kita dapat menggalang koordinasi dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar dapat diarahkan untuk mencapai tujuan.

5) Understanding
Untuk mengatasi konflik dapat kita lakukan dengan mencari sumber masalahnya, kemudian untuk memecahkan masalah bersama-sama. Apabila kita dapat menemukan atau mencari tahu egativ dari suatu sikap atau tindakan, tentu kita akan meahami mangapa seseorang melakukan sikap/tindakan tersebut.

Jadi jika kita menghadapi konflik, yang dapat kita lakukan adalah:
(a) Mengidentifikasi sumber penyebab konflik
(b) Memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflk

Dengan kerjasama diharapkan kita dapat lebih berprestasi, dan dengan memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflik, kita dapat mengubah konflik menjadi kerja-sama yang harmonis, dengan demikian kita dapat memperoleh banyak dukungan untuk berprestasi.

Iklan

Tentang ysetianingsih

Saya bekerja sebagai pendidik di SMK Negeri 1 Purwojati jurusan TATA BUSANA. Mulai bertugas di SMK ini sejak tahun 2011 hingga saat ini.
Pos ini dipublikasikan di Pengetahuan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s