Workshop dan Roadshow Film AQIDAH CINTA, Film Bioskop buatan SMK — Direktorat PSMK – Semua Konten Terbaru

Dalam rangka Pengembangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan SMK kompetensi keahlian perfilman/broadcasting/multimedia melalui penyelarasan kejuruan dan kerja sama industri, SMK Dewi Sartika Jakarta Timur telah selesai meproduksi film layar lebar dengan judul “Aqidah Cinta” yang akan tayang di bioskop mulai tanggal 8 Agustus 2019. Sebelum penayangan film di bioskop maka terlebih dahulu diselenggarakan workshop dan road…

melalui Workshop dan Roadshow Film AQIDAH CINTA, Film Bioskop buatan SMK — Direktorat PSMK – Semua Konten Terbaru

Iklan
Kutipan | Posted on by | Meninggalkan komentar

MENGENAL SOFTWARE CAD DALAM PEMBUATAN POLA

CAD (Computer Aided Design) adalah Teknologi komputer baik hardware maupun software yang digunakan untuk proses pembuatan desain beserta dokumentasi.
Di era digital saat ini, sesuai dengan tuntutan keterampilan Abad 21 secara luas telah dimanfaatkan penggunaan tehnologi ITdi setiap aspek kehidupan sehingga banyak lembaga pendidikan fashion mengintergasikan penggunaan CAD dalam kurikulum pengajaran. Para desainer pakaian sekarang bekerja menggunakan komputer untuk membuat sketsa, ilustrasi dan presentasi desain. CAD memungkinkan desainer untuk melihat desain pakaian secara virtual baik dalam 2D maupun 3D pada model virtual dan dalam berbagai warna, motif, draperi bahan pada tubuh model.
Saat ini komputer untuk fashion telah berkembang dengan pesat. Desain fashion dapat dilakukan dengan menggunakan CAD. Teknologi CAD untuk indsutri fashion dapat digunakan dari menentukan janis dan motif bahan, ukuran, membuat pola hingga presentasi produk sehingga komputer merupakan komponen penting dari industri fashion. Meski tidak sepenuhnya CAD mampu menggantikan desain manual namun tuntutan penggunaan CAD di era digital ini semakin tinggi, software-software desain terus dikembangkan untuk membantu orang-orang yang berkecimpung dalam dunia fashion agar mampu menampilkan karya lebih cepat, lebih menarik dan lebih realistik bagi pelanggannya.

Membuat sketsa dengan cara tradisional atau dengan tangan masih merupakan metode yang paling banyak digunakan para pelaku indsutri fashion hingga di sekolah mode. Pengajaran metode desain tradisional, termasuk konstruksi pola manual tetap penting untuk dilaksanakan namun belajar metode CAD inipun sangat penting untuk diterapkan mengingat perkembangan teknologi dan sistem kerja saat ini menuntut penggunaan komputer desain. CAD dapat membantu siswa menggambar, membuat tekstur anyaman, untuk membuat pola, menyesuaikan ukuran dan bahkan menentukan warna, motif, jenis kain dengan cepat dan udah tanpa mengulangi proses dari awal. Dengan Memperkenalkan aspek teknologi ini akan memungkinkan siswa dapat memahami lebih baik dan mencoba berbagai kombinasi dalam desain mereka. Ini akan menghemat faktor waktu yaitu dengan menggunakan metode CAD siswa dapat belajar software lebih banyak dalam waktu lebih cepat dan dapat dilihat lebih nyata sebelum menjadi produk jadi.

Di industri garmen penggunaan CAD telah dikombinasikan dengan CAM (computer aided manufacturing) dimana software CAD/CAM ini telah terintegrasi dalam alur produksi dari awal hingga akhir, setelah selesai desain sampai membuat sampel dari garmen. Dengan program mode CAD dapat membuat sketsa teknis dengan akurat sesuai dengan ukuran dan fitting pakaian pada tubuh sehingga dari CAD dapat menghasilkan sampel yang benar-benar sesuai desain/spesifikasi teknis yang diharapkan. Dengan memanfaatkan CAD membuat produksi garmen jauh lebih cepat dan mudah. Dapat memilih template yang tepat sehingga memungkinkan mengerjakan lebih banyak bukan hanya langkah-langkah dalam proses pra-produksi tetapi bisa sampai pada kegiatan produksi secara otomatis, seperti menggelar kain, memotong pola pakaian dalam jumlah besar. Hal ini akan menghemat waktu dan biaya dalam proses produksi. Kegiatan komunikasi bisnis dalam industri fashion saat ini sudah tak terbatas oleh ruang dan waktu sehingga penguasaan teknologi CAD sebagai bagian dari perkembangan ICT saat ini merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu sekolah mode termasuk SMK bidang tata Busana sangat penting untuk melaksanakan pembelajaran CAD.

Fungsi CAD untuk Fashion adalah
1. Mendesain busana –
CAD dilengkapi dengan tampilan visual 2D , 3D hingga animasinyan serta fitur yang dapat digunakan untuk mengembangkan desain, megujicoba beberapa alternatif desain, motif, warna, hingga animasi peletakan busana pada tubuh dengan cepat dan untuk memodifikasi desain dengan relatif mudah.
2. Mengambil ukuran dan Membuat Pola busana –
Software 3 D body scanning dapat mengambil titik-titik ukuran tubuh secara cepat dan akurat, kemudian diolah untuk pembuatan pola dengan CAD pattern, grading and marker sehingga menghasilkan komponen-komponen pola, menyediakan representasi visual nyata tentang bagaimana pola akan dibentuk, dikembangkan hingga visualisasi motif pada pola akan bisa tampak nyata. Saat merancang kebutuhan kain, itu memungkinkan desainer memilih dan memodifikasi peletakan pola yang berbeda, sebelum memilih yang terakhir. Proses menghemat biaya dan waktu, bahan dan biaya dibandingkan secara manual. CAD memungkinkan seorang desainer untuk memodifikasi menduplikasi warna, motif, pose dari desain untuk membantu mendapatkan model yang benar-benar akan diproduksi.
3. Membuat prototype busana –
CAD memungkinkan melihat hasil jadi busana secara virtual sehingga tidak perlu lagi dibuat dengan dijahit untuk melihat hasil akhirnya, penggunaan CAD dapat membuat animasi model busana seperti dalam kehidupan nyata seperti spesifikasi yang tepat yang ditetapkan oleh pengguna aplikasi.

Manfaat penggunaan teknologi CAD di industri fashion diantaranya adalah
1. Menghemat waktu-
Penggunaan CAD lebih efektif dalam merancang, mengurangi beban kerja desainer, membantu desainer dengan mengatur ide-ide sehingga mempercepat semua proses. Ide- ide kretaif dapat diwujudkan dengan cepat tidak perlu lagi membuat secara manual dengan berualang ulang dari membuat sketsa, mewarnai hingga mewujudkan produk jadi. Dan mampu di produksi kembali dengan sangat cepat.

2. File digital lebih tahan lama, hemat tempat penyimpanan, menghemat kertas, clipboard dan album berbeda jika disimpan dalam bentuk fisik semua rentan terhadap kerugian dan kerusakan dan membutuhkan ruang yang cukup luas.

3. Penyajian gambar dan prototipe virtual lebih menarik sehingga dalam mengkomunikasikan dan mempresentasikan karya akan lebih memikat. Teknologi CAD memungkinkan membuat prototipe virtual seperti produk jadi dengan tampilan nyata sehingga dapat digunakan untuk presentasi, berkomunikasi dan bertemu investor/konsumen tanpa batas ruang dan waktu.

4. Lebih meningkatkan kepercayaan konsumen karena mampu melihat hasil akhir diawal secara akurat sebelum di produksi secara nyata.

5. Dengan menguasai teknologi CAD maka lulusan sekolah mode/fashion akan menjadi SDM yang unggul dan berdaya saing tinggi sehingga siap berperan dan berkompetisi pada bisnis fashion global.

Banyak perusahaan yang menawarkan berbagai software dan hardware untuk CAD garmen seperti Assystbullmer (www.assystbullmer. co.uk), Fashioncad (www.fashioncad.net), Winda (www.windacadcam.com). Banyaknya penyedia teknologi CAD/CAM garmen ini menunjukkan bahwa kebutuhan penggunaan teknologi otomasi dan komputerisasi di bidang produksi busana sudah menjadi kebutuhan zaman. Joyce Adwoa dkk (2014) menyatakan penggunaan CAD memberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah
1. Meningkatkan kecepatan produksi
2. Meningkatkan akurasi dan presisi dalam produksi
3. Meningkatan ergonomic
4. Memudahkan manajemen lifecycle produk

Demikian sekilas tentang software CAD dalam dunia industry fashion, dengan mempelajari software tersebut kita akan memperoleh banyak manfaat dan memperlancar proses kerja kita dalam pembuatan busana atau fashion.

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

GELAR KARYA TATA BUSANA, FASHION SHOW HASIL KARYA SISWA TATA BUSANA SMK NEGERI 1 PURWOJATI

https://youtu.be/SGptRW6eupc

https://www.youtube.com/watch?v=RL2bPUWPl2Y&feature=youtu.be

Video | Posted on by | Meninggalkan komentar

MEMBUAT POLA BUSANA SECARA GRADING

Grading adalah kata yg berasal dari serapan bahasa Inggris “grade” yang artinya tingkatan. Grading dalam dunia  fashion dapat diterjemahkan sebagai teknik mencontoh desain pola baju yang sudah ada, kemudian menyesuaikannya kembali sesuai tingkat ukuran tertentu. Grading pola hanya diterapkan pada pola standar.

Teknik grading pola ini  lebih sering digunakan oleh pabrik konveksi atau garment yang memproduksi pakaian secara masal dengan berbagai ukuran sekaligus. Satu pola dan satu model baju bisa digunakan untuk banyak size sehingga memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Tingkatan ukuran pola busana yang telah melalui tahap grading baik secara manual ataupun dengan komputer  dinyatakan dalam ukuran S, M, L dan XL. Adapun jenis pakaian yang biasa dibuat dengan pola sistem grading ini diantaranya berupa rok, celana, blouse, blazer dan sebagainya.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://7pinedesign.com/

 

Grading Pola Pakaian

Grading Pola Pakaian

Sumber : https://starkfashionbd.blogspot.co.id/

Keterampilan menggrading pola jarang dimiliki kecuali oleh mereka yang berkecimpung di bidang pattern making untuk industry. Untuk menggrading sebuah pola blazer misalnya  sahabat blog mula-mula harus menjiplak pola blazer yang sudah ada, kemudian memperbesar atau memperkecil ukuran sesuai ukuran pemesan atau konsumen.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://www.vinabits.com.vn/

Selain  secara manual grading pola busana dapat dikerjakan pula melalui software komputer yang memang dirancang khusus untuk grading. Sebagai contoh software Optitex, Accumax Gerber, Lectra Kaledo, Pad System, Style CAD dan Gemini CAD.

Grading Pola Pakaian

Sumber : https://scorpio1239.wordpress.com/

Dengan menerapkan teknik grading kita bisa mendapatkan banyak keuntungan dalam satu kali pengerjaan. Adapun manfaat dari grading yang dilakukan pada industri busana sendiri diantaranya:

  • Untuk mempersingkat waktu pembuatan pola.
  • Mendapatkan ukuran yang tepat berdasarkan pola baku yang sudah ada.
  • Grading pola memungkinkan anda membuat baju dengan desain sama dengan ukuran berbeda, minimal tiga ukuran.

Grading Pola Pakaian

Sumber : http://fashion2apparel.blogspot.co.id/

Demikian sedikit informasi tentang grading pola busana dalam industri. Semoga informasi mengenai grading yang kami bagikan ini bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi tersendiri bagi sahabat blog  yang masih belajar fashion ataupun sahabat blog yg sedang menekuni bidang fashion.

Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di fashion, materi belajar | Meninggalkan komentar

Berliterasi Melalui Ekspresi Di Pojok Kelas — Direktorat PSMK – Semua Konten Terbaru

Gerakan Literasi Sekolah sudah digaungkan sejak akhir 2015 dengan pembentukan Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (Satgas GLS) dalam lingkup Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai tindaklanjut atas terbitnya Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Seiring dengan geliat literasi, sekolah-sekolah mulai menggiatkan aktivitas berliterasi antara lain dengan kegiatan 15 menit membaca buku/…

melalui Berliterasi Melalui Ekspresi Di Pojok Kelas — Direktorat PSMK – Semua Konten Terbaru

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Menghitung Harga Jual

Berwirausaha atau memulai usaha akan timbul pertanyaan dari mana Saya harus memulai? Bagi orang yang belum pernah melakukan usaha kemudian bergerak dalam dunia usaha pasti mengalami kebingungan. Membahas tentang usaha tentunya tidak lepas dengan istilah entrepreneur. Seorang entrepreneur adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru dan memasarkannya serta mengatur pemodalan operasinya . Memulai dalam berusaha harus siap berisiko kegagalan. tetapi harus yakin pada Tujuan untuk membangun mesin uang, meskipun mungkin  tidak memiliki keseluruhan bagian dari yang dibutuhkan. Bisa terjadi kalau ide Anda mungkin saja sebagian salah namun Anda tidak tahu pada bagian mana yang salah. Tidak perlu khawatir, hal ini normal adanya.

Persaingan usaha pakaian  semakin menjamur, bisa jadi Persaingan yang terjadi lebih pada persaingan kualitas produk namun tidak menutup kemungkinan terjadi persaingan harga lebih murah. Hal ini perlu dihindari, namun cobalah untuk membuat harga yang sesuai jangan hanya untuk merebut pasar. Tidak sedikit pelaku usaha masih bingung
dalam menentukan harga jual produknya. Harga jual sangat berkaitan dengan tingkat keuntungan dan tingkat penjualan.

Bagaimana menentukan harga jual? Asumsikan bahwa Anda memiliki usaha konveksi blus. Anda menginginkan laba sebesar 30%, sedangkan dalam satu minggu Anda ingin menjual blus 100 potong dengan rincian biaya bahan pokok dan pelengkap sebagai berikut:

Total Biaya
= Rp 4.780.000 + Rp 300.000
= Rp 5.570.000

Berapa harga jual satu buah blus ? Hal yang perlu diperhatikan saat menghitung total
biaya produksi. Hal ini dapat dihitung dengan cara di bawah ini
Total biaya Rp 5.570.000
Jumlah produksi blus 100 potong

Diketahui Biaya per produk Rp 55.700

Keuntungan yang di inginkan (30% X Rp 55.700)= Rp 16.710
Harga jual = Rp. 55.700,- + Rp. 16.710,- = Rp 72.410

Seandainya harga jual produk Anda terlalu tinggi, mungkin Anda dapat menurunkan besarnya keuntungan yang Anda tetapkan. Perlu Anda perhatikan pula bahwa jumlah produk yang rencananya Anda produksi tersebut, kemungkinan tidak semua blus akan laku terjual. Oleh karena itu Anda juga harus memiliki target minimal produk yang harus terjual. Jika melihat perhitungan di atas, untuk terhindar dari kerugian setidaknya Anda
harus menjual 77 potong blus dengan perhitungan Rp 5.570.000:Rp 72.410 = 77.
Jika anda bisa menjual lebih dari 77 potong maka Anda sudah memperoleh keuntungan sejumlah tertentu dari usaha produksi blus Anda.

Dipublikasi di Pengetahuan | Meninggalkan komentar

MEMILIH DAN MENGGUNAKAN KAIN MOTIF GARIS DAN KOTAK

Memilih dan menggunakan bahan atau kain bermotif garis dan kotak tidak semudah memilih dan menggunakan kain motif bebas,  motif serak atau motif lainnya. Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dalam penggunaan bahan ataupun kesesuaiannya dengan desain yang kita pilih.

Jenis-jenis bahan bergaris

Dalam penggunaan bahan bergaris terdapat tiga arah utama, misalnya, vertikal (ke arah lebar), horisontal (ke arah panjang) dan garis diagonal.  Arah dapat menghasilkan versi yang seimbang (balanced) atau tidak seimbang (unbalanced). Gambar 1

 

gambar. 1

 

 

 

 

Kotak adalah kombinasi garis yang mungkin dibuat dengan tekstur atau warna yang berbeda dari latar belakangnya.  Cara-cara menangani bahan kotak-kotak sama dengan bahan bergaris.  Gambar 2

Gambar.2.

Garis yang seimbang/sejajar dan garis yang tidak seimbang/sejajar

Pola garis pada bahan/kain merupakan faktor pertimbangan terpenting pada saat membeli dan meletakkan bahan. Garis-garis seperti halnya kotak-kotak dapat seimbang atau tidak seimbang.  Untuk menentukan jenis garis, lipat bahan sepanjang bagian tengah garis yang dominan.  Garis dominan ini biasanya garis yang paling lebar, garis pada bagian tengah rancangan atau garis berwarna paling cerah.  Jika anda mendapatkan kesulitan dalam melakukankannya, lipat bahannya.  Garis yang paling terlihat berarti garis yang dominan.  Lipatlah sudut kain ke belakang (seperti pada gambar). Jika garisnya cocok berarti garis tersebut seimbang. Jika garisnya tidak cocok, berarti garisnya tidak seimbang.  Gambar 3

 

 

                            gambar.3.

Memilih bahan bergaris

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih bahan bergaris.

  1. Pilih jenis bahan bergaris dengan memperhatikan bahwa,
  • garis horisontal cenderung membuat orang terlihat pendek dan
  • garis vertikal membuat orang terlihat tinggi.
  • Garis yang lebih tipis membuat anda terlihat lebih ramping dari pada garis yang tebal, dan
  • garis horisontal akan lebih menekankan pada bagian dada dan pinggul.

Jadi, periksalah dahulu bentuk busana yang ingin dibuat sebelum memilih garis yang tipis, tebal, vertikal dan horisontal.

2. Garis vertikal paralel dengan tepi bahan dan garis horisontal menghampar dari tepi ke tepi pada lebar bahan.  Akan lebih mudah bekerja dengan pola yang lembarannya sedikit karena sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk mencocokkan garis berpola rumit.  Diperlukan kain yang lebih banyak jika membuat busana/pakaian dari bahan bergaris.  Jumlah kain yang dibutuhkan tergantung pada:

  • ukuran pola
  • bentuk garmen
  • jumlah dan ukuran potongan
  • lebar garis (motif)
  • frekuensi pengulangan garis

Jumlah bahan tambahan yang dibutuhkan untuk bahan bergaris berkisar antara 30 – 50 cm.  Dan untuk bahan berkotak diperlukan lebih banyak lagi.

Memilih pola untuk bahan bergaris dan bahan berkotak

Pada saat memilih pola atau model untuk jenis bahan yang bergaris dan bahan berkotak, pilihlah

  • desain yang sederhana dengan jumlah sambungan yang sangat sedikit.
  • Busana berpotongan sedikit yang dibuat dengan garis yang tidak putus, lurus atau bias, akan memberikan hasil yang baik.
  • Hindari rancangan dengan garis princess, kupnat horisontal yang panjang, kerutan melingkar dan rancangan dengan kerutan yang banyak.

Bahan berkotak kecil dapat lebih mudah disesuaikan daripada kotak kotak yang lebar, karenanya dapat dibuat berbagai variasi model.

Bahan berkotak bisa lebih sulit dipotong daripada bahan bergaris, karena kotak terdiri dari garis horisontal dan vertikal.

Hasil akhir busana/pakaian akan dipengaruhi oleh cara pengaturan untuk memotong bahan bergaris dan bahan berkotak.

Mencocokkan garis dan kotak untuk pemotongan

Apabila potongan pola tidak akurat dari awal, maka bahan bergaris atau bahan berkotak tidak cocok/pas saat dilebarkan, sehingga pada saat dijahitpun tidak akan cocok/pas.

Peletakkan pola pada bahan bergaris dan bahan berkotak harus dicocokkan/dipaskan pada garis sambungan, BUKAN pada garis potong.  Pada saat meletakkan bahan, tunggal atau lapis dua, yakinkan bahwa garis dari kedua lapisan itu berada langsung di atasnya.  Untuk menghindari pergeseran, beri pemberat pada bahan atau gunakan jarum pentul.

Letakkan bagian kain yang baik menghadap keatas sehingga motifnya terlihat jelas untuk dapat dicocokkan/dipaskan garis atau kotaknya.

Gambar 4

Mencocokkan lebar belakang, bagian depan dan lengan

gambar.4

Meletakkan pola untuk garis horisontal yang sejajar (seimbang)

Cara meletakkan pola tergantung dari jenis garis yang dipilih.  Garis yang paling mudah untuk diletakkan adalah garis horisontal yang sejajar (balanced).  Perhatikan pada Gambar 5 dibawah ini.

  • Buatlah tanda arah serat di sudut yang tepat pada garis.
  • Mulailah dengan menentukan posisi keliman (gaun, rok atau blus/atasan) pada seluruh lembaran pola yang sesuai, dan beri tanda yang jelas pada pola.
  • Letakkan posisi garis kelim ini pada bagian bawah dari garis paling dominan sebagai langkah awal. Dengan meletakkan garis kelim pada garis dominan, maka berarti garis dominan akan jatuh pada bagian dada dan pinggul, sesuaikan garis kelim sehingga tidak berada pada garis dada dan pinggul.
  • Jika garis kelim mempunyai lengkungan yang jelas, letakkan garis dominan pada bagian tengah belakang atau tengah muka garmen untuk mendapatkan tampilan yang diinginkan.
  • Yakinkan semua pusat sambungan mempunyai garis yang cocok. Jika ada kupnat dada, sambungan samping akan dicocokkan dari garis keliman garmen ke atas hingga posisi kupnat dada. Hal ini akan meyakinkan bahwa hampir semua sambungan pinggir cocok.  Sambungan yang tidak cocok di atas kupnat dada tidak akan terlihat karena terletak pada bagian bawah lengan.  Gambar 6

Jika busana memiliki lengan yang tetap, cocokkan garis-garis pada takik kerung lengan depan dengan takik yang ada ditempat persambungan.  Garis pada bagian kerung lengan belakang tidak selalu cocok.

Cara-cara ini diterapkan pada bahan berkotak-kotak yang seimbang.

Meletakkan bahan pada bahan tekstil bergaris vertikal sejajar

Pada bahan bergaris vertikal yang sejajar,

  1. letakkanlah lembaran pola dengan tanda garis serat sejajar dengan garis.
  2. Letakkan pola tengah muka dan tengah belakang pada garis dominan. Jika pola belakang memiliki keliman tengah belakang, buatlah garis keliman, BUKAN garis potongan, di tengah garis dominan sehingga ketika telah dijahit akan terlihat garis yang tidak patah/menyambung.
  3. Jika ingin garis terlihat menyambung terus pada seluruh pakaian, letakkan garis dominan pada bagian tengah lengan dengan menggunakan puncak bahu sebagai posisi acuan. Gambar 7

Pada rok ‘A-line’, garis vertikal akan membentuk ‘chevron’ (sambungan sudut) pada bagian keliman samping.  Lebar rok akan menentukan sudut dari ‘chevron’.  Letakkan bagian tengah muka rok pada garis dominan lalu cocokkan dengan keliman tepi.  Garis yang dominan mungkin tidak tepat jatuh pada bagian tengah belakang, namun ini tidak terlalu penting dibandingkan dengan mendapatkan ‘chevron’ yang sempurna.  Jika tidak mungkin untuk mencocokkan seluruh bagian, pertimbangkanlah di bagian mana yang terlihat jelas sekali bila tidak cocok.

Prinsip-prinsip ini diterapkan pada bahan berkotak sejajar.

Meletakkan pola pada bahan tekstil bergaris horisontal tidak seimbang

Cara-cara menangani bahan bergaris horisontal tidak seimbang serupa dengan cara penanganan untuk bahan bergaris horisontal sejajar.

  1. Letakkan garis dominan di pinggir bawah garmen, kecuali jika penempatan ini menyebabkan garis dominan berada di posisi yang tidak diinginkan, seperti pada garis dada atau pinggul.
  2. beri tanda posisi keliman pada pola dengan jelas dan sejajarkan dengan garis kasar pada posisi tegak lurus pada garis yang ada pada bahan tekstil.
  3. Perbedaan yang paling penting antara garis sejajar dan tidak seimbang, adalah bahwa semua lembaran pola harus diletakkan pada arah yang sama untuk meyakinkan garis yang tidak seimbang tidak diulangi pada bagian garmen yang lain. Yaitu pada bagian bawah lengan, bagian depan garis keliman, bagian belakang garis keliman, dst, semuanya diletakkan pada arah bagian kanan atau semua diletakkan pada bagian arah kiri.
  4. Untuk pakaian dua-potong misalnya rok dan atasan dari bahan yang sama, semua lembaran pola harus diletakkan pada arah yang sama hingga garis akan terlihat menyambung dari atas sampai bawah. Gambar 8.

Cara-cara ini juga diterapkan pada bahan berkotak tidak seimbang.

Sahabat ontbpwjt.wordpress.com demikian beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam pemilihan dan penggunaan bahan bergaris atau berkotak. Untuk lebih lengkapnya akan penulis sambung pada pos berikutnya.

Semoga bermanfaat, dan terimakasih banyak atas kunjungannya.

 

 

Dipublikasi di Pengetahuan | Meninggalkan komentar

Mengikat Potongan Potongan Pakaian

  • Pengertian dan Tujuan

Dalam industri  pakaian jadi proses pembuatannya dilakukan secara masal dan berantai, yang dimulai dari pembuatan pola, meletakkan bahan (Marker Layout), memotong (Cutting), mengikat potongan kain (Bundling), penomeran dan pelabelan (Tiketing and Labeling) sampai dengan proses penjahitan (sewing)

Salah satu proses setelah dilakukannya pemotongan bahan adalah  proses  pengikatan/bundling hal ini sangat penting karena pekerjaan ini sangat riskan dan membutuhkan ketelitian. Pekerjaan ini tidak boleh dianggap sepele karena kesalahan kecil yang dilakukan seperti salah meletakkan satu komponen/bagian pakaian saja dapat berakibat fatal dalam suatu produksi.

Proses pengikatan/Bundling  dapat dikelompokkan menjadi 2 kegiatan yaitu :

  • Memilah potongan potongan kain

Memilah  adalah pekerjaan mengelompokkan bagian bagian pakaian atau  komponen  yang telah dipotong berdasarkan ukuran dan warna kain, dengan tujuan  untuk memudahkan pekerjaan penomeran/pelabelan dan pengikatan/bundling. Di industri pakaian jadi pada umumnya pemotongan kain dilakukan dalam jumlah yang cukup besar dan berlapis lapis, terdiri dari berbagai ukuran, warna, aksesoris dengan beberapa komponen pakaian.

Salah satu contoh blus wanita  yang terdiri dari beberapa komponen seperti bagian  badan muka dan belakang, lengan kanan dan kiri, kerah, saku, termasuk lapisan. Setiap pakaian  memiliki bagian/komponen yang berbeda tergantung dari desainnya, sehingga hal ini sangat beresiko akan terjadi kesalahan dalam proses  penjahitan disebabkan salah mengelompokkan komponen pakaian tersebut.

Produksi pakaian jadi pada umumnya menggunakan ukuran standar seperti S – M – L – Xl L – XXL atau  27 sd 46 untuk ukuran celana, sedangkan untuk kemeja biasa menggunakan ukuran 6 sd 16. ukuran standar pakaian jadi ini sangatlah  bervariasi.

Aksesoris dalam industri pakaian jadi adalah bahan tambahan atau  bahan pelengkap pakaian yang dapat berfungsi sebagai hiasan pakaian seperti,   kancing hias, kancing kait, ritsluiting/ziper, renda, bisband, elastic/karet, furing, vleselin, kainkeras/trubenys,  termasuk nomer ukuran, label dan tiket

  • Memberi nomer dan mengikat potongan potongan kain

Memberi nomer/nambering adalah sustu proses pekerjaan yang dilakukan   pada potongan potongan kain sebelum dilakukan pengikatan. Nambering dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kesalahan dalam pengelompokaan potongan kain pada saat pengikatan.

Mengikat/ bundling, adalah  suatu proses pekerjaan  menyatukan potongan potongan kain dalam satu model pakaian yang telah dikelompokkan sesuai dengan warna dan ukuran yang sejenis. Proses mengikat  dilakukan setelah selesai melakukan pekerjaan    memilah dan memberi nomer. Hasil dari pekerjaan ini disebut dengan bundel.

Mengikat/bundling dilakukan dengan tujuan antara lain untuk :

  • Memperlancar proses pengiriman  kebagian divisi penjahitan
  • Memudahkan penjahit untuk melakukan pekerjaannya
  • Mengurangi kesalahan dalam proses penjahitan
  • Menghemat waktu dan tenaga karena penjahit tidak perlu lagi memilah milah potongan pakaian.

Kegagalan atau kesalahan proses mengikat dapat terjadi apabila,

  • Dalam satu ikatan/bundelan komponen tidak lengkap
  • Aksesoris tidak sesuai atau tidak lengkap
  • Salah satu komponen dalam ikatan cacat atau rusak
  • Tidak ada label atau tiket sehingga informasi proses kerja tidak jelas
  • Salah satu komponen tertukar dengan komponen ikatan yang lain
  • Persiapan bahan/alat
  • Kain yang sudah terpotong berupa komponen dari suatu pakaian dengan berbagai ukuran dan warna
  • Tali, dipakai untuk mengikat potongan potongan kain yang telah dikelompokkan sesuai ukuran atau warna. Untuk menghemat biaya sebaiknya gunakan sisa-sisa kain seperti potongan tepi kain
  • Label/Tiket yang sudah dicetak dan diisi dengan informasi jumlah potongan dan ukuran pakaian yang akan diproduksi
  • Langkah kerja

      1. Memilah potongan potongan kain

Menyiapkan area kerja

  • Siapkan meja  dan area kerja dengan memperhatikan Kesehatan dan keselamatan kerja, ruangan harus bersih dan cukup ventilasi. Meja yang akan digunakan harus bersih, lebarnya cukup untuk melakukan kegiatan, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek atau kurang lebih setinggi pinggang
  • Siapkan potongan potongan kain yang berlapis lapis, terdiri dari bagian/komponen  pakaian dengan berbagai warna dan ukuran dengan asesori yang diperlukan
  • Memilah potongan  kain berdasarkan  komponen seperti bagian badan muka dan belakang, lengan kanan dan kiri, kerah, saku, lapisan dan lainnya berdasarkan  ukuran pakaian yang akan dibuat seperti ukuran S,M,L, atau sesuai keterangan yang tertera pada pola yang masih menempel pada potongan kain.

 

  • Siapkan meja untuk mengikat potongan potongan kain sesuai standar dengan tinggi sebatas pingang dan bersihkan area kerja.emilah asesoris/pelengkap pakaian seperti, kain keras, vleselin berdasarkan ukuran 
     2. Memberi nomer dan mengikat potongan potongan kain
  • Siapkan meja untuk mengikat potongan potongan kain sesuai standar dengan tinggi sebatas pingang dan bersihkan area kerja.
  • Kumpulkan dan letakkan  potongan potongan kain diatas meja  dengan perlengkapan/asesori yang sesuai.
  • Periksa potongan potongan kain dan perlengkapannya sesuai dengan informasi yang tertera pada lembar kerja/Jobsheet
  • Periksa potongan kain, untuk mengetahui bila terjadi kerusakan pada potongan kain sehingga dapat melakukan tindakan  bila diperlukan
  • Kumpulkan tiket atau  label  yang diperlukan untuk melengkapi ikatan, dan memeriksa apakah tiket/label telah sesuai
  • Menyusun  jumlah lembaran yang diperlukan, dan disusun

    Berdasarkan  lembaran yang paling besar  selanjutnya  lembaran yang terkecil dengan perlengkapan/ aksesori yang dibutuhkan seperti, kancing, tutup tarik, pita atau bisband  yang diletakkan di bagian atas potongan kain.

  • Menggulung potongan potongan kain sebelum diikat

  • mengikatnya menjadi satu agar tidak ada potongan/lembaran kain yang jatuh atau terlepas dari ikatan
  • Menghitung jumlah ikatan untuk menyakinkan semua potongan telah disatukan
  • Menambahkan tiket yang berisi informasi untuk melakukan pekerjaan berikutnya yang diletakkan dibagian luar ikatan
  • Setelah dilakukan pencatatan,  simpan ditempat yang aman Sebelum diserahkan kebagian yang lain
  • Menyerahkan ikatan potongan kain  pada bagian penjahitan dengan menggunakan troli (Trolley)
  • Sahabat blog…..demikianlah beberapa proses atau kegiatan yang dilakukan setelah proses pemototngan bahan atau Cutting, sebelum dilanjutkan ke bagian penjahitan.

Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita dalam proses pembuatan    busana industri.

Mohon bagi pengunjung tuk memberikan saran ataupun kritik untuk menyempurnakan isi blog ini. Terimakasih.

 

 

Dipublikasi di materi belajar | Meninggalkan komentar

PEMOTONGAN BAHAN SECARA INDUSTRI

Menyiapkan Meja Pemotongan.

 Menyiapkan meja pemotongan meliputi:

  • Instruksi cara meletakkan bahan diterjemahkan dengan tepat.
  • Meja untuk memotong dipilih yang sesuai dan diatur sesuai dengan standar ergonomic bengkel.
  • Keamanan peralatan diperiksa agar berfungsi dengan benar sesuai dengan instruksi pabrik dan prosedur bengkel.
  • Kapur untuk bekerja dipilih yang sesuai.
  • Meja tempat memotong disiapkan sesuai dengan panjang yang benar dan sesuai dengan prosedur kerja.

Meletakkan Kain

Meletakkan kain meliputi:

  • Lebar dan kualitas kain diperiksa sesuai dengan instruksi cara meletakkan kain dan mengambil tindakan sesuai prosedur kerja.
  • Kain direntangkan dan tarikannya disesuaikan untuk mencocokan tampilan kain agar sesuai dengan prosedur kerja.
  • Kain diperiksa, bila ada yang salah segera melakukan tindakan pemotongan pada bahan yang salah dengan cara menyambungkan (tumpang tindih) atau teknik lain yang cocok dan sesuai dengan prosedur kerja.
  • Tinggi letak dan posisi kain diperiksa, dan dilakukan tindakan yang sesuai spesifikasi kerja dan prosedur bengkel.
  • Tanda diletakkan sesuai prosedur kerja

Kain diperiksa, bila ada yang salah  segera melakukan tindakan pemotongan pada bahan yang salah dengan cara menyambungkan (tumpang tindih) atau teknik lain yang cocok dan sesuai dengan prosedur kerja.

 

Merancang Bahan

 Merancang bahan yaitu membuat rancangan/ rencana mengenai bahan/ kain yang akan dipergunakan  untuk memproduksi  suatu  model busana, dengan cara meletakan pola  yang telah diberi kampuh  di atas bahan  dan  diatur sedemikian rupa sehingga mengetahui berapa banyak bahan yang diperlukan untuk memproduksi busana.  Tujuan dari merancang bahan yaitu  untuk mengetahui kebutuhan kain yang diperlukan dengan order yang diproduksi serta bahan yang dipergunakan benar-benar efektif dan efisien .

Tahapan didalam merancang bahan  yaitu  berikut ini:

  1. Patern making

Patern  making adalah  pembuatan pola oleh tukang pola, pola yang dibuat sesuai dengan permintaan buyers.

Di dalam pembuatan pola  kadang- kadang cara pembuatan polanya ditentukan oleh buyer dengan  melampirkan cara pembuatan pola  dalam pesanannya. Tetapi apabila tidak ada lampiran cara pembuatan pola, maka perusahaan yang menentukan pola yang akan digunakan.

  1. Sample making

Sample making yaitu pembuatan contoh busana yang akan diproduksi. Sebelum busana  diprodusi secara besar-besaran/ massal , perusahaan terlebih dahulu membuat sample/ contoh sesuai dengan pesanan , apabila tidak sesuai dengan yang diminta, maka perusahaan akan memperbaiki pola yang telah dibuat disesuaikan dengan keinginan  buyer.

Grading

Grading  berasal dari kata grade yaitu memperingkatkan. Grading pola adalah memperingkatkan pola ke dalam satu atau beberapa size/ ukuran di atasnya atau dibawahnya.

Pola yang telah sesuai dengan sample akan digrade dengan berbagai macam ukuran  sesuai dengan pesanan buyer. Proses grading pada perusahaan skala kecil dan menengah biasanya dikerjakan secara manual, tetapi pada perusahaan besar  biasanya dibantu dengan menggunakan komputer, dengan tujuan untuk diperbanyak  , untuk merancang bahan serta sebagai arsip perusahaan.

Pola manual yang sudah lengkap dengan asesorisnya (misalnya saku), diletakkan di atas sebuah papan putih  (lecra system), kemudian dengan menggunakan remote control pola tersebut dimasukan  dalam komputer, sehingga teknisi grading hanya membentuk bagian-bagian yang dirasa kurang sempurna. Di dalam sistem komputer sudah terdapat  patokan/ standar ukuran besar kecil pola yang dibuat, teknisi grading  hanya mengisi  berapa selisihnya setiap ukuran, sehingga sekali clik, pola tersebut membentuk layer-layer sendiri (grading) lengkap dengan ukurannya. Setelah pola digrading pembuat marker  tinggal menentukan/ mengambil ukuran/size  yang dipesan oleh buyer, kemudian membuat rancangan bahan. Membuat rancangan bahan dengan sistem komputer  lebih mudah karena di dalamnya tersedia  fasilitas bentuk panjang kain yang digunakan, sehingga pola terkesan diletakan di atas kain/ bahan, pada menu size dalam komputer bisa diatur panjang pendeknya bahan yang diperlukan.

 

 

Dipublikasi di materi belajar | 6 Komentar

TEKNIK MEMOTONG BAHAN

Memotong bahan adalah termasuk pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan teliti dan seksama. Hasil potongan bahan yang kurang baik akan mempengaruhi hasil akhir dari proses pembuatan busana.

  1. Syarat Ruang Kerja dalam memotong bahan :
    1. Memiliki penerangan yang baik, tidak terhadang oleh furnitur atau barang lainnya
    2. Sirkulasi udara yang cukup nyaman
    3. Ukuran meja potong sesuai standart, permukaan meja rata dan datar
    4. Gambar tanda bahaya/peringatan diletakkan pada tempat yang terlihat
  2. Alat-alat / Perlengkapan memotong
    1. Pita ukur, digunakan dalam setiap langkah proses pembuatan suatu busana mulai dari mengambil ukuran hingga
    2. Jarum pentul, digunakan untuk menyematkan pola diatas bahan. Ada beberapa jenis jarum pentul:
      1. Kecil, seluruhnya dari logam baik kepala maupun ujung jarum. Biasanya digunakan untuk pekerjaan mendisplay busana di etalase
      2. Sedang, badan sampai ujung jarum dibuat dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk hiasan display busana.
      3. Panjang, lebih panjang, kecil dan runcing. Badan sampai ujung jarum dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk menyemat pola ke bahan pada proses memotong bahan atau menyemat bahan ke bahan pada proses menjahit.
      4. Panjang dan besar, badan dan ujung jarum dari logam, kepala jarum dari plastik warna-warni, digunakan untuk hiasan.
    3. Pemberat untuk membantu menahan kedudukan bahan pada waktu memotong agar tidak bergeser. Biasanya dipakai untuk bahan yang licin atau memotong bahan dalam jumlah banyak.
    4. Gunting, digunakan untuk memotong bahan, menggunting benang, pada waktu proses pembuatan busana. Macam-macam gunting adalah:
      • Gunting Bahan
      • Gunting Kertas
      • Gunting Benang/gunting tiras
      • Gunting zig-zag
      1. Alat pemberi tanda
        • Kapur Jahit
        • Rader dan Karbon Jahit
        • Jarum jahit dan benang jahit
  3. Menyiapkan bahanBahan yang akan dipotong harus disiapkan dengan cermat untuk mencegah terjadinya kegagalan produksi (pembuatan busana).
    1. Kualitas bahan harus bagus, baik struktur tenunannya maupun penyempurnaan akhirnya.
      • Jika bahan dipotong tidak lurus pada saat membeli bahan, maka bahan harus diluruskan dengan cara memotong lurus menurut arah benang pakan yang ditarik.
        • Jika bahan yang akan dipotong diperkirakan menyusut maka bahan tersebut harus dicuci terlebih dahulu.
        • Jika bahan yang akan dipotong kusut, maka harus disetrika terlebih dahulu.
        • Bahan ditarik keempat arah agar lurus
        • Bahan dilipat dua pada lebar bahan
        • Bagian buruk kain berada disebelah luar
          1. Kuantitas bahan harus sesuai dengan jumlah kebutuhan atau benda yang akan dibuat (berdasarkan rancangan bahan yang telah dibuat) sehingga kemungkinan kekurangan atau kelebihan bahan tidak terjadi.
  4. Menyiapkan pola:
    1. Memeriksa kelengkapan jumlah pola.
    2. Memeriksa kelengkapan tanda-tanda pola, agar tidak terjadi kesalahan pada waktu meletakkan pola yang berakibat kesalahan pada waktu memotong bahan.
    3. Sudahkah pola diberi kampuh

5. Memeriksa bahan

Motif bahan

  1. Arah motif bahan:
    • Satu arah, pola diletakkan searah dengan motif
    • Dua arah, pola dapat diletakkan bersilang (menghadap 2 arah yang berlawanan)
  2. Motif garis/kotak

Motif bahan harus ditemukan kemudian disemat dengan jarum pentul pada beberapa tempat agar bahan (motif) tidak bergeser. Pola diletakkan pada bahan dan disemat dengan jarum pentul dijahit motif garis dan kotak terus bersambung.

Tekstur bahan

Bahan tekstil mempunyai tekstur yang berbeda-beda, karena proses pembuatan dan penyempurnaan yang berbeda-beda pula.

  1. Pada bahan yang berbulu, tenunan lepas dan berkilau pola diletakkan denagn posisi satu arah.
  2. Pada bahan yang bertekstur kusam, kasar, dan ditenun dengan silang polos, maka pola dapat diletakkan dengan dua arah.
  3. Pada bahan yang tipis (tembus pandang) penambahan kampuh cukup 1 cm dan untuk kelim dibuat dua kali lebar kelim.

6. Meletakkan pola di atas bahan

  1. Pola-pola yang besar diletakkan terlebih dahulu, biasanya pola besar diletakkan disudut bahan setelah dilipat dua. Baru kemudian pola-pola yang kecil (tata letak pola sesuai dengan rancangan bahan yang sudah dibuat).
  2. Setelah yakin tidak akan ada perubahan, pola disemat dengan jarum pentul. Arah kepala jarum pentul kedalam sedangkan ujungnya menghadap keluar.

7. Memotong bahan

Setelah semua pola disemat diatas bahan dengan benar, bahan dipotong dengan menggunakan gunting bahan. Pada waktu memotong bahan:

  1. Lubang kecil pada gunting berada diposisi atas ditahan oleh ibu jari sedangkan lubang yang lebih besar berada dibawah, ditahan oleh empat jari lainnya.
  2. Posisi tangan kiri berada diatas bahan, menekan agar bahan tidak terangkat, tangan kanan memegang gunting dengan banar
  3. Gunting dibuka lebar-lebar pada tiap kali memotong, agar tepi bahan yang digunting rata.
  4. Bahan tidak boleh diangkat atau diputar posisinya pada waktu dipotong
  5. Yang harus diperhatikan adalah hasil potongan bahan tidak boleh terputus-putus.

Demikian beberapa hal yang dilakukan dalam proses pemotongan bahan, semoga bermanfaat. aamiin.

Dipublikasi di materi belajar | Meninggalkan komentar